

Keheranan menyelimuti otakku
Saat pertama kali memijak bumimu
Karena mataku kerap menangkap lembut warna sikap
Telingaku acap menyimak merdu suara tanggap
Sementara kakiku terus melangkah di sepanjang trotoar
Di antara panas udara membakar rindu
Dan gejolak hati mengharap temu
Akhirnya kudapati sebuah puisi klasik
Yang sengaja kaupajang di dinding publik
Di dua stasiun bawah tanahmu yang cantik
Di stasiun Yeuido jalur lima
Dan stasiun Gangnam jalur dua
Kini,
Ijinkan aku berbisik ke telingamu, Korea
: Terima kasih telah memajang Aku di stasiunmu.
Korea, Juli 2025