

Pena dan Tinta
Dengan bismillah permulaan warkat
Diambil kertas kalam diangkat
Pena dan tinta jadi serikat
Menyampaikan hakikat dengan hasrat
Pena menyelam dawat menyambut
Terbentang kertas putih umbut
Kalam menari kata disebut
Jejak terbentang sebagai rambut
Awal mulanya surat direka
Kenangan menyerang tidak berjangka
Siang malam segenap ketika
Wajah tuan rasa di muka
Surat inilah pengganti diri
Datang menjelang muda bestari
Duduk berbincang berperi-peri
Melepas rindu hati sanubari
(Karya Sabaruddin Ahmad 1921-2007)
Tulisan ini diawali dengan menampilkan puisi karya Sabaruddin Ahmad yang sangat puitis, penuh dengan irama dan pilihan kata yang tertata untuk menzahirkan perasaan dan pikirannya.
Secara mengejutkan puisi ini ditulis seorang bahasawan yang banyak menulis buku tentang Bahasa Indonesia dan sangat jarang beliau menulis puisi dalam dunia sastra.
Saya mengutip pepatah Lao Zi yang mengatakan “orang yang tahu banyak tidak banyak bicara. Orang yang banyak bicara tidak tahu banyak”. Namun, untuk kategori sang guru H. Sabaruddin Ahmad perlu juga ditambahkan,”Orang yang tahu banyak seharusnya banyak bicara”. Mengapa demikian? Jawabnya oleh karena dia seorang guru yang memiliki ilmu dan sudah tentu harus banyak berbicara di hadapan para muridnya.
Selaku guru bahasa Indonesia posisinya tidak sama dengan guru bidang studi yang lain. Guru bahasa Indonesia disebut ilmuwan plus. Di samping sebagai guru yang memiliki ilmu dia juga mengemban amanat UUD 1945 yang termaktub dalam kitab itu yakni bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara.
Tokoh H. Sabaruddin Ahmad termasuk tokoh bahasawan yang populer di kalangan murid-muridnya. Hal ini sesuatu yang wajar dan lumrah. Namun, figurnya sebagai aktivis di masyarakat sangat banyak yang dilakukannya. Pada masa polemik politik yang terjadi di Indonesia kurun tahun 1963-1966 beliau terjun ke ranah gerakan kemasyarakatan untuk menentang kekuatan PKI beserta LEKRA sebagai terompet kebudayaan kaum kiri di Indonesia.
Dia bersama-sama teman yang sepaham mendirikan Kesatuan Aksi Guru Indonesia 1963-1965). Ketua Umum PGRi (1960-1965). Mendirikan UISU bersama rekannya (1952). Aktif di DKM (Dewan Kesenian Medan) yang ketika itu diketuai Agus Salim Rangkuti (Mantan Walikota Medan). Ketua HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam Sumatera Utara), Ketua HPBI (Himpunan Pembina bahasa Indonesia) Medan dan aktif mengisi siaran bina bahasa Indonesia di media surat kabar dan televisi Medan.
Tulisannya berbentuk ulasan tentang bahasa Indonesia banyak dimuat pada surat kabar terbitan Medan dan Jakarta. Di samping itu juga aktif menulis buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mulai tingkat SD, SMP, dan SMA sampai perguruan tinggi.
Buku Sari Parama Sastra Indonesia (1961, Medan: Firma Saiful) adalah buku pertama yang saya baca ketika duduk di bangku SMP Negeri Perbaungan (1963). Guru bahasa Indonesia di kelas 1 ketika itu Pak Burhan (adik kandung Kolonel M.Yusuf, pernah selaku Ka. Pendam Bukit Barisan dan mantan Ketua DKM). Di depan kelas kami terkagum-kagum tentang tokoh “Sabarudin Ahmad” yang diagung-agungkan guru itu sebagai ahli bahasa dan tokoh kharismatik.
Di dalam buku itu saya membaca wacana “Bertengkar dan Berbisik” cuplikan karangan Pujangga Balai Pustaka (Aman Dt. Mojoindo). Kisah ‘bertengkar dan berbisik” sangat memukau hati saya dan berulang-ulang saya baca karena kata-kata terpilih, bersahaja dan mengandung humor.
Dari pertemuan ‘imajinir‘ dengan Sabaruddin Ahmad menggunakan buku Sari Paramasa Sastra Indonesia saya mengenal, memahami dan akhirnya mencintai bahasa dan sastra Indonesia sepenuh hati.
Ketika saya masuk IKIP Negeri Medan (1970) dan memilih jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan melalui marwah serta tuah Sabaruddin Ahmad saya ‘menumpangkan diri‘ untuk berdialog, berdiskusi, bahkan berdebat yang akhirnya saya selalu menyerah dan sebagian besar membenarkan hujah-hujah Pak Sabar yang tegas, tangkas dan konsisten termasuk bila dikaitkan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Misalnya beliau membetulkan pilihan kata ‘meja bulat‘ yang seharusnya ‘meja bundar‘. Sebab kalau meja bulat Anda tidak bisa meletakkan gelas di atasnya dan jatuh. Bukan ‘pembicaraan meja bulat‘, melainkan ‘pembicaraan meja bundar’.
Dia kembali menjelaskan ada orang yang menulis ‘diperbanyak maaf‘ atau ‘diaturkan terima kasih‘. Ungkapan kalimat itu hendaklah diganti ‘dimohon maaf atau diucapkan terima kasih‘. Menurut Pak Sabar secara logika kata ‘maaf tak bisa diperbanyak dan terima kasih tak bisa diatur-atur.’ Mau Anda apakan maaf itu? mau difotokopi? Kemudian mau Anda apakan terima kasih itu? Mau diatur? Yang diatur itu batu bata, bukan terima kasih. Yang benar saja Saudara!, katanya tersenyum.
Seterusnya ia berkata, “Bahasa adalah pikiran, bahasa adalah rasional, Oleh karena itu maaf, ya, sesuatu yang tidak keluar melalui otak itu sama dengan kentut!“. Saya tersentak mendengar kemarahan orang tua ini. Saya tak bisa membantah, ucapannya yang tegas, meskipun masih tersenyum. Tiba-tiba saya teringat ucapan Prof. D.P. Tampubolon, M.A. dalam sebuah pertemuan bahwa ia menggelari Pak Sabar sebagai ‘preman bahasa’. Saya diam-diam membenarkannya dan saya salah satu korbannya yang merasa ‘dibogem mentah‘ preman Medan ini.
Setelah saya menamatkan Sarjana Muda Bahasa Indonesia (1974) beliau sering mengajak saya bertemu dengan pakar bahasa nasional yang datang ke Medan seperti Sutan Takdir Alisyahbana dan Anton Moeliono yang hadir berceramah di Gedung LIA (Lembaga Indonesia Amerika), Jalan Diponegoro Medan Kemudian pada tahun 1978 saya berkesempatan mendengar pidato Prof. A.A Teeuw di Gedung RRI (Jl. Bintang Medan).
Sosok Sutan Takdir Alisyahbana mirip empu bahasa yang turun dari ‘Bukit Seguntang’ untuk menyampaikan khotbah kemanusiaan dan kebahasaaan. Gaya bertutur yang lugas dan kemas dari Anton Moeliono serta ucapan yang bernas dan santun oleh A.A. Teeuw cukup mengasyikkan bagi saya selaku pecinta bahasa Indonesia.
Pada beberapa Kongres Bahasa Indonesia (diadakan 5 tahun sekali) di Jakarta kami hadir bersama dan bertemu dengan ahli bahasa seperti Y.S. Badudu, Prof. Harimurti Kridalaksana, Gorys Keraf, dan lain-lain. Di samping itu bertemu dengan teman sekampung dari Medan Prof. D.P. Tampubolon, Prof. T. Amin Ridwan, Prof. Mangasa Silitonga, Hj. Yusmaniar Noor, dan Dr. T. Silvana Sinar. Kemudian berjumpa dengan budayawan Emha Ainun Najib dan penyair Hamid Jabbar.
Ada satu cerita menarik tentang ceramah H. Sabaruddin Ahmad yang tetap saya ingat yang menyangkut persoalan bahasa Indonesia. Topiknya tentang guru atau dosen Berikut ini diturunkan sebagian ceramah tersebut;
Bila ada seorang ibu mengatakan bahwa menantunya adalah seorang guru, maka temannya akan mengernyitkan alisnya dan membayangkan rasa kurang gembira pada wajahnya. ‘Ah, guru, apalah yang bisa diharapkan dari seorang guru? akan tetapi, andaikata si ibu mengatakan bahwa menantunya itu seorang dosen, pastilah suasananya akan menjadi lain. Dalam fantasinya rambutnya senantiasa rapi, di dadanya selalu melambai sehelai dasi yang seirama dengan warna kemejanya. Rambut dan sepatunya mengkilap yang menyebabkan banyak mahasiswa jatuh hati padanya.’ Mengapa kedua kata yang sama artinya itu menimbulkan asosiasi yang berbeda? Jawabannya, yang satu berasal dari bahasa Indonesia asli, jadi mutunya rendah. Yang lain berasal dari bahasa asing, jadi mutunya tinggi. Perkataan dosen karena berasal dari bahasa Barat.
Inilah penyakit bangsa kita yang harus dibasmi, yang masih terlalu mengagungkan ketinggian mutu kebudayaan dan peradaban serta bahasa asing ketimbang kebudayaan dan peradaban serta bahasanya sendiri. Inilah penyakit rendah diri yang menghambat pembangunan dan dunia pendidikan kita.
Yang lebih celaka lagi, kata-kata atau istilah asing yang dianggap lebih tinggi mutunya itu tidak pula betul pengucapannya. Misalnya perkataan dosen, ada yang menyebutnya ‘dozijn’ dan ada yang menyebutnya ‘doosen‘. Padahal kata ‘dozijn‘ = lusin, dan ‘doosen‘ = kotak-kotak, karena terlampau aksi akhirnya jadi terasi. (2005:79).
Demikian beberapa uraian singkat tentang keterlibatan saya dengan tokoh Drs. H. Sabaruddin Ahmad ( 1921- 2007).
Sebagai penutup untuk mengenang tokoh bahasawan. Sabaruddin Ahmad saya berharap perlu dibina dan dibangun generasi yang peduli terhadap bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa.*
*Penulis Dosen UISU Medan