Air Mata yang Membusuk: Puisi Gadih Piliang

33

hujat, tamparan benam asa, remuk.
suara petir, anak telinga pecah
lilin padam, harap sirna
kelam selimut jalan pulang

kau rampas senyumku, patah angan jadi serpihan
kini ruang hampa temani diri
tiada belaian, tiada peluk, hanya dingin teman nurani

Tulisan Terkait

Puisi-Puisi Qinoy

kini, air mata jadi darah dan nanah, anyir
cibiran kaku isap madu rindu
harap bayangan belaka muka tanpa rupa dan warna, temani diri

Rawang Empat, 20012026

 


Yessi Riatny. Lahir di Bukittinggi, 23 Januari 1975. Iya suka membaca dan menulis puisi sejak SD. Aktif di Asqa Imagination School (AIS) #65. IG: @cikgu_yessi

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan