

SUDAH lebih tiga hari saya demam, flu, dan agak batuk. Beberapa agenda perjumpaan terpaksa dibatalkan.
Dua hari kemudian istri teman saya sesama wartawan, Hanafi, meninggal dunia. Saya tidak bisa takziah. Hari ini mendapat kabar pula Ipul (OK Pulsiamitra bin OK Nizami Jamil)–seorang teman seniman yang baik– wafat, Saya pun tidak bisa melayat. Semoga arwah-arwah mereka mendapat tempat terbaik di surga.
Beberapa ajakan ngopi pun dengan sangat terpaksa saya tolak. Suatu sore ketika saya masih sakit, bos saya, Datuk Seri Lela Budaya Haji Rida. K. Liamsi, menelepon ngajak jumpa. Saya tidak bisa. Padahal ia baru datang dari Tanjungpinang, dan di Pekanbaru mungkin saja hanya sebentar.
Pagi esoknya saya memang sempat keluar sekejap, meninjau proyek yang tengah digarap bersama teman-teman. Karena merasa bosan terus berada di rumah. Tetapi hanya sekejap. Setelah itu saya langsung pulang.
Ketika deman begini, saya teringat almarhum Ongah, begitu ia biasa dipanggil. Ongah adalah panggilan akrab dari orang-orang dekatnye kepada Prof Tabrani Rab, Presiden Riau Merdeka yang juga pernah menerbitkan buku puisi tunggal berjudul Simpang. Orang biasa memanggilnya Ongah Tab.
Dulu, ketika sudah demam berhari-hari begini, setelah makan obat warung tapi tidak juga sembuh, saya akan datang ke klinik Ongah Tab (sekarang sudah menjadi RS Tabrani) di Jalan Sudirman, Pekanbaru.
“Ngah, sudah berhari-hari saya deman tak baik-baik,” kata saya.
Ia langsung berteriak, “Meri, suruh perawat bawakan obat, Kazzaini demam,” katanya memanggil Meri –saya memanggilnya Kak Meri– karyawan seniornya.
Biasanya saya langsung protes. “Ngah, tak dicek dulu?”
“Tak perlu. Minum saja obat tu. Nanti langsung sembuh. Besok boleh main bola,” katanya.
“Ongah macam dukun,” gurau saya.
“Saya memang dukun. Obat itu sudah saya jampi-jampi pakai mantera Sakai,” timpalnya sambil ketawa ngakak.
Benar saja. Setelah minum obat yang diberi Ongah itu, biasanya demam saya langsung mereda, dan sembuh. Hal seperti itu berkali-kali terjadi.
Biasanya, besoknya ia akan menelepon ke kantor saya untuk menanyakan apakah saya sudah sembuh. Apakah obatnya mujarab.
“Sudah Ngah. Obat Ongah memang paten,” jawab saya.
Biasanya ia meminta saya datang ke klinik untuk diperiksa lagi.
“Biar pasti betul-betul sembuh atau tidak,” katanya.
Tetapi, setelah datang pun, bukannya diperiksa, tapi hanya untuk nemaninya ngobrol, atau langsung diajaknya keluar untuk menemaninya makan siang.
Satu siang, setelah deman itu, kami pergi makan siang di Restoran Pondok Gurih di Jalan Sudirman, Pekanbaru. Ketika kami mau masuk pintu restoran, gong pun dipukul tiga kali.
“Macam sultan kita ya,” kata Ongah.
Ternyata pengunjung sangat ramai. Kami tidak mendapat meja, karena tidak memesan terlebih dahulu. Oleh karena pemilik restoran teman dekat Ongah, kami dicarikan meja, tapi di pinggir dan agak terpapar panas matahari. Karena agak panas, setelah makan keringat kami bercucuran.
“Berarti awak sudah sembuh. makan berpeluh,” katanya.
Pada ketika yang lain, saya datang ke klinik Ongah, konsultasi bahwa saya alergi debu. Ia memberi tablet kenantist.
“Minum saja obat ini kalau kambuh,” katanya.
“Apa tidak berbahaya kalau minum terus-menerus Ngah?” tanya saya.
“Saya jamin tablet ini tidak bikin mati. Kalau habis beli saja di apotik, bilang perintah Dokter Tabrani,” katanya bergurau.
Maka sejak itu kenantist selalu saya bawa kemana-mana, untuk antisipasi jika alergi saya kambuh, hingga merek itu semakin sulit didapat dan pada akhirnya tidak lagi dijual.
Suatu ketika, saya bertanya kepada Ongah. “Ngah, kalau Ongah demam siapa yang ngobat?”
“Saya akan ke Mantri Amid. Mantri Amid punya jampi yang lebih ampuh. Lebih hebat dibanding jampi saya. Ia pakai mantera Talang Mamak,” katanya sambil tawa berderai.
Dalam banyak kesempatan Ongah Tab memang sering menyebut Mantri Amid dengan rasa kagum dan penuh hormat, seorang mantri –bukan dokter– yang begitu dipercaya masyarakat.
Suatu ketika dulu, Mantri Amid memang cukup populer di Pekanbaru. Pasiennya banyak, mengular. Terakhir ia membuka praktik di klinik kecil tidak jauh dari Pasar Kodim, Pekanbaru.
Apakah Anda masih ingat Mantri Amid? Kalau ingat, berarti Anda sudah tergolong tua. Karena anak-anak muda sekarang pasti tidak tahu. hahaha…*
Kazzaini Ks adalah wartawan senior dan sastrawan, Ketua Yayasan Sagang, Pekanbaru.