“Meneroka Sastra Modern Riau Pesisir” Tinjauan Ekokritik dan Humaniora Biru (Bagian 3): oleh Musa Ismail

9

Humaniora Biru Karya Sastra Modern Riau Pesisir

Istilah humaniora biru memiliki beberapa sebutan. Selain humaniora biru, ada juga yang menamakan ekokritik biru dan humanitas biru. Ekokritik biru atau blue humaniora merupakan cabang kajian sastra dan humaniora kontemporer yang berfokus pada laut bukan sekadar sebagai lanskap fisik, melainkan sebagai medan epistemologis yang membentuk kesadaran budaya, sejarah, dan imajinasi manusia. Gagasan ini berakar dari ecocriticism klasik yang menyoroti relasi antara manusia dan alam, tetapi mengalihkan pusat perhatiannya dari daratan menuju ruang laut dan budaya pesisir sebagai sumber nilai, memori, dan sistem pengetahuan. Dalam kerangka ini, laut dipahami sebagai aktor ekologis dan kultural yang turut membentuk pandangan dunia manusia (Blum, 2020; Mentz, 2022; DeLoughrey, 2019 dalam Bungatang dan Rosvita, 2025). Dengan demikian, blue humaniora menafsirkan hubungan manusia–laut melalui teks, metafora, dan bahasa, serta membuka ruang pembacaan baru terhadap narasi-narasi maritim dalam kesusastraan dunia (Bungatang dan Rosvita,2025: 5474).

Jika ekokritik secara tradisional kerap berfokus pada isu-isu daratan (hutan, tanah, dan pertanian), maka Humaniora Biru (Blue Humaniora) memperluas cakrawala tersebut dengan menempatkan air, laut, dan samudra sebagai pusat dari kesadaran kultural dan filosofis manusia. Dalam Humaniora Biru, laut bukan sekadar ruang geografis atau jalur logistik perdagangan, melainkan arsip sejarah, wadah memori kolektif, dan subjek yang memiliki agensi. Sastra modern Riau pesisir merefleksikan pergeseran ini dengan sangat kuat. Masyarakat pesisir Riau—terutama komunitas nelayan tradisional dan Suku Laut (Orang Laut)—memiliki kosmologi tersendiri. Bagi mereka, laut adalah rumah, identitas, dan ibu pertiwi itu sendiri. Namun, modernisasi membawa benturan ontologis yang tajam.
• Pandangan Kapitalis/Industri: Memandang laut sebagai komoditas, jalur perkapalan bebas hambatan, dan tempat pembuangan limbah raksasa.
• Pandangan Kosmologis Pesisir: Memandang laut sebagai ruang hidup yang sakral, cair, dinamis, dan harus dijaga keseimbangannya.

Sastra modern Riau merekam benturan ini melalui ratapan ekologis dan narasi perlawanan ruang hidup (spatial resistance). Ketika para penulis Riau menceritakan hilangnya tradisi berlayar, tercemarnya muara sungai, dan tersingkirnya manusia-manusia laut, mereka sedang melakukan dekonstruksi terhadap cara pandang antroposentris (manusia sebagai pusat segalanya). Sastra mengajarkan kita untuk berpikir seperti lautan—fluid, saling terhubung, dan rapuh apabila terus-menerus dieksploitasi.

Kekuatan sastra pesisir Riau tidak hanya terletak pada tema ekologisnya, tetapi juga pada bentuk estetikanya. Karena sejak berabad-abad lalu kawasan pesisir (khususnya Selat Malaka) menjadi titik temu berbagai kebudayaan (Melayu, Arab, Tionghoa, Eropa), sastra pesisir secara alamiah memiliki karakter kosmopolitan dan hibrid.

Karakteristik cair ini diterjemahkan oleh para sastrawan Riau ke dalam struktur bahasa yang menolak kemapanan daratan. Sebagaimana termanifestasi dalam estetika mantra yang dipopulerkan oleh Sutardji Calzoum Bachri—yang mengekstrak napas tradisi lisan pesisir dan bomoh—bahasa sastra Riau memiliki ritme yang menyerupai ombak: berulang, menghentak, magis, dan membebaskan diri dari kungkungan aturan baku pusat.

Hibriditas kultural dan kesadaran bahari ini menjadi kritik tersendiri terhadap gelombang sektarianisme atau eksklusivitas identitas modern. Sastra pesisir Riau membuktikan bahwa identitas Melayu bukanlah identitas yang tertutup di balik dinding benteng daratan, melainkan identitas yang terbuka, berani mengarungi ketidakpastian, dan selalu berdialog dengan dunia luar melalui gelombang air yang sama.

Jika ditarik ke konteks sastra modern Riau pesisir, konsep humatitas biru menemukan manifestasinya yang paling autentik. Masyarakat maritim Riau—khususnya komunitas nelayan tradisional dan Suku Laut (Orang Laut)—sejak dulu tidak memandang laut dengan mata batin kapitalis. Bagi mereka, laut bukanlah komoditas yang diukur dengan nilai tukar ekonomi, melainkan ibu pertiwi, rumah, dan entitas sakral yang hidup berdampingan dengan manusia.
Namun, modernisasi industri di Selat Malaka membawa benturan ontologis yang kejam:
• Pandangan Kapitalis/Korporasi: Laut adalah jalur pelayaran bebas hambatan, tongkang pengangkut minyak, dan tempat pembuangan limbah raksasa yang tak terbatas.
• Pandangan Humaniora Biru (Kosmologis): Laut adalah tubuh yang bernapas, memiliki sejarah, dan mencatat penderitaan manusia serta ekosistemnya.

Ketika sastrawan Riau menulis tentang laut, mereka tidak sedang mendekorasi latar belakang cerita, melainkan mendengarkan “suara” laut itu sendiri yang tengah berteriak melawan komodifikasi.

Cuplikan Karya Sastra: Manifestasi Humaniora Biru di Riau

Untuk memperjelas bagaimana laut diposisikan sebagai subjek yang bernyawa dan menolak dikomodifikasi, berikut adalah cuplikan karya sastra dari sastrawan Riau:

A. Cuplikan dari Novel Bulang Cahaya karya Rida K. Liamsi
Meskipun berlatar sejarah maritim Kesultanan Riau-Lingga, novel epik karya Rida K. Liamsi ini sarat dengan filosofi Humaniora Biru yang memperlihatkan bagaimana laut dihormati sebagai pemberi kehidupan dan ruang kedaulatan, bukan sekadar komoditas dagang:
“...laut bukan sekadar tempat melintas, wahai anakku. Laut adalah darah yang mengalir di tubuh negeri ini. Ia memeluk pulau-pulau, menyusui perahu-perahu, dan menyimpan rahasia para leluhur yang tidur di dasarnya. Barang siapa memperlakukan laut seperti pelacur yang bisa dibeli demi muatan kapal asing, ia sedang menggali kubur bagi anak cucunya sendiri.”
(Liamsi, 2007, hlm. 84)
• Analisis Humaniora Biru: Kutipan di atas mendekonstruksi pandangan modern yang menjadikan laut sebagai objek eksploitasi ekonomi (“pelacur yang bisa dibeli”). Metafora laut sebagai “darah yang mengalir” menempatkan perairan sebagai bagian dari organisme hidup yang terikat secara spiritual dengan manusia.
B. Cuplikan Puisi Bernuansa Bahari / Pesisir Riau
Dalam tradisi puisi modern Riau, laut kerap disuarakan sebagai entitas yang memiliki duka dan kesadaran tersendiri menghadapi modernisasi. Mari kita simak cuplikan puisi karya Musa Ismail berjudul Air Laut, Rumah Masa Depan.
Rumahku adalah laut
Tempat ikan dan siput
bebas berebut lumut-lumut
Tempat air,
Bebas pasang, bebas surut
Tempat karang,
kokoh berpaut

Rumahku adalah laut
Menyimpan pengetahuan tak pernah surut
Bagai bencana yang tak luput-luput
….

Puisi “Rumahku adalah Laut” sangat kuat dibaca melalui perspektif Humaniora Biru (Blue Humaniora) karena laut tidak ditempatkan sekadar sebagai latar kehidupan manusia, melainkan sebagai rumah, ruang kehidupan, sumber pengetahuan, dan bagian dari identitas manusia pesisir. Larik “Rumahku adalah laut” menegaskan kedekatan emosional dan eksistensial antara manusia dengan laut. Laut menjadi ruang hidup bersama bagi berbagai makhluk, sebagaimana terlihat dalam larik “Tempat ikan dan siput / bebas berebut lumut-lumut”. Kehadiran ikan, siput, lumut, air, dan karang menunjukkan bahwa laut merupakan ekosistem multispesies yang tidak hanya berfungsi untuk kepentingan manusia. Sementara itu, ungkapan “bebas pasang, bebas surut” menggambarkan dinamika alam sekaligus mengajarkan manusia tentang perubahan dan siklus kehidupan. Larik “Tempat karang, / kokoh berpaut” memperkuat gagasan tentang ketahanan dan keterhubungan. Dalam perspektif Humaniora Biru, manusia bukan penguasa laut, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang saling bergantung.

Berita Lainnya

Yang lebih menarik, puisi ini menempatkan laut sebagai penyimpan pengetahuan, sebagaimana tampak pada larik “Menyimpan pengetahuan tak pernah surut”. Laut dapat dipahami sebagai sebuah “perpustakaan ekologis” yang menyimpan pengetahuan tentang angin, arus, pasang surut, musim, ikan, pelayaran, dan pengalaman masyarakat pesisir yang diwariskan antargenerasi. Namun, hadirnya larik “Bagai bencana yang tak luput-luput” memperlihatkan sisi lain laut sebagai ruang kerentanan, yang berhadapan dengan berbagai ancaman ekologis dan bencana. Dengan demikian, puisi ini dapat dibaca sebagai tunjuk ajar ekologis Melayu: jika laut adalah rumah, maka laut harus dihormati, dijaga, dan diwariskan dalam keadaan baik kepada generasi berikutnya. Pada titik inilah Humaniora Biru bertemu dengan nilai Tamadun Melayu, yakni memandang alam bukan sekadar sumber yang dapat dimanfaatkan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan, pengetahuan, identitas, dan tanggung jawab moral manusia.
Mari kita simak pula cuplikan puisi karya Taufik Ikram Jamil berjudul ke pulau rindu.

menuju pulau rindu
saya berharap alunan cahaya
sebab seperti biasa
dia menunggu saya
dengan kisah pantai ketika benderang
memaknainya sebagai cerita pendek
yang tersambar angina
kemudian berkata:
”sekarang musim angin
puting beliung aca kali datang
dan pantai kita terus tergerus
tapi waktu menolaknya untuk terkikis
sebab pelaut pun sadar
tak ada kepergian selain pulang.”
menuju pulau rindu
….

Puisi ke pulau rindu dapat dibaca melalui perspektif Humaniora Biru (Blue Humaniora) sebagai puisi tentang keterhubungan manusia dengan laut, pantai, perjalanan, dan ingatan. Frasa “menuju pulau rindu” menghadirkan laut sebagai ruang perjalanan sekaligus ruang emosional yang menghubungkan manusia dengan tempat asal dan orang yang dirindukan. Pantai tidak hanya menjadi latar, tetapi hadir sebagai subjek yang “menunggu”, memiliki kisah, bahkan mampu menyampaikan pesan tentang kehidupan. Hal ini semakin kuat pada larik “sekarang musim angin / puting beliung acap kali datang / dan pantai kita terus tergerus”. Pantai menjadi ruang ekologis yang rentan terhadap perubahan alam dan kerusakan lingkungan. Namun, di tengah ancaman tersebut, muncul kesadaran bahwa manusia dan alam memiliki hubungan yang tidak terpisahkan: “sebab pelaut pun sadar / tak ada kepergian selain pulang.” Dalam perspektif Humaniora Biru, perjalanan seorang pelaut bukan semata-mata perpindahan geografis, melainkan perjalanan ekologis dan eksistensial; manusia pergi melalui laut, tetapi laut pula yang selalu mengarahkannya kepada makna pulang.

Berdasarkan tinjauan Humaniora Biru, perhatian utama bergeser dari daratan (terrestrial) menuju perairan, samudera, selat, dan ekosistem pesisir. Jika ekokritik konvensional banyak berbicara tentang hutan dan tanah, humaniora biru memposisikan air dan laut sebagai pusat narasi, epistemologi, serta kebudayaan. Karya sastra modern pesisir Riau (yang dikelilingi oleh selat-selat strategis seperti Selat Malaka dan Selat Bengkalis, muara sungai besar, serta perkampungan laut) dalam sorotan humaniora biru berbicara tentang berbagai hal berikut.

1. Laut dan Selat sebagai Entitas yang Hidup (Bukan Sekadar Latar)
Laut sebagai Aktor Epistemologis: Dalam sastra pesisir Riau, laut, selat, dan pasang surut air tidak diposisikan sekadar sebagai pemandangan atau latar belakang tempat cerita terjadi. Humaniora biru melihat perairan sebagai “agen non-manusia” (non-human ocean agent) yang memiliki daya pengaruh, ritme, dan suaranya sendiri yang membentuk karakter serta jalan hidup masyarakat pesisir.

2. Cairnya Batas Teritorial dan Mobilitas Lintas Batas (Fluiditas Budaya)
Selat Malaka sebagai Ruang Pertemuan: Secara geopolitik dan kultural, pesisir Riau berhadapan langsung dengan jalur perairan internasional yang sibuk. Sastra modern di kawasan ini berbicara tentang Selat Malaka bukan hanya sebagai batas wilayah negara, tetapi sebagai ruang cair (fluid space) tempat bertemunya migrasi, perdagangan lintas batas, interaksi antar-etnis, sekaligus pertukaran budaya bahari sejak masa lampau hingga era modern.
Keluasan dan Kerentanan Identitas Bahari: Humaniora biru menyoroti bagaimana sastra menangkap mobilitas manusia laut (nelayan, pelaut, atau kaum perantau pesisir) yang hidupnya mengalir mengikuti arus, serta bagaimana batas-batas teritorial modern sering kali mengasingkan tradisi maritim mereka.

3. “Cairan yang Tercemar” (Toxic Waters) dan Krisis Hidrologis
Limbah Industri dan Tumpahan Minyak: Sastra pesisir Riau merekam kecemasan atas terotorisasinya perairan bersih. Perairan yang dulunya menjadi sumber kehidupan kini digambarkan tercemar oleh limbah korporasi, aktivitas pelayaran kapal tanker raksasa, hingga tumpahan minyak di jalur pelayaran Selat Malaka.
Tubuh Manusia dan Tubuh Air: Melalui lensa humaniora biru, teks sastra menunjukkan bagaimana racun di dalam air laut atau muara sungai pada akhirnya meresap ke dalam tubuh organisme laut dan dikonsumsi oleh manusia pesisir, menciptakan keterhubungan biologis yang tak terpisahkan antara manusia dan lautan yang sakit.

4. Memori Kolektif dan Mitologi Air
Mitos, Pantang Larang, dan “Orang Laut”: Sastra modern pesisir Riau kerap mengangkat kembali jejak kebudayaan sub-etnis bahari (seperti Suku Laut atau masyarakat pesisir tradisional) yang memiliki sistem pengetahuan lokal tentang laut. Mitos-mitos penjaga laut, semangat penunggu selat, dan pantang larang melaut direpresentasikan sebagai bentuk kearifan ekologis masa lalu yang mulai terkikis oleh modernitas kapitalis.

Nostalgia dan Elegi Kampung Pesisir: Karya sastra menyuarakan elegi (ratapan) atas hilangnya ruang-ruang hidup tradisional di tepi air akibat abrasi, reklamasi, atau industrialisasi pesisir yang mengubah wajah kampung nelayan menjadi pelabuhan komersial atau kawasan industri moderen.

Melalui kerangka humaniora biru, karya sastra modern pesisir Riau berfungsi sebagai arsip kebudayaan yang merekam bagaimana manusia mendefinisikan ulang eksistensi, identitas, dan rasa keadilannya di tengah dunia yang dikelilingi oleh air yang kian terancam.

Lembaga Pendidikan sebagai Peneroka Sastra Modern Pesisir Riau

Lembaga pendidikan memiliki posisi strategis sebagai peneroka sastra modern pesisir Riau, bukan hanya sebagai tempat mengajarkan karya sastra, tetapi sebagai ruang untuk menemukan, mengembangkan, mendokumentasikan, dan menciptakan sastra yang lahir dari pengalaman masyarakat pesisir. Dalam konteks Riau, terutama Bengkalis, Dumai, Siak, Meranti, Pelalawan, Indragiri, dan kawasan pesisir lainnya, sekolah dan perguruan tinggi berada di tengah masyarakat yang memiliki kekayaan cerita, tradisi lisan, pantun, syair, hikayat, bahasa lokal, pengalaman maritim, serta persoalan ekologis. Kekayaan tersebut perlu diteroka menjadi sastra modern melalui puisi, cerpen, novel, drama, esai, film, musikalisasi puisi, hingga sastra digital. Dengan demikian, lembaga pendidikan dapat menjadi jembatan antara warisan sastra Melayu dengan kreativitas sastra generasi sekarang. Pendidikan tidak cukup mengajarkan siswa membaca karya yang sudah selesai; peserta didik perlu diajak menjadi penulis yang mampu mengubah pengalaman kampung, sungai, laut, pelabuhan, nelayan, perantauan, perubahan sosial, abrasi, pencemaran, dan kerinduan terhadap kampung halaman menjadi karya sastra yang memiliki nilai estetis sekaligus relevansi sosial. Di sinilah konsep peneroka menjadi penting: lembaga pendidikan bukan hanya penjaga tradisi, tetapi pembuka wilayah baru bagi sastra pesisir Riau.

Peran tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa gerakan.
Pertama, sekolah dan kampus menjadi laboratorium sastra pesisir, tempat peserta didik melakukan observasi, wawancara dengan tokoh masyarakat, nelayan, budayawan, dan penutur tradisi lisan. Kedua, lembaga pendidikan membangun ekosistem penciptaan melalui sanggar sastra, komunitas literasi, bengkel puisi, cerpen, drama, dan jurnalistik. Ketiga, sastra lokal didokumentasikan dan didigitalisasi sehingga pantun, syair, cerita rakyat, kosakata Melayu pesisir, dan karya sastrawan Riau tidak berhenti sebagai ingatan lisan. Keempat, pembelajaran sastra diarahkan kepada persoalan kontemporer seperti perubahan iklim, abrasi, pencemaran sungai dan laut, kerusakan mangrove, migrasi, perubahan mata pencaharian, teknologi, dan identitas generasi muda. Di sinilah perspektif Humaniora Biru (Blue Humaniora) dapat diperkenalkan: peserta didik diajak melihat laut dan sungai bukan sekadar latar dalam cerita, melainkan ruang kehidupan, sumber pengetahuan, identitas, sekaligus ruang ekologis yang harus dijaga.

Kelima, perguruan tinggi dapat menjadi pusat penelitian dan penerbitan sedangkan sekolah menjadi ruang pembibitan penulis muda. Jika semua unsur tersebut bergerak bersama, lembaga pendidikan akan menghasilkan suatu ekosistem: masyarakat memberi cerita, peserta didik meneroka cerita, guru membimbing, sastrawan menginspirasi, kampus meneliti, dan teknologi menyebarluaskannya.

Pada akhirnya, peneroka sastra modern pesisir Riau bukan berarti meninggalkan sastra Melayu tradisional, melainkan membawa nilai dan ingatan tradisi ke dalam persoalan zaman sekarang. Pantun dapat berdialog dengan media sosial; hikayat dapat ditransformasikan menjadi novel atau film; cerita nelayan dapat menjadi cerpen ekologis; pengalaman merantau dapat menjadi puisi tentang identitas; dan persoalan abrasi dapat menjadi sastra yang menggugah kesadaran lingkungan. Dengan cara demikian, lembaga pendidikan menjalankan tiga fungsi sekaligus: merawat masa lalu, membaca masa kini, dan membayangkan masa depan. Gagasan besarnya dapat dirumuskan: “Sekolah dan kampus bukan hanya tempat membaca sastra pesisir Riau, tetapi tempat laut, sungai, kampung, dan masyarakat pesisir menemukan kata-kata baru untuk menceritakan dirinya.” Inilah yang menjadikan lembaga pendidikan benar-benar sebagai peneroka sastra modern pesisir Riau.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan