“Puisi Para Penyair dan Sastrawan di Tengah Kabut Asap” Tetap Melawan, Meski Tak Kuasa Memadamkan Hutan dan Lahan yang Terbakar: oleh Marzuli Ridwan Al-bantany

12

Ada yang menarik ketika membaca sebuah esai yang pernah ditulis Acep Syahril–salah seorang sastrawan Indonesia dengan judul Rida K Liamsi: Puisi Tidak Bisa Menaklukkan Corona di Media Cakra Bangsa pada Edisi 3-9 Januari 2022 yang lalu. Jika dikaitkan dengan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi saat ini di Riau, sepertinya tidak jauh berbeda. Puisi-puisi kita, yang lahir dari para penyair seakan menjadi makhluk paling ‘tak berkutik’ bila berhadapan dengan musibah yang mengerikan dan mengkhawatirkan itu.

Judul esai yang diketengahkan Acep Syahril–yang dikenal konsisten berkarya dan berkeliling membacakan puisi di berbagai daerah, yang aktivitasnya tidak hanya berpusat pada penciptaan karya sastra, namun juga pada pendidikan dan penguatan literasi budaya di tingkat akar rumput ini, seolah-olah ‘menyindir’ para penyair, para sastrawan yang dengan puisi-puisi mereka sesungguhnya tak berdaya menaklukkan (mematikan) api Karhutla yang sedang berlangsung. Tetapi perlu diingat bahwa api (karhutla) pun demikian, sampai kapan-pun jua ia tak akan mampu menaklukkan puisi, membungkam mata pena para penyair dan sastrawan dalam menuliskan ekspresinya terhadap suatu musibah yang terjadi, termasuk musibah Karhutla yang mengakibatkan kabut asap dan mencekik tenggorokan-tenggorokan kita.

… Corona tidak bisa menaklukkan puisi. Sebaliknya puisi juga tidak bisa menaklukkan Corona,” sebut Rida K Liamsi seperti ditulis Acep Syahril dalam esainya itu.

Pernyataan sastrawan dan budayawan Melayu Indonesia Datuk Seri Lela Budaya Rida K Liamsi berkaitan wabah Corona (Covid-19) ini secara esensial-nya juga berlaku pada puisi dan musibah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang begitu massif,- yang sampai hari ini masih saja terjadi di Riau atau barangkali di kawasan-kawasan lainnya di Nusantara. Puisi tak bisa menaklukkan api, dan api pun demikian, tak kuasa mematikan sebuah puisi. Kendati demikian, para penyair dan sastrawan di tengah musibah kabut asap yang melahirkan karya sastra berupa puisi, cerpen dan bahkan novel dengan tema kebakaran hutan dan lahan, kabut asap dan/atau yang senama dengannya adalah suatu tanda atau penanda, bahwa dalam suatu masa (bulan, tahun, atau abad) jika suatu daerah pernah dihebohkan oleh suatu bencana yang menyita perhatian publik dan bahkan warga di beberapa belahan dunia lainnya.

Di Riau sendiri, puisi-puisi bertemakan musibah kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap, bukan sesuatu yang baru. Para penyair dan sastrawan sepertinya berulangkali menulis dan menerbitkan antologi puisi mengenainya. Tapi begitulah sebuah bencana kabut asap, kendati sering dikisahkan, diekspresikan dan bahkan disuarakan dengan lantang, namun musibah itu tetap saja terjadi karena barangkali disebabkan keteledoran dan kelalaian kita sendiri dalam menjaga alam dan lingkungan.

Dalam berbagai dinamika kehidupan, termasuk persoalan lingkungan (alam), puisi atau sajak bukanlah tabib yang mampu meniup kepekatan menjadi angin sepoi-sepoi basah. Bait-bait yang dirangkai dengan air mata dan metafora pilihan itu ternyata kehilangan tajinya tatkala berhadapan dengan asap (kabut) beracun yang dibawa angin. Asap datang tanpa iba, merayap lewat celah-celah jendela, meracuni setiap tarikan napas, dan menertawakan usaha para penyair yang mencoba meredam bencana dengan keindahan bahasa.

Di hadapan asap yang lahir dari kebun, semak-semak dan hutan yang merintih, puisi tak ubahya sehelai daun kering yang rapuh. Ia tak memiliki sayap untuk menerbangkan debu-debu jelaga ke angkasa, pun tak punya tangan besi untuk memadamkan bara di dada bumi. Segala rima dan larik-larik puisi yang diagungkan mendadak bisu, teredam oleh suara batuk panjang para lansia dan anak-anak kecil yang kehilangan kenyamanan dan ruang bermainnya di bawah langit jingga kecoklatan.

Maka, alih-alih menaklukkan, puisi justru memilih untuk melebur bersama duka rakyat yang tercekik. Ia menjelma menjadi saksi bisu, mencatat setiap kepedihan, ratapan dan keputusasaan yang dibawa oleh musim kemarau yang panjang. Puisi menyadari betul bahwa dirinya bukanlah perisai baja, bukan banker-banker yang dapat menahan setiap gempuran, melainkan cermin retak yang hanya mampu memantulkan betapa kecilnya manusia di tengah amukan bencana ekologis yang kian menjadi-jadi.

Dari beberapa sumber yang dibaca, berkaitan dengan musibah kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan kabut asap ini, beberapa buku antologi puisi pernah terbit (yang ditulis para penyair dan sastrawan), diantaranya antologi puisi berjudul Riwayat Asap (2016), Membaca Asap (2019), Langit, Asap dan Luka (2019) serta sejumlah buku puisi lainnya.

Sejenak menoleh ke belakang, terutama pada dua dekade terakhir (kurang lebih 20 tahun lalu, sejak pertengahan 2000-an hingga saat ini), Provinsi Riau telah berulang kali menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan berskala besar. Namun, jika merujuk pada tahun-tahun dengan krisis kabut asap terparah, darurat nasional, serta luasan lahan terbakar yang masif, catatan terburuk dalam dua dekade terakhir berpusat pada beberapa tahun utama, yakni pada tahun 2013-2014 yang dinamai sebagai Krisis Asap Rekor. Pada saat itu (awal tahun 2014) karhutla dan kebakaran lahan gambut di Riau melonjak drastis hingga mencatatkan tingkat darurat tertinggi sejak krisis-krisis sebelumnya. Sebelumnya pada tahun 2013, tercatat lebih dari 15.000 hektare lahan terbakar dan melumpuhkan aktivitas serta penerbangan. Daerah terparah terjadi di beberapa kabupaten seperti Bengkalis, Pelalawan, Rokan Hilir, dan wilayah pesisir seperti Kepulauan Meranti (seperti kasus kebakaran hebat di Pulau Padang/Sungai Tohor pada 2014).

Di tahun 2015, yang merupakan bencana asap nasional dan internasional, menjadi salah satu “catatan hitam” terburuk akibat El Nino kuat yang membuat lahan gambut kering kerontang. Asap pekat dari Riau bahkan mencemari negara tetangga dan menjadi salah satu bencana ekologis terburuk di Indonesia. Saat itu, kebakaran terparah terjadi di Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir, Pelalawan, dan Indragiri Hilir.

Kemudian di tahun 2019, Riau kembali dikepung asap tebal yang membuat jarak pandang sangat pendek, memaksa sekolah-sekolah diliburkan dan memicu kemarahan publik akibat dampaknya yang langsung menyerang pernapasan warga. Ribuan hektar lahan kembali hangus di tengah musim kemarau panjang. Kebakaran hutan dan lahan terparah terjadi di daerah Pekanbaru (sebagai wilayah terdampak asap paling tinggi), Bengkalis, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan Pelalawan. Secara umum, wilayah-wilayah di Riau yang memiliki ekosistem lahan gambut luas—dengan Bengkalis, Pelalawan, Rokan Hilir, dan Dumai—selalu menjadi langganan daerah paling parah setiap kali musim kemarau dan karhutla besar melanda dalam dua dekade terakhir.

Di Riau sepanjang 2020–2026 ini, ancaman musibah kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan kabut asap dan kerusakan ekologis belum sepenuhnya tuntas, sekaligus mengonfirmasi apa yang disuarakan oleh para penyair dan budayawan. Alam Riau masih terus menjerit, menuntut komitmen nyata pencegahan yang jauh melampaui indahnya bait-bait puisi maupun retorika penanggulangan semata. Bahkan baru-baru ini kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di sejumlah kawasan di Riau. Bahkan berdasarkan berita yang dimuat di sumut.idntimes.com pada Jumat 28 Agustus 2026, disebutkan bahwa Polda Riau telah mengungkap sebanyak 37 perkara (kasus karhutla) dengan jumlah tersangka sebanyak 40 orang. Adapun luas lahan yang terbakar mencapai 904 hektar. Kasus tersebut saat ini sedang ditangani oleh sejumlah Polres/Polresta di Riau, antaranya Polresta Pekanbaru, Polres Pelalawan, Polres Dumai, Polres Rokan Hilir, Polres Indragiri Hilir, Polres Siak, Polres Bengkalis, Polres Indragiri Hulu, Dirreskrimsus Polda Riau, Polres Kepulauan Meranti, dan Polres Kampar. Akibat kebakaran hutan dan lahan ini (mengakibatkan kabut asap), sejumlah daerah di Riau beberapa hari pada awal pekan lalu sempat meliburkan aktivitas belajar mengajar bagi siswa SD dan SMP/sederajat.

Kembali kepada puisi dank abut asap—meski sampai kapan-pun puisi tak kuasa memadamkan api karhutla (secara fisik), namun puisi tetap akan memikul sebuah peran yang jauh melampaui keindahan estetiknya semata. Ia akan tetap ‘melawan’ ketika larik-larik sastra tak kuasa menjadi perisai fisik untuk mengusir asap yang datang. Ia akan menjelma menjadi suara nurani paling dalam menolak diam.

Seorang teoretikus ekokritik Greg Garrard dalam bukunya yang sangat berpengaruh, Ecocriticism (2004), menyatakan bahwa karya sastra lingkungan berfungsi untuk membongkar pandangan antroposentris—yakni pandangan bahwa alam hanya ada untuk dieksploitasi demi kepentingan manusia.

Dalam konteks bencana asap atau kerusakan hutan, para peneliti sastra (seperti Budi Hartono dkk. dalam jurnal Deiktis, 2025) menegaskan bahwa puisi bertindak sebagai counter-narrative yang menolak anggapan bahwa bencana alam bersifat murni karena takdir atau siklus musiman semata. Puisi menelanjangi akar masalah yang sebenarnya, yaitu keserakahan struktural dan ulah tangan manusia.

Berdasarkan pandangan teoritikus ekokritik dan para peneliti sastra di atas, maka keberadaan karya sastra seperti puisi dinilai paling efektif sebagai narasi tandingan (counter-narrative) dan penggerak kesadaran etis (literasi ekologis) untuk menolak pandangan antroposentris serta merawat daya ingat kolektif terhadap krisis lingkungan. Kendati puisi tidak menawarkan solusi teknis seperti hujan buatan atau pemadaman api, namun ia bekerja pada level afektif (perasaan). Ia mentransformasikan data statistik korban jiwa yang dingin menjadi luka kemanusiaan yang hidup. Hal ini menumbuhkan ecoliteracy—kesadaran moral pembaca agar terbangun rasa tanggung jawab kolektif terhadap kelestarian bumi.

Biarlah asap terus menari di atas penderitaan bumi, sementara puisi tetap setia duduk di sudut sunyi. Ia mungkin tak kuasa mengusir kepekatan atau mengembalikan birunya langit seperti sedia kala, namun ia tidak akan pernah berhenti bernapas. Sebab dalam sesak yang merajam dada, membiarkan puisi tetap hidup adalah satu-satunya cara bagi kita untuk tidak sepenuhnya mati di tengah kepungan debu dan derita.

biarlah api melahap ranting-ranting tua
di hutan dan semak samun di belakang rumah kita
tapi sekali-kali jangan biarkan ingatan ini ikut terbakar
menyala tanpa suara dan diam begitu saja

Wallahu a’lam.
Bengkalis, 29 Agustus 2026

Sumber Rujukan:

1. Garrard, Greg. (2004). Ecocriticism: The New Critical Idiom. London & New York: Routledge.
2. Hartono, Budi., Massaguni, Masnita., & Al Furqan. (2025). Analisis Ekokritik Kumpulan Puisi Berjudul Krisis Ekologi: Bumi yang Merintih Karya Budi Hartono. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Sastra, 5(3), 1472–1485.
3. Hidayah, Nurul. (2026). Representasi Dampak Krisis Lingkungan dalam Puisi-Puisi Karya Taufiq Ismail: Kajian Ekokritik Greg Garrard. Morfologi: Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya, 4(2), 91–101.
4. Media Cakra Bangsa, Edisi 3-9 Januari 2022, hal. 3. Acep Syahril, Rida K Liamsi: Puisi Tidak Bisa Menaklukkan Corona.
5. Suharwati, Ike., Tabrani, Akhmad., & Badrih, Moh. (2026). Representasi Ekologis Dalam Puisi Indonesia Kajian Ekokritik Dan Implementasi Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. ARMADA: Jurnal Penelitian Multidisiplin, 4(5), 901–909.

Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penulis, penyair dan sastrawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Ia tidak hanya menulis esai maupun artikel budaya dan sastra, namun juga menulis puisi, cerpen dan novel serta membukukan karya-karya sastranya itu. Bersama sejumlah penulis lokal lainnya di Bengkalis, ia juga menulis buku non fiksi seperti buku berjudul Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengkalis: Meneladani Sosok dan Perjuangan (jilid 1 & 2). Sejumlah organisasi sosial dan kemasyarakatan turut ia sertai, diantaranya aktif di struktur Majelis Kerapatan Adat LAM-R Kabupaten Bengkalis, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bengkalis dan Anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kabupaten Bengkalis. Ia juga sering didaulat dalam memberikan materi pelatihan tentang tulis-menulis, serta menjadi juri menulis cerpen, puisi dan lomba bersyair.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan