“Menyuling Kata di Pohon Tinggi” Penyair, Puisi, dan Kepenyairan dalam Ekologi Sialang: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

8

Dalam bentang alam kebudayaan Melayu Riau, khususnya masyarakat adat Petalangan, Rimba Sialang bukanlah sekadar hamparan pepohonan pasif. Ia adalah ekosistem spiritual dan ekologis yang menjaga martabat manusia dan alam. Di dalam rimba tersebut, terdapat tiga elemen utama yang membentuk sebuah siklus kehidupan nan adiluhung: Rimba Sialang sebagai ruang hidup, Lebah Hutan (Apis dorsata) sebagai perajin penjelajah, dan Madu sebagai nektar kehidupan yang menyembuhkan.

Jika trilogi ekologis ini diproyeksikan ke dalam panggung sastra, kita akan menemukan perumpamaan yang begitu presisi mengenai sosok Penyair, wujud Puisi, dan hakikat Kepenyairan.

Lebah Hutan adalah Penyair (Perajin Nektar Semesta)

Lebah hutan tidak pernah menciptakan bunga, tetapi ia memiliki kepekaan luar biasa untuk menemukan sari-sari tersembunyi dari berbagai kelopak di ceruk hutan. Ia terbang jauh, mengarungi cuaca, mengumpulkan nektar terbaik, lalu membawanya pulang untuk diolah secara tekun di dalam sarang.

Demikian pulalah seorang Penyair. Penyair tidak menciptakan dunia dari ketiadaan. Ia adalah sang penjelajah realitas. Seseorang yang terbang mengarungi pahit-manis kehidupan, dukacita sosial, keindahan alam, hingga kegelapan batin. Kepekaan indrawi dan batinnya bekerja persis seperti lebah: menyerap sari-sari pengalaman hidup yang terikat dalam peristiwa harian, lalu menyulingnya menjadi bahasa yang bernyawa. Penyair yang kehilangan daya jelajah dan kepekaan rasa akan berhenti menjadi lebah; ia hanya menjadi serangga biasa yang mengagumi bunganya tanpa sanggup mengolah sarinya.

Madu adalah Puisi (Penyembuh Jiwa dan Penawar Dahaga)

Madu Sialang dikenal bukan sekadar karena rasa manisnya, melainkan karena khasiatnya sebagai obat penawar, pemulih stamina, dan pencerah tubuh. Madu adalah bentuk murni dari nektar bunga yang telah melewati proses metamorfosis di dalam tubuh lebah. Ia tahan lama, tidak mudah membusuk, dan memberi nutrisi bagi siapa saja yang mengecapnya.

Inilah wujud sejati dari sebuah Puisi. Puisi yang agung bukan sekadar deretan kata bernada tinggi atau permainan rima yang molek di permukaan. Puisi adalah “madu” yang disuling dari pengalaman pahit dan manis sang penyair. Ia hadir sebagai penawar dahaga batin, pencerah sanubari, serta penyembuh bagi luka-luka sosial dan kemanusiaan. Puisi yang baik memiliki daya tahan melintasi zaman. Ia tidak busuk ditelan dekade karena membawa inti rasa yang otentik dan murni.

“Madu tidak pernah diciptakan dengan cara merusak kelopak bunga. Demikian pula puisi yang indah: ia memanen makna dari realitas tanpa merusak kehormatan dunia yang dirawatnya.”

Rimba Sialang dan Kepenyairan (Marwah, Etika, dan Ekosistem Karya)

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Lebah dan madu tidak akan pernah ada tanpa keberadaan Rimba Sialang. Pohon Sialang (seperti Kedondong Hutan atau Koompassia excelsa) berdiri tinggi menjulang, dilindungi oleh hukum adat yang sangat ketat. Pemanenan madunya pun dilakukan melalui ritual Menumbai. Sebuah prosesi melantunkan pantun dan mantra halus untuk meminta izin kepada alam dan lebah tanpa sedikit pun kekerasan.

Di sinilah Kepenyairan menemukan benteng etisnya. Kepenyairan bukan sekadar status atau sebutan “saya seorang penyair“, melainkan sebuah kesadaran etis dan sikap hidup:

Rimba Sialang sebagai Ekosistem Imajinasi

Kepenyairan membutuhkan “hutan adat” yang dirawat yaitu kebiasaan membaca, perenungan yang mendalam, serta keteguhan merawat tradisi dan pengetahuan. Tanpa hutan imajinasi yang rindang, penyair akan kehabisan bahan nektar.

Menumbai sebagai Etika Bertutur

Dalam merangkai kata, penyair harus bertindak dengan kesantunan dan kerendahan hati sebagaimana juragan mudo saat Menumbai[. Penyair tidak menjarah duka atau privasi orang lain secara vulgar demi popularitas instan, melainkan menyapanya dengan estetika dan etika yang bermartabat.

Menjaga Marwah Literasi

Sebagaimana hukum adat melarang penebangan Pohon Sialang demi menjaga marwah kampung, kepenyairan menuntut integritas untuk menjaga karya dari komersialisasi dangkal, plagiarisme, dan kebohongan kata.

Menjadi Perajin Madu di Pohon Sunyi

Pada akhirnya, trilogi ini menegaskan bahwa menjadi penyair adalah sebuah tugas kebudayaan dan kemanusiaan. Kepenyairan mengajari kita untuk tidak menjadi perusak ekosistem tempat kita tumbuh. Seorang penyair sejati akan selalu hinggap dengan lembut, memanen rasa dengan santun melalui doa-doa kata, dan meninggalkan “madu” puisi yang menyembuhkan bagi zaman.

Di tengah bisingnya dunia modern yang sering kali tergesa-gesa dan beringas, kita sangat merindukan nilai-nilai kepenyairan yang berakar pada kearifan Rimba Sialang: kerendahan hati, keberlanjutan, dan keberkahan bagi sesama.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan