Reuni-Wisata Alumni FAPERI’79 Plus Jelajahi Aceh, Sabang dan Danau Toba, Situasi Kota Banda Aceh Kondusif.

10

PEKANBARU–TIRASTIMES: Semangat mempererat tali silaturahmi sekaligus menikmati perjalanan wisata mewarnai kegiatan Reuni-Wisata Alumni FAPERI’79 Plus yang mengambil rute Pekanbaru–Medan–Lhokseumawe–Banda Aceh–Sabang–Medan–Danau Toba–Pekanbaru.

Kegiatan ini berlangsung 14–19 Agustus 2026 ini tidak sekadar menjadi perjalanan wisata, tetapi juga menjadi momentum bagi para alumni untuk kembali berkumpul, mengenang perjalanan masa lalu, sekaligus memperkuat persaudaraan setelah puluhan tahun menyelesaikan pendidikan. Hal yang menggembirakan saat rombongan shalat Zuhur di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, 16/8, situasi keamanan sangat kondusif. Padahal sehari sebelumnya baru terjadi insiden bentrok antara aparat keamanan dengan sekelompok warga yang merayakan Hari Damai Aceh di halaman masjid yang sama.

Selama di Banda Aceh, rombongan juga sempat mengunjungi Kapal PLTD Apung terbawa Tsunami sejauh 5 km dari laut, Museum Tsunami, Pemakaman Beland dan obyek wisata lainnya.

“Alhamdulillah, situasi Kota Banda Aceh sangat kondusif waktu kami menunaikan ibadah shalat Zuhur di Masjid Baiturrahman. Waktu itu kami mendapat jaminan keamanan dari aparat keamanan setempat,” ujar Ir. T. Iskandar Johan, M.Si yang pernah jadi PR III UIR ini saat baru tiba di lokasi masjid tersebut.

Rombongan bertolak dari kawasan Bandar Serai (Ex Arena MTQ), Simpangtiga, Pekanbaru pada Jumat, 14 Agustus 2026, pukul 07.00 WIB.

Di atas bus, diawali Sekretaris Panitia Reuni-wisata selaku MC, Dr. (Can), Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom yang juga mantan Deputi Direktur PT RAPP menjelaskan rute perjalanan dan jadwal rinci rombongan Reuni-wisata Alumni Faperi A’79 Faperi Unri Plus ke Banda Aceh, Sabang, Medan, Danau Toba diikuti 17 orang. “Mengingat jumlah alumni yang tidak mencapai target dengan berbagai alasan maka para alumni diperbolehkan membawa istri, keluarga dan kerabat, sehingga dinamakan Reuni-wisata Alumni Plus,” ujar Fakhrunnas. Sejumlah non-alumni yang ikut di antaranya Dr. Machasin, M.M (Dosen Senior Pascasarjana FEB Unri) bersama istri, Rahmi membawa cucu Sultan Kahfi (5 tahun). Selama dalam perjalanan panjang ini, Sultan menikmati setiap bagian kegiatan tanpa pernah mengeluh. “Saya merasa senang bisa ikut rombongan ini,” kata Sultan senang.

Sementara Ketua Panitia, Ir. T. Iskandar Johan, M.Si mengatakan acara reuni-wisata kali menjadi ajang silaturahim antara sesama alumni bersama keluarga dan pihak kerabat alumni dalam perjalanan panjang sampai Sabang. Rencana ke Aceh ini jauh sebelumnya sudah jadi kesepakatan dalam rapat alumni termasuk Ketua, Sekretaris, Bendahara dan anggota Alumni’79. Tapi menjelang keberangkatan, banyak di antara alumni yang tak ikut berangkat. Kegiatan ini mendapat sumbangan dana Rp. 10 juta dari seorang alumni, Ir. Syafril Tamun, M.T yang juga Kadis PU Riau pada masanya. “Meskipun tidak semua alumni yang berangkat namun komitmen sumbangan tak berubah,” kata Syafril seperti ditirukan Mukhlis Yahfiz. Selain itu kelancaran kegiatan didukung dua relawan masing-masing Dra. Sri Yanti (bidang acara) dan Hj. Tutin Apriyani, SE (bidang konsumsi).

Tulisan Terkait

Puisi-Puisi Muslih Marju

Berita Lainnya

T. Iskandar yang pernah yang juga putra asli Aceh asal Lhok Seumawe ini menjelaskan rute perjalanan dan tempat-tempat yang dikunjungi baik di Aceh maupun Sumut.

Selain itu, Bendahara Panitia, Ir. Mukhlis Yahfiz mengatakan apabila acara reuni-wisata berjalan sukses maka reuni mendatang diarahkan ke Kepri dan Malaysia. Segala sesuatu berkaitan dengan rencana ini dimintakan untuk dipersiapkan oleh alumni yang bertempat tinggal di Batam, Tanjungpinang dan Tg Balai Karimun. Alumni asal Tg Balai Karimun, Ir. Eryadi, M.Mpub yang menyertai Reuni-wisata kali ini menyambut baik rencana tersebut dan akan mengoordinasikan dengan teman-teman alumni di wilayahnya.

Dalam perjalanan ini, rombongan diajak melihat sejumlah objek dan aktivitas menarik, antara lain usaha keramba terapung serta makam Putroe Neng, tokoh sejarah Aceh yang dikenal dalam kisah rakyat karena disebut pernah memiliki banyak suami.

Menyusuri Jejak Sejarah Aceh

Hari Ahad, 16 Agustus, kegiatan rombongan diisi dengan city tour Banda Aceh. Peserta yang berkesempatan mengunjungi destinasi sejarah dan budaya Banda Aceh antara lain Kapal PLTD Apung yang pernah dibawa gelombang tsunami sejauh lima kilometer dari laut. Begitu pula kunjungan di Museum Tsunami Aceh yang letaknya berdekatan dengan Pemakaman Belanda.

Hal yang menggembirakan, rombongan dapat menunaikan shalat Zuhur dan jamak Ashar di Masjid Raya Baiturrahman. Di sela-sela kegiatan, Ketua T. Iskandar memperkenalkan menu masakan khas Aceh saat jamuan sarapan pagi, makan siang dan makan malam. Selain itu rombongan diajak mengunjungi Masjid Baiturrahim di tepi pantai Ulele. “Masjid Baiturrahman dan Masjid Baiturrahim merupakan dua Masjid yang tak tersentuh gelombang tsunami, walaupun kawan sekitarnya dipenuhi air banjir,” cerita Islandar

Setelah sarapan, peserta kembali ke hotel untuk mandi dan mempersiapkan diri sebelum memulai perjalanan wisata sekitar pukul 10.00 WIB.

Rombongan menyeberang ke Kota Sabang di Pulau Weh dilakukan tepat pada Hari Kemerdekaan RI ke 81, 17 Agustus 2026. (FJ/BK)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan