Bismillah,
Baju kurung di gerobok tua itu berdebu
adalah benang doa Emak di kampung
dalam gelap zikir subuh, juga resah angin laut
longgar seperti hati, tak sempit oleh nafsu,
labuh seperti budi, tak menyingkap malu.
Bukan sekadar pakaian
tetapi teduh meranggikan marwah,
bagai sutra pembungkus akal budi
tak hanyut oleh arus surut di sungai dunia
Zaman bergegas menikam jiwa,
badai hati menebas adab, terkelopak koyak
Baju kurung di gerobok itu
pelan-pelan menjadi burung
terkurung dalam sangkar kemilau palsu
Dulunya melambai lembut,
kini ketat sendat marwah berkarat
pendek pincang maknanya
dipilin lupa asal-usul,
ibarat perahu Melayu
ditarik jauh dari muara tempat belajar setia.
Baju kurung dikurung gundah,
ditonton dengan riuh rendah
padahal nenek moyang telah meniup pesan:
Yang molek biar beradat
yang indah biar bersyarak
yang menutup tubuh, menutup malu
Api zaman membakar jiwa
longgar dianggap lusuh,
labuh disangka lambat,
sopan digelar ketinggalan abad.
Di majlis-majlis, baju kurung itu
tersadar seperti tamu asing di rumah sendiri
Ada belahan yang meninggi
hingga menjerit risau pada tanah tempat berpijak;
ada ketat yang mencengkam tubuh
terdedah
mata nafsu menafsir dengan liar
Tak ada lagi helai marwah
melainkan bayang tersasar, laksana si buta kehilangan suluh
Orang Melayu sudah paham
Yang bengkok diluruskan,
yang tersesat dipulangkan
Maka biarkan kami memanggilmu kembali,
roh yang pernah menjadi pakaian kasih
Mari menjahit makna semula
yang tercerai-berai dari tubuh kita
Baju kurung bagaikan sungai tempat marwah berlayar
Jika engkau sempitkan, sempitlah jalan pulangmu
jika engkau pendekkan, hilanglah tapak tempat budimu berpijak
warisan jiwa suci Melayu
membawa pulang segala yang hilang:
lambaian lembut
labuh teduh
hening adab
halus budi
halus kata
halus pakaian
Baju kurung, helai marwah di gerobok itu
Masih menunggu rohnya kembali berseri
Alhamdulillah.
Bengkalis, 29 Jumadil Awal 1447 H / 20 November 2025.