Sungguh malang, kamu mengutukku untuk segalanya! Baiklah, biar kuberi pertanyaan lain padamu. 1)
SOKRATES: O! Cawan yang kuacungkan ini, sudah pun penuh berisi hemlock yang manis tapi mematikan! Yang menjanjikan keabadian! Maka, terimakasih harus kusampaikan kepada semua! Kepada Rakyat Athena! Kepada Miletus! Kepada 501 Juri! Kepada Plato! Bagaimana pun, cawanku ini berbentuk sebuah piala! Hura!
PLATO: Hura!
ALCIBIADES: Hura! Kemenangan Rakyat Athena yang menjijikkan!
MILETUS: [menggumam entah apa].
SOKRATES: Ada apa denganmu, Alcibiades? Kenapa pula dengan mulutmu, Miletus? Alcibiades muridku tersayang, apa yang kaupikirkan tentang kata kemenangan itu? Apa pula menjijikkan itu?
ALCIBIADES: Aku sudah bertempur di berbagai medan perang, dan kau pun sudah pernah menyelamatkan jiwaku, wahai Guru. Ada ribuan kematian di sana. Panah, tombak, pedang, dan bahkan bongkah-bongkah batu meremukkan tubuh-tubuh dan kepala-kepala mereka. Kematian yang mengerikan, Guru. Tetapi, tidak ada yang lebih menjijikkan daripada Pengadilan ini. Sementara kemenangan di dalam medan perang, adalah kemegahan yang didapatkan dengan perjuangan keras; tetapi tidak di dalam Pengadilan ini.
MILETUS: Engkau mengutuk 501 Juri, Alcibiades? Engkau juga mengutuk Rakyat Athena, wahai Perayu Wanita? 2)
SOKRATES: Memang benar apa yang kaukatakan itu, Alcibiades. Tetapi engkau belum sungguh-sungguh menjawab pertanyaanku. Apakah engkau punya penjelasan yang lebih baik? Sementara untukmu, Miletus, ada waktunya. Kesabaran adalah sebuah kebajikan, bukan?
ALCIBIADES: Guruku, dalam sebuah medan pertempuran, kedua belah pihak sudah tahu masing-masing berhadapan dengan siapa dan apa yang sedang mereka pertempurkan. Baik pihak yang lebih kuat atau yang lebih lemah, sudah tahu mereka akan saling berhadapan dan tahu apa resiko yang akan mereka hadapi. Tetapi engkau Guruku, terpaksa berhadapan dengan seluruh rakyat Athena dengan segala hal yang absud dituduhkan kepadamu. Sementara engkau adalah seorang filsuf yang paripurna, sedang mereka bukan siapa-siapa! Hanya karena menang jumlah dalam sistem yang gila angka, kau harus meminum benda haram jadah itu.
MILETUS: Sekarang, engkau mengutuk demokrasi, Alcibiades!
DEMOKRITUS: Dia mengutuk apa pun yang berbau Athena. Padahal, dia juga bukan Sparta, apalagi Persia!
SOKRATES: Alcibiades muridku tersayang, sudah sering kukatakan bahwa aku tahu ternyata aku tidak tahu apa-apa. Orakel Delphi mengatakan bahwa aku adalah manusia yang paling bijaksana, ribuan orang yang kutanya dan kutanya dan kutanya tak dapat menuntaskan jawabannya. Jadi, aku bukanlah siapa-siapa, Alcibiades. Apalagi paripurna. Aku sama belaka dengan semerata rakyat Athena. Kecuali setelah aku meminum nektar yang agaknya bersalin rupa serupa racun cemara ini?
MILETUS: Ya, nektar itu akan membuatmu abadi seperti Dewa-dewamu, Sokrates.
DEMOKRITUS: Aha!
ALCIBIADES: Jangan berbuat bodoh, Guru!
SOKRATES: Terimakasih, Miletus. Kau juga, Demokritus. Kalian berdua memang perwakilan Rakyat Athena yang tiada tara, yang tahu segala cara bagaimana menjalankan sistem pemerintahan kota ini. Tetapi kepadamu, Alcibiades, apakah ada kebajikan yang lebih besar selain menjalankan perjanjian? Aku lahir di alam Athena, dan aku terikat dalam perjanjian-perjanjiannya. Aku dibesarkan dan dididik di alam Athena, dan aku berutang dalam perjanjian-perjanjiannya. Aku bertanya bertanya dan bertanya kepada ribuan rakyat di alam Athena dan aku berkelimpahan dengan jawaban-jawabannya. Apakah aku harus menafikan semuanya itu, muridku?
ALCIBIADES: Benar semua yang engkau katakan, Guru. Tetapi bukan itu yang aku maksudkan. Engkau juga benar dengan mengatakan bahwa engkau ternyata tidak tahu apa-apa sehingga dengan demikian engkau menyamakan dirimu dengan kebanyakan rakyat Athena, padahal mereka merasa tahu segalanya; seperti Miletus dan Demokritus ini. Maka, kalau pun menggunakan pernyataan itu, seharusnya Pengadilan itu baru menjadi adil bila engkau juga boleh hadir dengan 500 pengikutmu. Tetapi engkau hanya sendiri, dan itu berarti engkau senilai dengan 501 Juri!
SOKRATES: Ai, engkau benar agaknya dengan angka-angka itu, Alcibiades. Mari kita kumpulkan 500 pengikut, dan tentu 500 cawan lagi. Apakah demikian, muridku?
ALCIBIADES: [merengut; melipat tangan].
MILETUS: Dia gila!
DEMOKRITUS: Aritmatika anak ini hanya ada di medan perang.
MILETUS: Dia ingin menyamakan demokrasi dengan medan pertempuran. Dia tidak mengerti bahwa Rakyat Athena adalah satu kesatuan dan dengan demikian adalah satu, angka yang jelas adil untuk melawan kesendirian Sokrates. 1 dan 1.
SOKRATES: Benar, Miletus. Rakyat Athena adalah sebuah satu kesatuan, yang dengan demikian jelas sangat adil untuk berhadapan dengan aku yang sendiri. Tetapi Miletus, dapatkah engkau menjelaskan apa maksudmu dengan kesatuan itu? Lalu, engkau yang menuntutku, ada di posisi mana? bagaimana pula dengan 501 Juri?
MILETUS: Kesatuan tidak dapat dipisahkan dengan satu, sehingga secara keseluruhan harus disebut sebagai satu kesatuan.
SOKRATES: Baiklah, engkau benar, Miletus. Dan, apa itu?
MILETUS: Satu kesatuan adalah sekumpulan berbagai entitas.
SOKRATES: Aku percaya itu, Miletus. Namun aku kurang paham, apakah masing-masing entitas itu berbeda pada mulanya dan kemudian menjadi sama ketika disatukan dalam satu kesatuan?
MILETUS: Begitulah.
SOKRATES: Tetapi, Miletus, kalau mereka masing-masing berbeda, bagaimana engkau bisa menyamakan, bisa menyatukan mereka?
MILETUS: Ada unsur kesamaan yang membuat mereka menjadi satu kesatuan; tentu saja. Dalam hal satu kesatuannya Rakyat Athena, mereka adalah sama-sama manusia; itu jelas. Mereka juga sama-sama penduduk Athena. Begitulah di antaranya.
SOKRATES: Baiklah, berarti setelah dalam satu kesatuan sebagai Rakyat Athena, mereka semua menjadi sama dan satu?
MILETUS: Begitulah.
SOKRATES: Apakah aku penduduk Athena, Miletus? Kalau tidak, tentu engkau tidak berhak menuntutku dalam hal ini, bukan?
MILETUS: Ya, untuk kedua pertanyaan.
SOKRATES: Ah, berarti kita telah menjadi sama dan satu, Miletus. Bagaimana kalau engkau saja yang meminum nektar pahit ini?
MILETUS: [menggerutu tak jelas].
DEMOKRITUS: Miletus mungkin kurang jelas mengungkapkan maksud yang sebenarnya bagimu, Sokrates. Jadi, biarkan aku mewakilinya kali ini. Yang dimaksud dengan satu kesatuan Rakyat Athena adalah dalam hal sistem pemerintahan, Sokrates. Yaitu demokrasi. Bukan dalam pengertian menjadi sebuah entitas tunggal dalam pengertian fisikal maupun esensial. Sebagai satu kesatuan dalam demokrasi, dengan demikian setiap penduduk Athena memiliki hak, kewajiban, dan tanggungjawab yang sama dan setara. Tidak ada yang lebih tinggi daripada yang lain. Tidak ada yang lebih istimewa dibanding yang lain. Sehingga di dalam demokrasi, sejatinya seluruh Rakyat Athena lah yang mengatur diri mereka sendiri. Namun, meskipun mereka satu kesatuan dalam demokrasi, secara substansi mereka masing-masing adalah tetap pribadi yang unik, seperti atom-atom yang membentuk mulekul-mulekul yang membentuk benda-benda.
SOKRATES: Sepertinya engkau telah membuatnya lebih jelas, Demokritus. Lidah panjangmu itu tampaknya memang berguna. Engkau mengatakan bahwa Rakyat Athena bukanlah dalam pengertian sebuah entitas tunggal; melainkan – kalau boleh aku simpulkan – hanyalah sekumpulan penduduk Athena. Benar begitu?
DEMOKRITUS: Benar.
MILETUS: Bukan, Demokritus. Mereka adalah sebuah entitas tunggal!
DEMOKRITUS: Tidak. Mereka hanya terikat dan terbentuk dalam sebuah sistem. Masing-masing mereka adalah substansi yang berbeda.
MILETUS: Kita di sini tidak berbicara tentang masing-masing, tetapi tentang Rakyat Athena. Rakyat Athena adalah sebuah entitas tunggal, karena kalau tidak demikian, ia hanya akan menjadi sekumpulan ikan di dalam jaring!
DEMOKRITUS: Kalau kau mau menganalogikan dengan jaring, jaring itulah sistem itu; tetapi tentu penduduk Athena bukan menggelepar-menggelepar di dalamnya, melainkan berpikir, berkehendak, bertindak, dan berperilaku sebagaimana yang diatur oleh jaring-jaring itu.
SOKRATES: Baiklah, aku akan menerima pemikiran kalian berdua. Mari kita analogikan bahwa penduduk Athena adalah satu makhluk raksasa yang perkasa ketika berkumpul menjadi Rakyat Athena, seperti yang dimaksud Miletus. Dan sebagaimana setiap makhluk – tentu saja ini harus demikian, karena kalau tidak ia tidak akan menjadi sebuah makhluk – harus ada kesadaran dan naluri dan kecerdasan yang akan membuatnya dapat berpikir, berkehendak, bertindak, dan berperilaku sebagaimana seharusnya. Jadi, siapakah yang melakukan itu sesungguhnya? Apakah seluruh otak dan hati para penduduk Athena itu dikumpulkan dalam sebuah cawan besar di agora?
DEMOKRITUS: Analogimu terlalu bersifat fisikal, Sokrates. Raksasa Miletus mu itu terlalu mengada-ada. Dan sarkasmemu masih juga bekerja.
SOKRATES: Mungkin engkau benar, Demokritus. Maafkan aku. Tapi maksudku dengan otak dan hati adalah selain kias perangkat yang mewakili kecerdasan dan kebajikan naluriah makhluk hidup, juga sistemmu itu Demokritus; itu pun kalau engkau bersepakat bahwa Rakyat Athena adalah suatu dan satu makhluk hidup.
DEMOKRITUS: Tentu saja! Jadi begini, Sokrates. Ya, bukan keseluruh otak dan hati itu dikumpulkan dalam satu wadah dan kemudian diperas di sana, melainkan seluruh hasil pemikiran dan kebajikan itu yang dikumpulkan dan kemudian dari itu diambillah sebuah keputusan bersama.
SOKRATES: Nah, sekarang siapa yang berpikiran fisikal. Jadi, engkau ingin mengatakan bahwa pada akhirnya pemikiran 1.000 otak lebih cerdas daripada 1 otak. Kebajikan 1.000 hati lebih bijak dibanding 1 hati. Benar demikian?
DEMOKRITUS: Sejalan dengan konsep atom-atom.
SOKRATES: Tetapi aku masih kurang paham, Demokritus. Bagaimana cara menyatukan ribuan otak dan hati itu? Tak mungkin dengan meletakkannya di dalam sebuah tangki – seperti katamu tadi, bukan? Tentu ada mekanisme lain untuk melakukannya.
DEMOKRITUS: Tentu tidak, bukan dalam tangki, itu bodoh sekali. Ada jejaring tak berwujud, ada sistem yang menanganinya. Itulah demokrasi.
SOKRATES: Begitulah. Itulah yang barangkali kalian sebut sebagai mekanismenya. Tetapi Demokritus, apakah mereka semua sepakat dalam berbagai hal? Tentu harus sepakat, bukan? Kalau tidak, sistem itu tidak berjalan dan percumalah raksasa Rakyat Athena itu.
DEMOKRITOS: Tentu mereka harus sepakat.
SOKRATES: Ah, harus! Sayangnya baru engkau berdua dengan Miletus saja sudah tidak sepakat tentang baru satu hal saja.
MILETUS: Kami bukan tidak sepakat, Sokrates. Kami hanya memperdebatkan mana yang lebih tepat.
SOKRATES: Ya, seperti juga yang sering aku lakukan dan kalian permasalahkan. Baiklah. Biarlah begitu. Lalu, di antara ribuan otak dan hati itu, yang manakah yang akan mengungkapkannya? Tentu tidak mungkin secara bersama-sama karena pasti akan ribut dan riuh-rendah sekali, bukan?
DEMOKRITUS: Tentu saja tidak. Mereka akan diwakili oleh satu atau beberapa di antara mereka sendiri; sesuai kebutuhan. Yang mewakili inilah yang akan melaksanakan segala sesuatu kepentingan Rakyat Athena.
SOKRATES: Apakah yang mewakili lebih tinggi atau lebih rendah daripada yang diwakili, Demokritus? Kalau yang mewakili lebih tinggi, maka sesungguhnya runtuhlah konsep sistem demokrasi itu, bukan? Tidak mungkin yang lebih tingggi mengabdi pada yang lebih rendah. Kalau yang mewakili lebih rendah, selain sistem itu juga tetap runtuh, bagaimana mungkin raksasa itu dapat mempercayainya melaksanakan hal-hal di luar kemampuan wakilnya?
MILETUS: Engkau mengatakan sesuatu yang lain untuk sesuatu hal yang lain, Sokrates. Analogimu terlalu mengikuti Demokritus.
SOKRATES: Baiklah, Miletus. Aku percaya engkau telah mengatakan kebenaranmu. Pertanyaanku berikutnya mungkin akan kembali ke titik agak awal: apakah setiap otak itu memiliki kecerdasan yang sama, dan setiap hati itu memiliki kebajikan yang sama pula?
MILETUS: Jelas tidak!
DEMOKRITUS: Tentu tidak, Sokrates. Semua orang juga tahu itu. Penduduk Athena bukanlah seperti produk pabrikasi. Setiap orang memiliki keunikannya sendiri-sendiri.
SOKRATES: Ya, aku percaya hal itu. Tentu engkau tidak ingin dipersamakan dengan Si Fulan bukan, Demokritus? Atau Miletus tentu juga tidak ingin disamakan dengan si Falun, bukan? Tetapi, kalau tidak ada kesamaan di situ, bagaimana mungkin akan ada kesetaraan di dalam satu kesatuan Rakyat Athena? Miletus, apakah kedudukanmu sebagai penuntut ini bersedia engkau serahkan kepada Si Fulun? Atau para 501 Juri, apakah mereka bersedia menyerahkan jabatannya kepada 501 Falan? Atau 30 tiran, bersediakah mereka menyerahkan kekuasaannya pada 30 Folon? Apakah demokrasi akan begitu bermurah hati, Demokritus? Miletus?
PLATO: Mereka berdua sepertinya tidak ingin bicara lagi, Guru.
SOKRATES: Itulah agaknya kesalahanku, wahai Murid yang membuatku abadi. Aku selama ini berusaha membuat mereka semua menjawab dan berbicara, tetapi akhirnya mereka hanya menjadi terdiam.
PLATO: Engkau adalah yang terbaik, Guruku. Tidak ada yang salah tentang berbicaranya mereka, atau diamnya mereka. Itu pilihan mereka sendiri. Itu adalah kehendak bebas mereka sendiri. Engkau tidak pernah memaksakan kehendakmu.
SOKRATES: Tidak, tentu aku tidak. Tetapi mungkin pertanyaan-pertanyaanku yang telah memaksa mereka, sehingga mereka tidak punya pilihan sendiri. Lagi pula, apa itu kehendak bebas, Muridku? Apakah ada kehendak bebas itu? Bagaimana dia? Bagaimana dia berinteraksi dengan lingkungannya?
PLATO: Guru, aku hanya berbicara tentang orang-orang yang pernah berbicara denganmu seperti kedua orang sahabat ini, dan bagaimana kemudian akhir reaksi mereka sebenarnya adalah pilihan pribadi mereka sendiri. Guru tidak pernah menyuruh mereka diam, bukan? Kehendak bebas mereka membuat mereka mampu mengambil keputusan untuk diri mereka sendiri. Meski bagaimana pun, mereka sebenarnya tetaplah sekadar bayang-bayang forma mereka yang lebih sempurna, yang berada di balik batu dan di balik suar lampu. Tetapi mereka tidak tahu.
SOKRATES: Kalau begitu, kehendak bebas itu sepertinya tidak ada, benar? Apakah cawan ber-hemlock ini adalah sebuah kehendak bebas, Plato?
PLATO: Bukankah mereka hanya objek, Guru?
SOKRATES: Jadi, maksudmu kehendak bebas hanya ada pada subjek? Apakah Rakyat Athena subjek atau objek, Plato?
DEMOKRITUS: Mereka adalah dua-duanya. Sebagai Rakyat Athena mereka adalah subjek, sebagai rakyat Athena mereka adalah objek.
MILETUS: Begitulah.
ALCIBIADES: Absurd!
PLATO: Tetapi sesungguhnya tidak ada Rakyat Athena, Guru.
SOKRATES: Baiklah Demokritus dan Miletus, engkau sudah mempertentangkan dua hal yang sudah jelas. Kau pula Alcibiades, sebuah kebanggaan yang mengecewakan. Dan kau Plato, engkau menghilangkan sesuatu yang memang tidak ada karena ia ada tersebab diadakan.
PLATO: Kalau begitu, Guru, bagaimana dengan pialamu?
SOKRATES: Bukankah sudah jelas, Muridku? Atau kukatakan saja, and that to which an end is appointed has also an excellence? Need I ask again whether the eye has an end? 3)
Payungsekaki, 0214|0926.
CATATAN :
1) Sokrates dalam Crito dalam Hari-hari Terakhir Socrates, Plato, terj. Eleonora Bergita, Elex Media Komputindo, 2011, h:131.
2) Sejarah Filsafat, Robert C Solomon dan Kathleen M Higgins, terj. Saut Pasaribu, Bentang Budaya, 2000, h:86.
3) Sokrates dalam The Republic, Plato, The Electronic Classics Series, terj. ke Bahasa Inggris: Benjamin Jowett, Ed.: Jim Manis, English Department of The Pennsylvania State University, 1998 – 2013, h:43.
[] [] []
“Cawan Sokrates”
Rifadillah Sarin (namapena: sulong a’dzam shuhuf)
Jl. Srikandi II/27 Kel. Delima – Pekanbaru.