Kutatap larik-larik cinta
pada kertas berlatar biru
Senyumku tersimpul ikuti irama
pada bait rindu yang kaurangkai merdu
Kususuri jejak kelabu
Hati-hati kulipat kertas biru
Kutata indah di antara halaman buku
Baru sedikit waktu, lagi kubaca syahdu
Kuhirup lekat wangimu yang tebarkan rindu
Kini, kertas biru kian lusuh
Tinta emasnya meretak tak terasuh
Lukis cintanya sudah tak lagi berkeluh
Namun, wanginya tak henti memeluk tubuh
Kertas biru, engkau umpama denyut nadi
Sebab, henti detaknya adalah mati
Bandung, 5 Juni 2025
Imas Mulyati, kelahiran Garut pada 25 Mei 1971 adalah seorang Pengawas SMA pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Latar belakang pendidikan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Bandung mengantarkannya pada hobi menulis. Karya tunggalnya adalah Jelajah Jiwa (Antologi Puisi Religi), 2025; Untukmu Negeriku, Catatan Cinta Rakyat Jelata (kumpulan esai tentang pendidikan), ISBN: 978-634-7060-14-3, tahun 2025; Gejolak Rasa, ISBN: 978-623-7837-75-6, tahun 2024; Amorphophallus ISBN: 978-623-7837-81-7, tahun 2024; dan Fenomena Bahasa Indonesia: Permasalahan, Pembelajaran, Penilaian, dan Pendeteksian Kecurangan dalam Ujian, ISBN: 978-602-60391-9-4; 2017. Tergabung dalam komunitas penulis: ASIAN WOMEN WRITERS ASSOCIATION (AWWA), Media Guru Indonesia, Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB), Berita Disdik Jawa Barat, Jendela Puspita Indonesia, Asqa Imagination School (AIS #56), dan komunitas lainnya. Telah memperoleh 4 penghargaan kepenulisan: Parasamya Susastra Nugraha 2024, Parasamya Suratma Nugraha 2024, Parasamya Susastra Nugraha 2023, dan Parasamya Suratma Nugraha 2023.