ESAI : Tradisi Kepenyairan Yang Melawan – Husnu Abadi

TRADISI KEPENYAIRAN YANG MELAWAN

Oleh Husnu Abadi

 (1)

Ruang lingkup pembicaraan dibawah judul Tradisi Kepenyairan ini merupakan perkara yang berat dan amat luas. Tulisan pendek ini mengambil sebuah bagian kecil dari samudera yang luas itu, yaitu yang berskala negeri Riau, bahkan lebih kecil lagi yaitu beberapa karya penyair yang terpilih untuk dapat dijadikan contoh. Tradisi kepenyairan yang bermakna luas, seluas alam takambang yang dijadikan obyek tulisan, diambil lagi yang lebih sempit yaitu tradisi yang menjawab dan nelawan   situasi dan keadaan dunia kekuasaan, yang dalam perjalanannya, tidak selalu mencerminkan Raja Yang Adil dan berikut kewajiban rakyatnya, Raja Disembah.  Memang akan selalu saja lahir, termasuk di alam Riau ini,  sekelompok penyair yang berdiri tegak untuk mnunjukkan bahwa dia masih  punya pena. Seolah berkata.. akulah raja dunia.

(2)  

Sebuah laporan jurnalisitik sastra yang dimuat pada majalah Tempo, yang membicarakan sekitar peranan Riau sebagai Bustanil Khatibin (Tamannya Para Penulis), menggambarkan bagaimana Riau sebagai sebuah negeri yang selalu menjadi sumber inspirasi bagi anak negerinya untuk menulis. Tulisan yang ditulis oleh Amarzan Lubis ini, mengantarkan tulisan itu untuk menerima penghargaan Anugerah Sagang Kencana di tahun 2010.  Tradisi kepenulisan yang tumbuh dalam alam Melayu, sejak  pusat  kerajaan Melayu di Pulau Penyengat, senantiasa melahirkan penulis-penulis yang sanggup menjawab tantangan jamannya. Tumbuhnya dan berkembangnya  lembaga pendidikan dari sejak pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, memberikan peluang lebih besar untuk secara terus menerus melahirkan barisan penulis. Para penulis itu lahir dan berkembang ,  berkenan dengan interaksinya dengan dunia luar, dengan komunitas kepenulisan yang  menjamur di semua sudut negeri, dalam lingkungannya ataupun dengan lingkungan dunia, yang kini tak lagi berbatas. Berkat kemajuan teknologi, komunikasi dan cetak, semakin melicinkan jalan untuk  lahirnya generasi penulis.

(3)

Dua dekade di akhir abad 20 (1980-an) dunia kepenyairan di negeri Riau ini, sebagaimana juga di negeri lainnya, terus menerus tumbuh, baik dalam bentuk komunias ataupun penerbitan mass media ataupun buku. Mereka tumbuh karena mereka juga sadar bahwa mereka adalah ahli peradaban dan tradisi kepenulisan yang diturunkan oleh generasi terdahulu, generasi Raja Ali Haji. Kebijakan negara yang mengutamakan pembangunan ekonomi, mau tak mau menggeser pehatian untuk memberikan perhatian yang lebih besar pada pembangunan peradaban dan kebudayaan. Bahkan disana sini, sumber-sumber dimana lahir dan tumbuhnya  kebudayaan menjadi terpinggirkan. Komunitas masyarakat adat bersama hutan-hutannya setahap demi setahap dinafikan dan kesemuanya diabdikan untuk pembangunan ekonomi.  Penulis dan penyair  sebagai wajah masyarakatnya, pun menuliskannya, merekamnya dan sebagian kecil  lainya  melakukan oposisi terhadap kekuasaan yang tidak berperasaan itu. Seberapa besar perhatian penyair dalam tradisi kepnyairannya bersedia mengangkat tema-tema yang bernuansa  politik? Beranikah mereka melakukan opposisi terhadap kekuasaan yang begitu perkasa?  Bagaimana cara mereka menuliskannya?  Mengeluh, mengaduh, menangis, merenung akan ketidakadilan ataukah dengan perkasa menuliskannya dalam penentangan ?

(4) 

Sekitar tahun 1982, saya menulis di halaman budaya harian Pelita, Ediruslan Pe Amanriza Tanpa Pemberontakan,   sebagai ulasan atas pembacaan sajaknya di Pekanbaru. Tahun-tahun itu merupakan dekade ke dua dari pemerintahan orde baru yang dikenal sebagai rezim yang sentralistis dan repressif. Embrio ketidak puasan telah ditulis oleh sejumlah penyair saat itu:

Ediruslan Pe Amanriza (Di Riau, kami tak sempat lagi bernyanyi), Dasri almubari (Balada Sang Orang-orang Pinggiran),    Tien Marni (Indonesia pulangkan aku, kenegeriku dulu), Ibrahim Sattah (Ambillah terima kasihku Indonesia….. sebelum aku tiba-riba merasa malu mengenangmu), Fakhrunnas (Di Rupat kini  betapa sulit cari lahan buat pabrik kecap…sayurpun didatangkan dari Melaka), Idrus Tintin (karena takut disebut kampungan/makyong rabab randai mamanda gazal zapin…dicampakkan ke pinggir air/digantikan seni orang Eropa), Aries Abeba (tinggal sebotol minyak/sedang kota ini kota minyak/tinggal api lilin/api arang api miskin api malang  nan tak kunjung padam).  

Kegelisahan para penyair itu, sebagai tradisi dari kepenyairannya yang selalu gelisah atas alam negerinya,  ditutup dengan puncak kejengkelan seperti yang dilukiskan oleh Ediruslandi awal masa reformasi, dimana daerah-daerah di Indonesia melepaskan belenggu perangkap kekuasaan yang sentralistis dan menindas. Ediruslan Pe Amanriza menulis (Akan berpisah juga kita akhirnya, Jakarta/ tatkala semangat Hang Jebat/di jiwa kami/kembali membara/2001).

(5)

Bagaimana dalam  20 tahun di awal abad ke 21 ini? Generasi baru lahir,  anak-anak muda semakin banyak yang menulis dan membangun tradisi mereka sendiri, sebagaai respon atas zaman yang baru. Perkembangan teknologi dan komunikasi yang mudah dijangkau, memberikan keleluasan dalam mewujudkan apa yang ada dalam pikiran. Banyaknya antologi puisi, yang dihimpun dan diupayakan  secara gotong royong  semakin tak terbendung, hal itu terjadi di kota-kota di Indonsia, termasuk juga di Riau. Partisipasi semakin meluas. Tema-tema yang diangkatpun  senantiasa bersifat universal, tak lekang oleh waktu,   seperti pengalaman batin, interaksi sesama, alam, sungai, laut, Tuhan, termasuk juga perkembangan alam sekitar yang meresahkan.  Antologi Puisi 999, yang merupakan kumpulan puisi dari 143 penyair Riau, Yayasan Sagang, 2018, memuat 999 puisi. Dari jumlah itu bagaimana dengan tradisi kepenyairan yang bercirikan kritik sosial ataupun yang lebih ekstrem lagi  yang  dikenal sebagai puisi-puisi yang  melawan, bagaiaman semua ini  diekspresikan, khususnya untuk puisi yang diterbitkan dalam dua puluh tahun ini  ?

Sejumlah penulis telah mengekspresikan kegelisahan atau sikap batinnya dalam merespon keadaan sekelilingnya, yang dinilai sebagai  sebuah kerusakan ataupun ketidakadilan.  Hal ini seperti dinyatakan oleh beberapa penyair berikut ini.

Asrizal Nur (kampanye muslihat/ kau janjikan kami jadi jembatan pembangunan/tapi masih saja hanya pijakan/kau janjikan kami jadi pilar rumah kemaslahatan/Cuma hamparan kemiskinan/2009).

DM Ningsih (ini hari di belantara hutan/perih menerkam setiap rentak tarian kubu/tanah adat terampas lepas dan pilu/ apalagi hendak disayang/penjajah kini saudara semoyang/2012).

Elmustian Rahman (Pagi. Luluhkan malam/yang berkhidmat dan bersyukur/Riau yang mana  yang engkau mau/ atas atau bawah yang memberimu kesenangan/bagiku segumpal dendam/ rasa yang kasat mata/telah melahirkan harimau dalam darahku/).

Kunni Masrohanti (tentang hutan kami yang habis/…/ semua pendatang masuk menembus paruparunya/membabat semua yang terlihat/…/suatu hari menjelang senja di tengah Giam/rimba raya menangis/alirkan bertonton kepedihan/ …/aku menungganginya sambil berlari/menghitung kepunahan demi kepunahan/2016).

Musthamir Thalib (bila presiden selalu berjudi/bangsanya senewen jadi pemimpi/../gubernur yang banyak menjual hutan dan lahan/sengsara panjanglah anak cucu di hari kemudian/apabila walikota mainan rasuah/banjir melimpah, bandar pun  bersampah/)

Muchid Albintani (klaim penguasa selalu atas nama demokrasi/ semua pontensi dibagi-bagi/ sejengkal saja buat tanah kuburku/mereka enggan berbagi).

Ramon Damora (ada dua puluh tujuh juta/rakyat miskin terlubta-lunta/ dalam angpao Indonesia/satu kaki mereka mengangkang/dekat tiang bendera)

 TM Sum (bertahun-tahun kalian bangun/istana kegelapan/ di atas puing-puing/ derita kami/ …/kami bukan sapi perahan/yang diperas pagi dan petang/sehingga tinggal kulit/pembalut tulang/2017/……/ kami sebenarnya/orang-orang yang tersingkir/suara kami tak didengar/ karena telah kalah dengan suara/pidato dan kaampanye/ 2017)

Selain itu, beberapa penyair dalam antologi puisinya yang lain, tetap bersuara yang cukup kritis pada lingkungan yang ada ataupun pada kekuasaan.

Hang Kafrawi (mak, anak kami mati tersedak/mulutnya hutan yang hangus/berhektar-hektar mimpi terbakar/../semuanya jadi api/2007),

Taufik Ikram Jamil (adapun Minas sampai Houston Texas/ kami layani dalam mimpi/betapa petro dollar adalah bagian tersendiri/ yang tak kenal rumus pembagi/daulat pun telah hampir menjadi dongeng/../ hingga negara bisa saja membelakangi rakyat).       

(6)

Secara umum, terlihat tradisi kepenyairan yang telah saya ulas dan kutip diatas, berdasarkan tema-tema yang ditulis, merupakan sebagian dari tradisi yang hidup dan terus hidup di kalangan para penyair. Bersikap kritis pada lingkungan memang merupakan gejala umum setiap penulis, namun meningkatnya kadar kritis menjadi sebuah tradisi melawan kekuasaan, sebetulnya hanya terjadi dan hanya ditulis dalam kondisi yang ekstrem dan melampau !

Hal ini mengingatkan publik  pada penyair burung merak, WS Rendra (Pamflet Pembangunan) yang berisikan puisi-puisi perlawanan terhadap kekuasaan, dimana kekuasaan telah  disalah gunakan dengan cara-cara  repressif dan  membungkam perbedaan pendapat dan menindas kebebasan.     

                                                                                                                                                2019

Tulisan ini berasal dari  Pokok- pokok pikiran yang  ditulis penyair Husnu Abadi,  untuk dialog sastra pada Festival sastra International Gunung Bintan (FSIGB)  2019 yang lalu di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.  Penulis adalah  seorang deklarator hari puisi Indonesia yang dicetuskan di Pekanbaru Tahun 2012 dan seorang pensyarah pada FH UIR dan Program Pascasarjana Ilmu Hukum UIR, sejak 1985.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan