Budayawan Hasan Junus, Melayu Temberang: Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

63
Hasan Junus

Budayawan Hasan Junus (Alm) pindah di Pekanbaru sekitar tahun 1983. Kalau tak salah, dia diajak wartawan senior, Bang Rida K. Liamsi dari Kota Tanjungpinang. Waktu itu Rida ditantang untuk menghidupkan suratkabar mingguan Genta yang terancam dicabut SIT (Surat Izin Terbit)nya. Bang Hasan diajak ikut menjadi redaksi koran tersebut. Saya diajak bergabung bersama Suryanto untuk mengelola koran lokal ini. Kami berdualah yang jadi redaktur sekaligus wartawan mencari berita. Saya menangani berita-berita umum, politik dan sosial budaya. Sementara Suryanto mencari berita kriminal dan kasus-kasus.

Apabila Bang Rida harus kembali ke Tanjungpinang, otomatis Bang Hasan sebagai Redaktur Pelaksana menggantikan tugas Bang Rida. Hasan memang pernah punya pengalaman mengelola penerbitan media di Tanjungpinang meskipun media sastra budaya di antaranya Sempana.

Suatu kali Bang Hasan memimpin rapat redaksi. Masing-masing kami mengajukan berita yang berhasil diliput. Suryanto meliput berita kasus oknum Kades yang ‘menggagahi’ seorang warganya yang berhasil digerebek warga. Yanto-panggilan akrabnya- memberi judul agak vulgar: ‘Oknum Kades ‘Naik ke Bulan’ Bersama Warganya hingga Hamil.’

Dasar budayawan, Hasan mengubah judul beritanya yang lebih humanis menjadi;
‘Oknum Kades ‘Memaksakan Kehendak Tubuh’ dengan Warganya.’ Kami berdua langsung membantah.
“Bang, kalau begitu judul beritanya bisa-bisa tak dibaca oleh pembaca,” kata Yanto. Akhirnya Hasan memaklumi dan judul berita tak jadi berubah.

Cukup lama saya berkawan dengan Bang Hasan. Padahal usia kami terpaut lebih 10 tahun. Waktu itu kami sama-sama lajang. Hampir tiap hari saya bersama Bang Hasan. Sering pula saya tidur di rumah kontrakannya. Pasalnya, waktu itu kami punya kebiasaan begadang mulai jam 23.00 WIB di kawasan ‘Cikapunduang‘ jualan nasi kaki lima di pusat pasar kota Pekanbaru. Kami sampai ‘berutang’ 1-2 hari di penjual nasi Padang langganan yang sering kami panggil ‘Pak Tua

Sejak dulu, Bang Hasan boleh disebut Melayu Temberang. Sikapnya garang dan sementung apabila sedang marah atau tak sedap hati. Banyak kejadian-kejsdian menarik yang saya alami bersama Bang Hasan.

Bang Hasan pernah menasihatiku, kalau sudah beristri, jangan mau ‘takluk’ dengan istri.

“Laki harus lebih garang dari bini. Nanti kalau sudah bebini, kalau awak datang ke rumahku, aku akan panggil bini: Biniiii…! Bikin kopi untuk Fakhrunnas…”, ujar Hasan sambil tertawa.

“Masak Abang berani begitu?” tanggapku.

“Awak tengoklah nanti..” sahut Hasan tak mau kalah.

Akhirnya kami sama-sama menikah walau pun saya lebih dulu lima tahun. Bang Hasan pun menikahi Gadis Melayu, Syarifah yang akrab dipanggil Kak Ifah. Sebulan setelah ia menikah, aku bertamu sendirian ke rumah Bang Hasan. Seperti biasa, Bang Hasan betah di rumah karena biasanya membuat tulisan atau kajian dengan mesin tik.

Berita Lainnya

Waktu saya sudah lebih kurang setengah jam, saya tak melihat ada Kak Ifah di rumah. Lalu saya bilang pada Bang Hasan mengingatkan janjinya dulu

“Bang, kata Abang dulu, kalau aku datang akan teriak: Biniii, buatkan kopi untuk Fakhrunnas..”. Mendengar suara saya agak keras, Bang Hasan langsung berdiri dan bilang:

“Sssst..jangan kuat-kuat, dengar oleh Kakak nanti..”.
Tiba-tiba kami sama-sama tertawa lebar

Pernah pula, kami berdua pergi ngopi di kedai kopi Cina ‘Cocacola‘ langganan di Jalan Juanda, kawasan Pasar Tengah. Seperti biasa, kedai kopi itu padat sekali sehingga kami kebagian duduk di kursi paling jauh di dalam. Kami memesan dua kopi hitam dan makanan. Karena orang terlalu ramai sehingga baru dilayani hampir setengah jam kemudian.

Setiap taci -perempuan Cina agak tua- membawa kopi ke arah kami, tapi setelah dekat justru mengantarkannya ke meja lain yang sudah memesan lebih dulu. Mungkin sudah 4-5 kali, taci tadi berbuat begitu. Tiba-tiba Bang Hasan menampakkan temberangnya.

“Nas, nanti kalau Taci ini datang, awak siap-siap. Kita sama berdiri dan pergi dari sini..” Saya mengikut saja.

Tak lama kemudian, Taci itu datang dengan membawa baki kopi ke arah kami. Kami serentak berdiri dan memberi hormat dengan sikap sedia.

“Permisi…!” kata Bang Hasan dengan suara keras. Kami langsung menuju ke luar.
Taci tadi ternganga dan berkata: “Bapak tadi pesan kopi, macam mana pula pergi?”

“Tadi…betul kami mau kopi. Sekarang sudah tidak lagi. Terlalu lama menunggu ..” sahut Bang Hadan.

Kami terus berlalu diiringi umpatan perempuan Cina tus itu.

Hasan Junus di masa produktifnya menulis cerpen, novel dan esai. Pernah menggunakan nama pena Eliza Sondari untuk cerpennya yang bertema feminisme. Tokoh Melayu yang pernah kuliah di UNPAD bersama Bang Sutardji Calzoum Bachri beda fakultas ini menguasai beberapa bahasa diantaranya Inggeris, Prancis, Spanyol dan Jerman. *

Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, MIKom, Ph.D (Cand), sastrawan, budayawan dan wartawan pemegah PCNO, tinggal di Pekanbaru.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan