

Pernahkah kita merasa bahwa keramaian dunia kadang begitu bising, hingga satu-satunya cara menemukan diri sendiri adalah dengan mematikan suara-suara di luar dan masuk ke dalam kesunyian?
Di titik inilah sastra sering kali hadir bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai tempat perhentian rohani. Menariknya, pencarian makna hidup dan kerinduan pada Yang Maha Kuasa memiliki benang merah yang melintasi batas zaman dan geografis. Cerpen karya sastrawan Helvy Tiana Rosa, “Aroma Penyair Mahzan“, yang berlatar kebudayaan Aceh, ternyata bernapas dalam frekuensi yang sangat mirip dengan puisi-puisi sufi legendaris abad ke-13 karya Jalaluddin Rumi dari Persia.
Laku Sunyi Seorang Penyair
Dalam cerpen “Aroma Penyair Mahzan“, kita diajak mengenal sosok penyair tua bernama Mahzan. Alih-alih mengejar panggung keharuman nama, tepuk tangan, dan popularitas sastra, Mahzan memilih menarik diri. Ia menetap di sebuah rumah panggung yang tenang, dikelilingi ilalang dan hamparan tanaman nilam.
Penarikan diri ini bukanlah wujud putus asa, melainkan sebuah pilihan sadar untuk merenung, menyiapkan diri menghadapi kematian, dan mendekatkan batinnya kepada Sang Pencipta.
Laku Mahzan sangat selaras dengan ajaran tradisi tasawuf Rumi. Dalam karya-karya besarnya seperti Masnawi dan Diwan-e Shams-e Tabrizi, Rumi senantiasa menekankan konsep fana berarti pengikisan ego dan pelepasan keterikatan materi demi mencapai kedekatan mutlak dengan Tuhan. Penolakan Mahzan terhadap kepalsuan pesta dunia mirip dengan kehidupan para sufi yang memilih “mati sebelum mati“.
“Keterasingan dan kesunyian bukanlah hukuman, melainkan ruang tempat jiwa dapat berbisik langsung dengan Penciptanya tanpa gangguan hiruk-pikuk dunia.”
Akar, Nilam, dan Anggur Ilahi
Kedua karya sama-sama kaya akan bahasa simbol yang memikat:
Mitos Daun Nilam dan Akar Pujangga (Helvy Tiana Rosa). Dalam cerpen, terdapat mitos tentang “akar yang tumbuh dari tubuh pujangga” serta wewangian daun nilam yang aromanya berbeda-beda. Ini melambangkan warisan batin dan jejak spiritual yang abadi. Karya dan amal batin seorang manusia tidak akan musnah. Ia bertransformasi menjadi harum wangi yang menyebarkan kebaikan.
Anggur Mistik dan Burung Perjalanan (Jalaluddin Rumi). Rumi menggunakan simbol universal seperti anggur, burung, dan jalan pengembaraan. Bagi Rumi, anggur bukanlah minuman pemabuk fisik, melainkan simbol kenikmatan “mabuk cinta ilahiah” yang membebaskan jiwa dari belenggu keduniawian.
Meskipun menggunakan kiasan yang berbeda, Helvy membawa pesan mistis ke bumi Nusantara lewat daun nilam Aceh, sementara Rumi menggunakan estetika Persia dengan muaranya sama yakni mendorong manusia mencapai ma’rifatullah (pengetahuan yang mendalam tentang Tuhan).
Ringkasan Perbandingan Mahzan dan Rumi

Kearifan Lokal Berpijak pada Pesan Universal
Perbedaan paling mendasar antara kedua karya terletak pada ruang tempat mereka berpijak:
Penyair Mahzan berakar kuat pada tradisi dan lanskap lokal Indonesia (Aceh). Konflik batin tokohnya tumbuh dari interaksi dengan masyarakat sekitar yang kadang menganggap pilihan hidupnya aneh.
Jalaluddin Rumi berbicara dalam bahasa sufisme universal yang melampaui batas-batas teritorial dan waktu, menyapa siapa saja yang sedang mencari jalan pulang menuju Pencipta.
Mengapa Karya Mistik Tetap Relevan Hari Ini?
Baik cerpen Helvy Tiana Rosa maupun karya-karya Jalaluddin Rumi membuktikan bahwa sastra bernuansa spiritual tidak pernah kehilangan daya pikatnya. Di tengah zaman yang serba cepat, riuh, dan penuh pameran di media sosial, karya-karya ini seperti cermin bening.
Keduanya mengajak kita untuk berhenti sejenak, menghirup “aroma” keheningan, dan menemukan kembali kompas rohani yang sering tertutup oleh debu keduniawian.