Pohon Kelapa Terakhir: Cerpen Marzuli Ridwan Al-bantany

15

Orang-orang kampung yang tinggal di baruh telah banyak pindah ke darat. Mereka tak kuasa menahan rasa bimbang dan khawatir. Juga rasa takut yang disimpan,- yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi bencana yang tak terelakkan.

Tulisan Terkait

BEGITU juga dengan keluarga Pak Itam beserta istri, kedua anak dan menantunya, telah beberapa pekan ini membangun sebuah gubuk di kebun yang ada di darat. Bagi Pak Itam dan keluarga, tak ada pilihan lain selain harus pindah meninggalkan rumah dan lahan miliknya yang semakin mengecil.

Pak Itam dan warga lainnya sadar, bertahan dan bermukim di kawasan yang selama ini terancam abrasi sangat besar resikonya. Musibah dan bencana setiap saat selalu saja mengintai. Kapan wakt bisa saja hadir tanpa sedikit-pun memberi tanda dan peringatan terlebih dahulu.

Satu-satunya keluarga yang belum memutuskan untuk pindah ke darat adalah Maksum beserta ayah, ibu, abang dan kedua kakaknya. Ayah dan ibu Maksum bukanlah berasal dari keluarga yang berada. Mereka hidup sangat sederhana di sebuah rumah papan tak jauh dari pantai di kampung itu. Selama ini pekerjaan yang dapat memenuhi keperluan hidupnya adalah sebagai nelayan. Hasil menangkap ikan inilah menjadi penopang dan mata pencaharian pokok bagi seisi keluarga, untuk meneruskan kehidupan di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit seperti saat ini.

Sebenarnya Maksum sedikit beruntung bila dibandingkan dengan nasib abang dan kedua kakaknya. Ia bersyukur masih dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar, bahkan dapat menamatkan SMP. Ia juga termasuk salah seorang pelajar yang berprestasi. Namun sayang, untuk melanjutkan pendidikan ke bangku SMA, untuk tahun ini tampaknya Maksum belum dapat memutuskan. Semua itu terpulang kepada kondisi perekonomian ayah dan keluarganya. Bila ayahnya memiliki rezeki lebih dan mengizinkannya, maka dapatlah ia melanjutkan pendidikan, termasuk cita-citanya untuk meneruskan kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota.
***

Lama Maksum terpaku di samping sebatang pohon kelapa satu-satunya milik ayah yang masih kokoh berdiri dan tersisa di petang itu. Dari tempat itu dipandanginya pula dengan tatapan penuh cemas hempasan ombak Selat Melaka yang terus bergulung dengan garang menghempasi tebing. Ia sadar bahwa kampungnya kini sedang berjalan menuju laut. Bukan berjalan tertatih-tatih seperti orang tua yang lemah kakinya. Tapi melesak, runtuh, dimakan air asin sedikit demi sedikit setiap hari, setiap siang dan malam.

Berdasarkan cerita orang-orang tua, Maksum tahu jika nama Telukpapal kampungnya itu terdiri dari kata Teluk dan Papal. Dinamakan Teluk karena memang kampung ini berada di kawasan teluk. Sementara kata Papal diambil dari nama Dusun Papal, dimana kata Papal itu sendiri berasal dari kata Papal,- yang pada waktu pertama pembukaan kampung atau dusun itu di pantai Papal terdapat kapal yang tenggelam. Bukti Sejarah ada di laut di kedalaman 10 depa atu sekitar 21 meter dari permukaan air ketika sedang surut. Selanjutnya, pecahan kapal tersebut sering tersangkut pada jaring milik nelayan. Dari dua kisah yang terjadi inilah kemudian kawasan itu diberi nama dengan nama Telukpapal.

Dalam versi yang lain, entah benar atau salah,- dulu nama Telukpapal diambil dari kata teluk dan papal,- di daerah itu banyak pohon bakau yang tumbuh rapat di bibir pantai. Sekarang, pohon itu tinggal tunggul-tunggul hitam yang berdiri malu di tengah ombak. Bahkan tak sedikit jika tunggul-tunggul itu kini telah menghilang. Begitu juga dengan berhektar-hektar kebun kelapa, kebun pisang, kebun getah, sawah dan ladang milik warga setempat, telah berganti wajah menjadi hamparan lautan yang luas, tempat ikan-ikan berenang, bertelur dan berkembang biak.

Tidak hanya Telukpapal,- yang sebelumnya merupakan bagian dari Desa Bantan Air sebelum pemekaran yang ketika ini juga mengalami abrasi yang sangat mengkhawatirkan, hampir semua desa dan kampung lainnya di pesisir utara pulau Bengkalis, termasuk beberapa kawasan di selatan pulau ini, juga mengalami nasib serupa. Jika tidak ada penanganan serius bagi mencegah laju abrasi, dipastikan luas pulau Bengkalis setiap hari akan semakin berkurang karena roboh ke laut.

“Jika tak secepat mungkin ditangani, suatu hari nanti abrasi ini pasti akan merobohkan rumah itu juga,” pikir Maksum menyaksikan bibir pantai yang kini hanya sekitar 15 meter dari rumahnya itu.

Sebagai anak bungsu di keluarga, Maksum tak banyak bercerita soal kondisi abrasi di kampungnya bersama warga, termasuk ayah dan keluarganya. Ia hanya berdiam memendam rasa kesal dan kecewa atas situasi yang terjadi. Pernah suatu ketika ia bersama beberapa kawannya sesama pelajar SMP melakukan suatu aksi demonstrasi menyuarakan aspirasi mengenai abrasi ini di kantor kelurahan. Namun malangnya aksi itu tidak mendapat respon yang berarti. Hanya janji-janji namun sampai kini tak kunjung membuahkan hasil.

Di musim-musim pemilihan, Maksum juga masih ingat ada beberapa calon wakil rakyat yang pernah berkunjung ke kampungnya, bahkan mereka turut melihat dari dekat kondisi abrasi yang semakin parah. Herannya lagi, semua janji-janji untuk mengatasi abrasi yang terjadi sampai hari ini belum juga ditepati dan terealisasi, padahal mereka yang berjanji itu kini telah terpilih dan menikmati kursi empuk pemerintahan dan kekuasaan yang selama ini dihajati.

Maksum kini telah berdiri tepat di tepi tebing pantai yang tersisa di depan rumah. Tiba-tiba air laut sampai juga ke ujung sandal jepitnya. Seketika pula angin laut itu membawa bau garam dan kayu-kayu lapuk. Dalam risau dan khawatir yang dipendamnya ia akur juga pada takdir hidup yang sampai saat ini tak menguntungkannya, belum berpihak kepadanya.
***

“Maksum pikir, kita harus segera mengambil keputusan untuk pindah ke darat, Ayah! Sepertinya sangat tidak layak lagi bagi kita tinggal di tempat ini. Laut sudah semakin dekat dengan rumah dan tak bersahabat lagi dengan kita, Ayah.”

“Hendak pindah kemana kita? Bukankah satu-satunya tanah yang kita miliki hanya ini!”

“Betul, Ayah. Tapi tanah yang kita punyai ini hanya tinggal tapak rumah dan tempat sebatang pohon kelapa itu saja lagi. Sementara kebun dan tanaman yang lain sudah ambruk ke laut!”

“Bercakap itu memang mudah, Sum! Tapi pernahkah engkau terpikirkan dengan cara apa dan bagaimana kita semua harus pindah?”

Maksum tertunduk memikirkan solusi terbaik. Tapi ia tak sanggup memandangi wajah ayah, apalagi mengutarakan solusinya itu. Ia tahu bahwa ayahnya juga sedang gelisah, memendam rasa cemas seperti apa yang ia rasakan.

“Maafkan Maksum, Ayah!”

“Maksum terpaksa menyampaikan perkara ini demi hidup kita sekeluarga!”

Ayah Maksum tak lagi menanggapi apa yang disampaikan anak bungsunya itu, termasuk sebuah solusi sederhana bagi menghindari bencana abrasi. Dia diam sembari menghisap dalam-dalam sebatang kretek di ujung jemari tangannya. Namun pikirannya seakan jauh melayang, menembusi suara deru ombak yang sedang asyik-asyiknya bersenandung menghempasi pantai menjelang senja itu.
***

Pada hari yang naas itu, bukan hanya tanah dan kebun ayah Maksum saja yang kini longsor ke laut, tapi juga dengan sebatang pohon kelapa terakhir yang tersisa tak jauh dari rumah mereka. Pohon kelapa yang yang tinggi dan diperkirakan sudah berusia puluhan tahun itu tak mampu lagi menahan gempuran ombak. Ia luruh juga dan tertunduk ke dada laut yang selama ini membujuknya.

Menyaksikan pohon kelapa yang sudah roboh ke laut dengan bunyi yang mengerikan itu, ayah Maksum hanya duduk terpaku mengenangkan nasib, Sementara Maksum dan abangnya hanya tegak diantara tebing dan batang pohon kelapa yang sedang tumbang.

“Ini tanah nenek moyangku,” kata ayah Maksum tiba-tiba memecah suasana. Dari raut wajahnya tampak jelas jika dia tak mampu lagi menahan kesedihan.

“Dan sekarang, ianya telah menjadi milik ikan,” lanjut ayah Maksum lagi.

Mendengar kata-kata penuh makna yang keluar dari mulut ayah, Maksum hanya menunduk. Begitu juga dengan abangnya, juga diam seribu bahasa tanpa sebarang kata-kata. Di kepala Maksum, rumus sedimentasi dan gelombang pecah yang ia pelajari di bangku kuliah berputar-putar. Tapi mulutnya kelu. Yang bisa ia lakukan cuma memunguti beberapa buah kelapa yang mengapung. Itu pun sudah setengah busuk.
***

Beberapa tahun telah berlalu dengan cepatnya. Kini Maksum dari lokasi dimana pohon kelapa terakhir yang telah tumbang itu tegak berdiri. Pandangannya jauh, menyapu sekeliling kawasan itu tanpa ada yang terlewatkan. Sepertinya ia turut mengingat dan mengenang masa-masa kecilnya sewaktu tinggal di situ. Bahkan dalam kondisi air laut yang sedang surut itu, ia turut menyempatkan diri menyusuri setiap ceruk pantai. Tapi tiba-tiba pandangannya terhenti da tertuju pada satu titik, pada tonggak-tonggak kayu,- sisa-sisa sebuah tapak bangunan yang dulu pernah menjadi tempat yang kokoh bagi rumah kedua orang tuanya. Itulah sebuah rumah yang pernah ditempati bersama, sebelum mereka benar-benar memilih jalan untuk berhijrah dan berpindah jauh ke kota.

Bengkalis, jelang akhir Mei 2026

Cerpen ini ditulis didedikasikan untuk desa-desa pesisir Bengkalis yang melawan abrasi dengan tangan sendiri. Kisah ini fiksi, tetapi luka dan harapan di dalamnya nyata.

Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penyair, penulis dan sastrawan Indonesia yang bermastautin di Bengkalis, Riau. Ia dikenal aktif melahirkan karya sastra yang kental dengan nuansa lokal, religius, serta refleksi sosial kemasyarakatan. Beberapa buku kumpulan cerpen tunggalnya yang telah diterbitkan antara lain Burung-Burung yang Mengkapling Surga (FAM Publishing, 2018) dan Pada Senja yang Basah (Dotplus Publiser, 2021).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan