Mengukir Pikir yang Zikir
Lewat telinga hati yang bening
aku mendengar bunga anggrek bergerak ke kiri dan ke kanan semesta:
Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah.
Burung pelatuk melubangi batang kayu
suara patukan sayup-sayup sampai
tertangkap juga genderang telinga bocah:
Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.
Belalalang di rumpun ilalang
suara seruling yang nyaring
menabuh genderang telinga peladang:
Lailahaillallah,Lailahaillallah,Lailahaillallah.
Unta gurun perbanyak turunan
tujuh hari kemarin lahirkan anak ke sekian
suara dahaga,lapar terkapar lambung sang anak
tergetar gendang telinga rombongan haji:
Allahu Akbar,Allahu Akbar,Allahu Akbar.
Cobra mengular tanah datar
melipat diri di senyap lubang
lidah air kerasnya mendesis:
puasa ramadhan,puasa ramadhan,puasa ramadhan.
Gerombolan semut berbaris teratur
menggotong urat daging,remah dan mangsa lain
arah habitat sang raja mahkota merah
gumam diam berganti teriakan menggetar:
Takbir,Takbir,Takbir.
Di bawah langit mendung.
Sumbawa,NTB
4 April 2024.
Kearifan Puisi Sufi
rendah hati di nurani ilmu dan amal
dia sedang mendaki gunung emas mengemas.
bangun dari mimpi sepertiga malam
dia sedang merancang dunia
bulan bintang
yang melangit dan membumi.
di bumi,tanah yang sabar
lambungnya mengalir dan menghilir sungai – sungai kemilau
hingga muara bianglala surga Ciptaan Mu
di payung langit yang mengembang spontan dalam.keabadian
pentas pesta cahaya
di bubungan atap langit Nya
suara – suara malaikat
menembang firman iman dan takwa
bulan Ramadhan yang kekal akal
berjantung pikir dan zikir
tak putus – putus dalam.pesona kuasa Maha Cahaya Cinta
di semesta alam semesta
bentuk bagai warna kabah dalam.pandangan mata batin yang gemerlap dari Maha Jantung
menggetar nadi fitri berbusa darah merah.putih
di sini buana fana, di sana kekal abadi
Pulau Sumbawa dipayungi langit
Sabtu – batu biru 28 Februari 2026.
Isrirahat Jari Hati Telunjuk di Android Bentar dan Sabar
Tubuh — kalbu sembari tidur mencari mimpi yang dirindukan
Sastra — budi daya
Di aneka batu kalbu gunung sedang merenung.
Sayapun menulis di kertas bekas putih puisi
Diantar sekawan angin kembara yang mengembara.
Saya sakit lansia dan nyeri sendi sungguh pedih — perih sekali.
Menidurkan mimpi kelopak mata kepala
Diganggu angan layang — layang yang putus benang anjungannya.
Saya rindu akar cinta kasih fitri
Di pintu Mu saya mengetuk berkali — kali
Pulau Sumbawa di bawah kaki langit NTB
Selasa, 31 Maret 2026.