

Selepas reformasi, Teater Utan Kayu yang didirikan Goenawan Mohammad, menggelar acara diskusi dengan mengundang para personel Majalah Horison. Pemateri diskusi adalah penyair Sitok Srangenge.
Para redaktur Horison berdiskusi, perlu atau tidak hadir dalam acara yang di Utan Kayu itu.
Selain sebagai Redaktur Horison, Sutardji juga dikenal sebagai salah satu Dekan di Universitas Lidah Buaya. Maka sebagai apapun lah, SCB memandang perlu hadir ke dalam acara tersebut. Dan ia pun hadir.
Sitok dengan lancar menyampaikan pengaruh-pengaruh para sastrawan Amerika Selatan, terutama marwah realisme magis dalam sastra Indonesia, antara lain disebut pula nama penyair Pablo Neruda.
Selesai paparan Sitok, SCB langsung menyela.
“Sitok, kau salah itu mengutip paparan tentang Pablo Neruda! Itu tak ada!”
“Ini Bang, aku ngutip dari bukunya Sapardi Djoko Damono!”
“Nah itu, aku sudah bilang ke Sapardi agar mengoreksi itu pernyataannya dalam buku. Itu salah. Repotnya, buku sudah kadung beredar, dan kau jadi kebawa mengutip pendapat yang salah!”
Atas ucapan SCB itu, akhirnya Sitok Srangenge mengoreksi pernyataannya, bahwa ia mengutip hal yang salah dari buku SDD.
Selesai Sitok mengklarifikasi kekeliruannya, SCB berbisik tapi dikeraskan suaranya, ke orang yang duduk di samping SCB:
“Dasar anak kemarin sore, disela sedikit langsung klarifikasi. Itu memang ada dalam buku Sapardi, dan itu benar adanya!” kata SCB sambil ketawa kecil cekikikan.
Nah!