Fakhrunnas Menceritakan Pengalaman dan Anekdot Sastrawan Fakhrunnas MA Jabbar: oleh Fakhrunnas MA Jabbar

60
Fakhrunnas masa mahasiswa dan masa kini

RASANYA akulah orang yang paling akrab dan dekat dengan Sastrawan Fakhrunnas MA Jabbar. Bahkan lebih dekat dibandingkan istrinya sendiri. Soalnya waktu sastrawan ini masih dalam kandungan ibunya, aku sudah kenal dekat. Aku tahu apa yang ada dalam pikirannya. Aku juga tahu apa cita-citanya.

Inilah ceritaku tentang pengalaman lucu tokoh sastra ini:

Menjadi sastrawan tak hanya membuat namanya tertera di halaman koran atau majalah, tapi juga bisa menyelamatkanmu dari razia polisi. Itulah yang dialami sastrawan Fakhrunnas, sekitar tahun 1980-an. Suatu hari ia membonceng sahabatnya, T. Iskandar Johan, sesama dosen di Universitas Islam Riau (UIR) naik sepeda motor. Saat itu, di perempatan Jalan Sudirman dan Harapan Raya, Pekanbaru, berlangsung razia oleh polisi lalulintas (polantas).

Semua pengendara diwajibkan memakai helm. Masalahnya, sahabat yang dibonceng, Iskandar, tidak mengenakan helm.
Ketika motor mereka dihentikan, seorang polantas muda langsung meminta tunjukkan surat dokumen seperti SIM dan STNK. Begitu dia membaca nama pada SIM: “Fakhrunnas MA Jabbar,” sikap sang polisi mendadak berubah.

“Wah, Bapak Fakhrunnas ya? Saya sering baca puisi dan cerpen Bapak di majalah. Sekarang lagi nulis apa, Pak?” tanyanya dengan semangat.

Fakhrunnas hanya tersenyum dan menjawab seadanya. Perbincangan berubah dari soal surat kendaraan menjadi diskusi sastra. Sang polisi tampak begitu antusias. Lalu ia membuat keputusan bijak.

“Kalau begitu, Bapak lanjut aja. Tapi kawan Bapak jalan kaki dulu sebentar, nanti naik lagi di depan.”
Sambil mengucapkan terima kasih, mereka pun melanjutkan perjalanan. Selamatlah dari tilang, berkat seorang polisi yang juga pecinta sastra.
Kadang, popularitas seorang penulis bisa menjadi pelindung dadakan di tengah jalan raya!

Dua tahun setelah kejadian lucu itu, nasib tak begitu berpihak Fakhrunnas. Kali ini dia menerobos lampu merah. Ditilanglah ia oleh seorang polisi muda, dan SIM-nya ditahan.

“Silakan ambil SIM ini di Mapolres Pekanbaru,” kata si petugas.

Siang harinya, dengan langkah cepat, Fakhrunnas menuju Mapolres. Di tangannya tergenggam kantong plastik berisi salinan naskah novelet berjudul Prianti, yang baru saja dikirimkan ke penerbit melalui kantor pos.

Sampai di kantor polisi, seorang petugas jaga menerima kedatangannya.

“Nama, Pak?”
“Fakhrunnas MA Jabbar.”
“Ooo, Bapak yang suka nulis itu ya? Sekarang nulis apa lagi, Pak?”
“Baru menyelesaikan novelet,” jawabnya sambil menunjukkan kantong plastik berisi lampiran kertas.

“Oh… itu noveletnya? Wah, saya pinjam dulu ya, Pak. Mau saya baca. Seminggu saja”

Fakhrunnas agak ragu. Sebab itulah satu-satunya salinan karbon mesin tik. Tapi Briptu Indrajaya—nama sang polisi muda itu—meyakinkannya akan mengembalikan setelah waktu seninggu.

“Tenang aja, Pak. Urusan SIM Bapak aman. Catat aja nama saya.”

SIM berhasil ia ambil kembali. Tapi sejak itu, babak baru dimulai: pengejaran satu arah terhadap Indrajaya menjadi peristiwa dramatik.

Seminggu kemudian, Fakhrunnas datang lagi ke Mapolresta untuk mengambil naskahnya. Tapi Indrajaya tak ada.

Seminggu kemudian datang lagi. Masih belum ada. Sebulan kemudian. Nihil.
Tiga bulan. Tak membuahkan hasil.

Akhirnya, enam bulan kemudian, Fakhrunnas datang kembali. Dengan penuh harap ia berkata, “Saya mau ketemu Briptu Indrajaya.”

Petugas polisi yang piket menjawab dengan ekspresi datar, “Bapak cari Indrajaya?”

Berita Lainnya

“Iya. Dia meminjam novel saya hampir setengah tahun lalu.”

Petugas itu menarik napas. “Bapak tak usah cari dia lagi.”

“Kenapa?”

“Indrajaya… sekarang di Selatpanjang. Kabarnya… dia sudah gila.”

Fakhrunnas terdiam. Terhenyak. Tak tahu harus tertawa atau bersedih. Sebab tak jelas juga penyebab gilanya sang polisi. Jangan-jangan akibat membaca novel tentang Prianti yang bekerja sebagai PSK di sebuah komplek pelacuran. Sejak itu, ia harus merelakan Prianti, sang novelet, ikut raib bersama ingatan Briptu Indrajaya yang malang.

Ternyata Fakhrunnas juga mengalami kejadian demi kejadian lucu sekaligus getir dalam hidupnya. Bahkan sejak masa SMA di Bengkalis, ia sudah menulis novel. Karyanya yang berjudul ‘Cinta Pembawa Korban’ yang ditulis ketikan ukuran A4 lipat dua dijilid rapi juga tak panjang umurnya. Di tengah rasa cemburu seseorang, naskah itu lenyap begitu saja. Dibuang entah ke mana.

Beberapa tahun kemudian, saat masih mahasiswa di Fakultas Perikanan Universitas Riau (Unri(, ia menulis novel lain berjudul Kupetik Senyum di Bibirmu. Novel ini cukup beruntung karena dimuat bersambung di harian Haluan di Padang. Namun, nasib malang kembali menghampiri. Fakhrunnas menuliskan beberapa nama tokoh dalam novel itu persis seperti nama orang asli yang dikenalnya.

Tentu saja, reaksi dari pihak keluarga yang merasa “diangkat” dalam cerita itu tidak menyenangkan. Pihak keluarga yang disebut dalam cerbung itu mengajukan keberatan dan menuntut agar cerita bersambung itu dihentikan. Terjadilah rapat dua keluarga yang saling berhadapan. Keputusan rapat, cerbung itu harus dihentikan padahal sudah mencapai hari ke-39.

Fakhrunnas pun segera menghubungi lewat telepon kantor, sastrawan Papa Rusli Marzuki Saria, redaktur budaya Haluan, Padang.

“Tak bisa secepat itu cerbung dihentikan,” jawab Papa Rusli dengan bijak. “Pembaca sudah terbentuk. Kita harus siapkan penghentian secara bertahap.” Papa Rusli terkesan kesal. Sebab kabarnya dalan beberapa bulan sebelumnya ada juga kasus yang hampir sama: penghentian cerita yang dimuat di Harian Haluan.

Akhirnya, cerbung itu benar-benar dihentikan. Tapi tidak langsung. Masih harus dimuat selama lima hari lagi, sebagai bentuk “pamit” dari pembaca yang setia mengikuti kisahnya. Begitulah, naskah kedua pun tamat riwayatnya.

Waktu bergulir. Tahun-tahun berlalu. Sekitar lima belas tahun lalu, dalam sebuah acara nongkrong di tepian Sungai Siak, Pekanbaru, bersama sastrawan Gol A Gong, Ahmaddin Yosi Herfanda dan beberapa orang lagi, Fakhrunnas berbagi cerita tentang nasib tragis ketiga naskah novelnya yang tragis itu: cerita tentang naskah hilang bersama polisi yang kini gila, tentang naskah yang dibuang karena cinta yang cemburu, dan tentang naskah yang dihentikan karena menyebut nama asli tokoh. Semuanya disampaikan dengan nada pasrah tapi juga lucu.

Ahmaddin Yosi, yang dikenal dengan gaya spontan dan jenaka, langsung menanggapi dengan ide segar.

“Fakhrunnas, mending bikin novel baru aja. Judulnya: Nasib Tragis Tiga Novelku.”

Tawa pun meledak di tepian sungai. Semua yang mendengar ikut tertawa terbahak. Sungguh, hanya sastrawan yang bisa menertawakan nasibnya sendiri dengan begitu santai.

Kisah-kisah di atas menunjukkan sisi lain dari seorang sastrawan. Tak melulu serius dan puitis. Kadang-kadang, mereka juga harus berhadapan dengan kenyataan yang konyol, pahit, bahkan absurd. Tapi bukankah dari situlah bahan cerita berasal?

Sejak kejadian itu, Fakhrunnas memang tak pernah berniat lagi menulis novel atau cerita panjang. Sastrawan kelahiran Riau, telah menulis cerpen, puisi, dan esai selama lebih dari empat dekade. Ia adalah saksi hidup dari geliat dunia sastra di berbagai kota, dari Pekanbaru hingga luar negeri seperti Seoul, Leiden, Paris dan terakhir Baku (Azerbaijan) tahun 2019. Tapi di balik puisi yang mengalir indah, ada cerita-cerita lucu, getir, dan kadang nyaris tak masuk akal yang menjadi bagian dari perjalanannya.

Tiga novel—semuanya lenyap sebelum benar-benar menemukan takdirnya. Tapi dari ketiganya, tersisa kenangan, humor, dan pelajaran bahwa menulis bukan semata-mata soal teks, tapi juga soal hidup yang penuh tikungan.

Pengalaman teranyar bulan Juni 2025 ini, waktu Fakhrunnas kontrol kesehatan rutin di sebuah sakit. Berhubung dokter internis langganannya naik haji maka dia berpindah ke dokter lain, dr. Asrizal.
Dokter ini rupanya pernah membaca puisi dan cerpennya.

“Jangan terlalu asyik menulis puisi, kesehatan tubuh harus juga diperhatikan. Ingatkan Bapak ya Buk,” ucap Dr. Asrizal kepada istri Fakhrunnas yang mebdampinginya sambil tertawa.*

Fakhrunnas MA Jabbar adalah sastrawan peraih Anugerah Pengabdian 25 Tahun Sastra Kemendikbud (2024) dan wartawan peraih Press Card Number One (PCNO) PWI, sekarang Pemred Media online Tirastimes.com.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan