Novel Sejarah dan Permasalahannya: Catatan Rida K Liamsi

159

Mengapa  saya menyukai sejarah, khususnya sejarah Kemaharajaan Melayu sebagai sumber penulisan novel saya?  Sampai saat ini saya sudah menulis 6 novel sejarah, baik dalam pengertian  novel murni, maupun narative history atau  cerita sejarah (Prasasti Bukit Siguntang, Megat, Bulang Cahaya, Mahmud Sang Pembangkang, Selak  Bidai Tun Irang, Luka Sejarah Husin Syah, Hamidah, dan Lanun Alang Tiga).    Bagi saya, selain karena peristiwa sejarah itu menarik dan kaya dengan sisi kehidupan  yang dramatis yang sangat diperlukan  untuk penulisan sebuah novel, tapi juga karena peristiwa sejarah selalu menyediakan misteri dan sisi menarik untuk digali, dieksplor dan ditafsir ulang.

Menarik untuk menjadi bahan yang bisa diajak  bermain-main. Diajak berandai-andai  dan juga diperbagaikan. Ini yang dikatakan sastrawan HJ (Hasan Junus) sebagai bermain dengan  bahan. Selalu ada methahistoria yang menjadi liang bagi lahirnya gagasan cerita yang bukan seperti cerita yang sudah lama ada. Selalu punya celah untuk dipersoalkan dan mengundang keterkejutan. Oh ya? Dan lain lain  keterkejutan cerita.

Novel saya, Bulang Cahaya, misalnya  adalah sebuah novel yang berangkat dari methahistoria itu. Saya telah mengeksplore  berbagai peristiwa sejarah di Kerajaan  Riau Lingga, dengan mengusung sebuah  methahistoria dan permainan  bahan: Andai kata Raja Djaafar tidak jatuh  cinta pada Tengku Buntat, akankah Singapura lepas dari tangan Sultan Riau Lingga dan berpisah  dengan Kepulauan Riau atau sebaliknya?

Pertanyaan historikal  inilah yang menjadi sumber  penulisan novel itu. Juga dengan beberapa novel yang lain. Selalu ada methahistoria dan peluang untuk bermain-main dengan bahan. Peluang penafsiran ulang, peluang mencari dan meriset untuk menemukan sesuatu yang belum pernah terdedah. Jejak sejarah.

Bagaimana sumber atau  bahan bahan penulisan novel itu diperoleh? Riset dan riset. Novel sejarah memang menghendaki kerja riset yang lebih banyak dan lama. Bahkan terkadang memakan waktu yang  panjang dan lama. Novel Megat misalnya sekitar 5 tahun  lebih. Bukan cuma riset pustaka, tetapi juga riset lapangan. Misalnya mencari jejak orang bunian di Gunung Bintan dan Gunung Daik.

Riset juga diperlukan untuk menjaga agar semangat sejarah dan locus dilektinya tidak tercerabut. Jejak sejarahnya harus tetap ada dan bisa diraba dan dihidu.

Riset juga untuk menemukan sosok dan tokoh sejarah yang akan  menyadi karakter  utama cerita. Sejarah adalah tokoh. Tokoh yang dalam hudupnya penuh drama dan tragedi. Yang melalui penafsiran ulang boleh  didesain dan dimasak ulang sebagai sebuah cerita. Hakikat novel adalah cerita.

Apakah novel sejarah itu bisa jadi  buku sejarah? Tentu saja tidak, setidaknya secara teoritis  menurut ilmu kesejarahan. Novel, bagaimanapun  adalah karya fiksi, yang faktor imajinatif dan  rekayasa lebih dominan. Sementara buku sejarah adalah karya teks dan  ujud fisik,  karena sandarannya adalah fakta dan dokumen sejarah. Hasil  penggalian  arkeologi, eskavasi, dan kerja kerja ilmu kesejarahan lainnya.

Tulisan Terkait

Puisi-Puisi Qinoy

Berita Lainnya

Tapi novel  novel sejarah yg lebih  muthahir sudah makin mendekati kaidah  sebagai buku sejarah. Tak heran kalau  buku buku novel  sekarang ini semakin  dekat dengan peristiwa sejarah. Bahkan banyak novelis yang sengaja menyertakan jurai silsilah para  tokohnya, meskipun tetap selalu ada sosok dan tokoh fiksi yang muncul dan berperan sebagai penggerak  dan penjaga alur cerita. Juga sejumlah catatan kaki dan daftar pustaka.

Lalu, apa kekuatan sejarah Kerajaan Melayu sebagai sumber  penulisan novel? Pengkhianatan dan intrik politik. Keculasan dan juga pembentukan nilai atau filosofi baru.  Sementara kisah percintaan termasuk  sangat sulit dan sensitif untuk diekplore karena  menyangkut  etika dan moral hidup orang Melayu dan agama Islam.  Sejauh ini masih termasuk sisi yang sensitif.

Tapi selalu ada celah kehidupan yang romantis yang selaku jadi misteri dan tersembunyi yang harus ditafsir ulang dengan hati-hati. Misalnya kisah cinta Raja Djaafar dan Tengku Buntat dalam novel Bulang Cahaya, atau Mahmud Melaka dengan Tun Fatimah, atau Raja Hamidah dan Sultan Mahmud Riayat Syah, dan lainnya.  Karena itu banyak penulis novel memilih jalan lain untuk mengaitkan cerita sejarah dengan novelnya, dengan memakai tokoh lain, tokoh yang diciptakan untuk melakoni jalan sejarah. Novel-novel almarhum Tusiran  Suseno (Kepri), Mohd Thalib  dan Faisal Tehrani (Malaysia), dan lain-lain.

Apa visi dan misi ideal novel sejarah? Meluruskan jejak sejarah, karena  seorang novelis bisa lebih netral dalam membangun sudut pandang dibanding para penulis yang  istanasentris karena ada beban politis yang harus dipukul, meskipun  novel sejarah bukanlah buku sejarah. Tapi  cerita sejarah, sebagai mana hikayat, syair dan lain-lain, terbuka untuk ditafsirkan sebagai sumber tertiers, sebagai sastera sejarah. Hikayat Hang Tuah misalnya meski selalu ditolak sebagai  sumber sejarah, dan dianggap mitos dan legenda, dan hanya sebuah karya sastera sejarah, tapi  adanya sebuah catatan  tahun hijriah  886  di dalam hikayat itu, yang jika dikonversi ke tahun masehi adalah tahun 1481 dan tahun itu dikatakan peristiwa Hang Tuah naik Haji, maka fakta itu sudah sulit untuk ditolak, apalagi setelah ditemukannya catatan Okinawa yang semasa dengan peristiwa itu. Hang Tuah fakta sejarah, dan bukan lagi mitos dan legenda. Sama halnya dengan  Sulalatus Salatin atau Tuhfat Al Nafis.

Novel sejarah juga bisa menjadi  media pembelajaran sejarah yg mudah diterima para  pembaca muda, karena mereka jenuh  dengan cara penyajian teoritis dan  catatan kaki. Karena itu narative history bisa menjadi genre prosa yang  baru dalam sastera. Karena  menjadi karya bauran antara fiksi dan fakta sejarah.

Beberapa buku saya, seperti Mahmud Sang Pembangkang, Selak Bidai, Luka Sejarah Husin Syah dan lain-lain telah saya tulis dengan semangat narrative history. Meskipun belum tentu juga fakta sejarah yang ada dalam novel itu faktual, karena sejarah selalu ditulis  ulang dan terus diperdebatkan, seperti yang pernah dikemukakan  sejarawan Prof. Susanto Zuhdi. Mungkin tokohnya sama, katakanlah Raja Hamidah, tetapi  peran sejarahnya dalam sebuah novel bisa berlebih dan bisa juga berkurang. Narrative  history karena itu tetaplah karya fiksi.

Apa masalah terbesar novel sejarah ? Bisa  menimbulkan luka sejarah  baru karena selalu masih ada pihak pihak yang sulit menerima novel sejarah  sebagai karya fiksi, sebagai karya sastra. Bingkai pemikiran sementara pihak  sudah dipaku oleh anggapan, semua karya yang berlatar sejarah, adalah sebuah sejarah. Pemikiran yang  sudah berakar sejak zaman syair dan hikayat. Penafsiran atau pembelokan peran seorang   tokoh sejarah dalam sebuah novel, selalu  menimbulkan perlawanan. Tokoh sejarah selalu dianggap tanpa cela, apalagi kalau sudah dinobatkan sebagai pahlawan. Tak boleh diutak-atik, apalagi ditafsir ulang, meskipun sudah melewati 100 tahun dan ditemukan catatan dan dokumen kesejarahan yang baru. Peristiwa dan keberadaan tokoh tokoh sejarah  itu  sudah menjadi sesuatu yang purbakala dan suci. Sudah seperti istana yang pernah dibangunnya, tesergam dan semua cerita terperam di sana.

 

2020/2021/2024

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan