
Mengapa Saya Menjadi Pramugari (Bagian Kedua dari 2 tulisan)
Mengapa Saya Menjadi Pramugari (Bagian Kedua dari 2 tulisan)
COBA saja daftar ke Garuda, siapa tau diterima.., pikirku. Tapi lamunanku buyar seketika. Salah seorang keluargaku, Bang Yus datang ke rumah.
“Ah gak diterima Bang..Jadi pramugari kan harus bisa bahasa Inggris..Lah aku saja baru tamat SMA, kuliah baru 2 bln ..gimana bisa..,” kataku.
Pikiranku melayang saat sekolah dulu. Suka bolos kalau pelajaran Bahasa Inggris. Aku dan beberapa teman pernah dihukum…karena sering bolos dan tidak mengerjakan PR Bahasa Inggris. “Stand up you.!’ begitu suara Pak Tampubolon yang mengajar guru Bahasa Inggris) yang masih kuingat sampai sekarang.
“Mencoba kan tidak salah..,” begitu suara bang Yus menasehati sambil pamit pulang.
Beberapa lama aku tidak mengubrisnya, hingga akhir waktu yang ditentukan. Dengan berat hati aku ditemani tetangga sebelah rumah mendaftar ke kantor Garuda di Jalan Brigjen. Katamso, Medan.
“Mau daftar dek?” tanya petugas begitu aku masuk ke Kantor Garuda. Lelaki itu tampak menyelidik siapa yang akan mendaftar karena kami datang berdua.
Dengan santai kujawab, “Iya…saya yang mau mendaftar… ..ini mau mengisi formulir.”
“Lengkapi datanya ya. Besok pendaftaran ditutup..tapi nanti kalau keterima kurusin sedikit ya,” kata petugas Garuda itu sambil tertawa.
Sebetulnya berat badanku tidak terlalu gemuk, cuma kelebihan 1 kg.
Keesokan harinya aku datang dengan membawa lengkap syarat yang diperlukan.
Pikirku, coba- coba cari pengalaman. Paling bila tidak lulus, setidaknya aku pernah mencoba. Jadi karena berpikir tidak akan lulus maka aku jalani dengan santai. Hari pertama, tes tertulis.
Setelah diumumkan ternyata aku lulus dan kemudian lanjut untuk interview (ujian lisan). Setelah dinyatakan lulus tahap selanjutnya tes kesehatan. Setiap tahapan ada saja temanku yang tidak lulus. Salah satu peserta, seorang temanku, terlalu percaya kalau dia akan lulus, terlalu percaya diri. Belum dinyatakan lulus, dia sudah memotong rambutnya yang panjang menjadi pendek sesuai ketentuan yang berlaku.
Hal itu membuat dia menyesal karena ternyata dia tidak lulus. Karena ada syarat yang harus diikuti apabila dinyatakan lulus untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan seperti rambut dipotong pendek sedikit dibawah telinga. Yang akhirnya nanti ada aturan baru lagi mengenai rambut.
Sampailah pada tes terakhir…Aku dinyatakan lulus dan tinggal menunggu tes kesehatan.
Setelah semua rangkaian testing dilaksanakan, aku dinyatakan lulus dan menunggu jadwal keberangkatan ke Jakarta.
Setelah beberapa hari menunggu tanpa kepastian aku putuskan untuk pulang ke tempat orangtua di Bagansiapi-api. Kebetulan waktu itu menjelang Lebaran, dan kuliah juga libur.
Seminggu setelah lebaran aku kembali ke Medan. Sesampainya di rumah, tetangga sebelah menyampaikan surat dari Garuda yang telah kumal, karena tidak ada orang dirumah. Surat itu diambil dan disimpannya. Isinya: aku harus berangkat besok ke Jakarta dan melapor ke Kantor Garuda untuk pengurusan tiket. Hari itu juga tanpa rasa lelah meski baru sampai di rumah, aku langsung ke kantor Garuda. Aku harus melengkapi persyaratan berupa surat kelakuan baik.
Mengingat hari sudah sangat sore ..dan jam kantorpun sudah hampir tutup. Aku minta penangguhan keberangkatan.
Sebenarnya Mami tidak memberi restu aku berangkat ke Jakarta. Tapi Papi tetap memotivasiku dan mengizinkan aku berangkat ke Jakarta. Perasaanku begitu bahagia karena dua hal: pertama, aku bisa ke Jakarta dan kedua, aku bisa naik pesawat. Tapi dengan catatan aku harus pulang setelah tiga bulan mengikuti short course. Aku janji akan pulang setelah mengikuti kursus tersebut
September 1980
Pesawat DC 9 yang membawa aku dari Medan mendarat di Bandara Kemayoran. Alangkah senangnya aku, selama perjalanan hampir tiga jam ..tak hentinya aku melihat lihat ke bawah dan ingatanku kembali beberapa tahun yang silam ….yang kini dengan izin Allah terwujud…Alhamdulillah.
Aku ikut pelatihan/ kursus masuk angkatan 113. Pada angkatan aku ini ada peraturan baru bahwa kami mendapat uang saku, selama mengikuti pelatihan yang sebelumnya tidak ada.
Selama tiga bulan kami digembleng dan belajar dengan disiplin yang ketat dan juga mendapatkan pelajaran lainnya seperti pengetahuan umum, kepribadian, bahasa Ingris, dan pengenalan/ mempelajari atribut pesawat seperti galley, pantry, trolley dan istilah lainnya.. Juga cara- cara penyelamatan
penumpang (Flight Safety).
Tiba akhirnya kami mengikuti ujian akhir tertulis. Satu temanku ada yang tidak lulus. Yang lulus dilanjutkan dengan training/ praktik kerja selama dua minggu yaitu dengan mengikuti flight training (praktek kerja dengan mengikuti jadwal terbang) setiap hari
pergi pagi pulang sore yang kita sebut jadwalnya one day trip.
Waktu pertama kali bekerja di udara sangat berbeda dengan bekerja di kantor. Aku harus menyesuaikan tekanan udara di dalam pesawat, belum lagi perasaan mual kalau cuaca lagi tidak bagus (bad weather) dan goncangan lainnya. Hal ini tidak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya.
Setelah dua minggu training…tibalah saat pengumuman kelulusan. Aku yakin lulus tapi janji dengan Mami harus pulang, karena sejak awal tidak mengizinkan untuk bekerja sebagai pramugari.
Satu orang lagi temanku tidak lulus setelah flight training. Jadi setiap rangkaian tes ada ujiannya.
Yang paling sedih setelah semuanya selesai ada yang tidak lulus karena hasil tes kesehatannya yang tidak bagus. Ada juga tidak lulus karena attitudenya.
Antara senang dan teringat pesan Mami, aku harus terus terang kepada kedua orangtuaku. Akhirnya setelah aku terangkan soal kelulusanku, dengan terpaksa Mami menyetujuinya. Waktu itu kubilang dengan alasan aku kerja sambil jalan- jalan dan juga pengin pergi ketanah suci, bisa umroh dan bisa menunaikan ibadah haji. Begitu semua keinginanku tercapai, setelah kontrak berakhir aku tidak boleh perpanjang lagi. Akhirnya orang tuaku membolehkan.
Aku menandatangani kontrak kerja sebagai pramugari Garuda selama empat tahun. Apabila kondite bagus bisa diperpanjang atau apabila masih diperlukan oleh maskapai.
Selama kontrak kerja, tidak boleh menikah. Apabila kontrak belum berakhir, ada yang mengundurkan diri maka dikenakan ganti rugi biaya selama pendidikan dengan jumlah yang lumayan besar dalam perhitunganku kala itu.
Setelah pertamakali menandatangani kontrak kerja 1 Desember 1980..aku dinyatakan resmi menjadi pegawai kontrak selama empat tahun.
Tapi di tahun ke-5, perpanjangan kontrak untuk kedua kalinya, aturan berubah. Kami dengan kondite bagus diangkat menjadi pegawai tetap dengan aturan yang lebih baik buat kami pegawai perempuan.*