

Saya kenal Pak Idrus Tintin, sejak 1983, begitu saya masuk Universitas Riau. Saya langsung dekat dengan dia, karena kebetulan saya sekampung dengan dia di Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Saya pun memanggilnya; Abang.
Tahun 1992, saya menikah dengan teman kuliah saya. Ketika saya mengantarkan undangan pernikahan kami kepada Bang Idrus, Dia bilang; “Dulu istrimu itu sekolah di SMA 2 Pekanbaru ya.” Aku bilang iya.
Lalu dia mengatakan, istrimu itu tiga tahun jadi murid aku. Aku yang mengajarkan dia banyak hal. Mulai dari teater, drama, baca puisi dan menulis untuk sejumlah media. Akulah gurunya yang membuat dia terkenal. Sekarang, kau pula yang jadi suaminya. “Aku tidak rela Dhen. Kita sekampong. Aku tidak izinkan kau menikahinya. Kau cari saja yanng lain sebagai bakal istrimu. Dia bukan jodohmu.”
Saya kaget mendengar ucapan Bang Idrus. Lalu Saya mengatakan, seminggu lagi kami menikah. “Ini undangannya Bang. Orangtuanya juga sudah menerima lamaran saya.” Tapi Idrus seolah tak peduli apa yg saya katakan. Kemudian dia melempar undangan itu ke bawah meja dengan kasar. “Aku tak izinkan kau menikah dengannya. Jika engkau kawin juga dengan dia, aku tak akan datang.” Itu katanya.
Saya betul-betul kaget dan terkejut. Tapi dalam hati saya berkata; pasti dia punya maksud mengatakan ini. Meski saat itu, dia tampak benar-benar serius, dia ini orang teater. Susah membedakan dia serius atau sedang berakting. Lalu saya bilang; Yalah Bang. Saya pulang dulu. Kalau Abang tak izinkan, saya tetap akan menikah dengan dia. Undangan pernikahan ini sudah saya antarkan ke mana-mana. Tak hanya ke Abang. Saya pun pergi
“Tunggu dulu,” katanya dengan keras begitu aku sampai depan pintu. Kau ini memang Talang Mamak (Suku Tua terasing di Indragiri Hulu). Kau melawan aku ya. Aku bercakap belum selesai. Duduk kau di situ, katanya dengan suara sekeras awal. Aku pun mematuhinya.
Gini, katanya. Tapi mulai suaranya agak lembut. Kalau kau menikah dengan dia menikahlah! Tapi aku ini gurunya. Guru kesayangan dia. Bahkan dia kuliah di Jurusan Bahasa, Sastra dan Seni Universitas Riau itu, dia berdiskusi dulu dengan aku. Aku yang menyuruhnya. Jadi karena itu, kau bayarlah sewanya kepada aku selama tiga tahun lebih itu, aku mengajarnya. Kau bayar saja Rp 50 ribu satu tahun.
Hahaha…. Dia tertawa ngakak. Tapi wajahnya tetap serius… Dalam hati aku mikir, Rp 50 ribu banyak juga (karena itu tahun 1992)… Hehehe. Aku tertawa juga dalam hati. *