Sebuah karya sastra, seperti sajak atau puisi yang dilahirkan dari jemari seorang penyair, sesungguhnya memiliki keistimewaan yang luar biasa. Ia bukan sekadar susunan kata yang dirangkai sedemikian rupa—menawan dan memikat, melainkan cerminan emosi, perenungan mendalam dan kepekaan jiwa yang mampu menembus batas waktu. Melalui permainan retorika, ritme, dan kekuatan tipografi, penyair mengubah realitas yang sederhana menjadi kanvas makna yang kaya, memungkinkan pembaca untuk merasakan getaran rasa yang mungkin sulit diungkapkan dalam bahasa sehari-hari.
Keindahan bahasa figurative (kiasan atau tidak bersifat harfiah/sebenarnya) serta kedalaman pesan imajinatif inilah yang menjadikan sajak seorang penyair tidak hanya menyentuh aspek estetika belaka, tetapi juga mampu menggetarkan nurani dan menghidupkan kembali empati manusia di tengah dinamika kehidupan.
Begitu halnya pada sebuah sajak berjudul airmata ediruslan: oktober, haul ediruslan pe amanriza, al-azhar, yoserizal zein, edi ahmad rm yang ditulis penyair dan musisi Riau Zuarman Ahmad, yang kemudian diposting di dinding facebook miliknya pada Sabtu (17/10) dini hari. Sajak (teks) ini bukan sekadar sebagai balada duka atas berpulangnya para pilar kebudayaan Melayu, melainkan sebuah elegi kekhawatiran massal: kabar duka tentang keheningan yang pelan-pelan menelan panggung kesenian Riau pasca-kepergian para maestronya.
Airmata Ediruslan Pe Amanriza (salah satu sastrawan besar Riau) yang jatuh menimpa atap Anjung Seni Idrus Tintin sebagaimana yang ditulis Zuarman Ahmad dalam sajak ini, bukanlah sekadar tetesan air semata fisik, melainkan metafora dari pusaka jiwa dan kerinduan kolektif. Ketika air mata itu dikiaskan renyuh (melulut dan hancur) menimpa atap Anjung Seni Idrus Tintin hingga merembes ke panggung yang “mulai rapuh dan terbiar“, Zuarman sesungguhnya sedang melukiskan potret buram ekosistem kebudayaan kita hari ini. Panggung fisik dan panggung intelektual kesenian Melayu Riau kini tampak kehilangan taji, melapuk, dan terabaikan.
airmata ediruslan jatuh nimpa atap anjung seni idrus tintin
renyuh ke lantai ke panggung yang mulai rapuh dan terbiar
Dalam sajak ini, daya magisnya terletak pada keberanian Zuarman Ahmad menggelar “ruang memori” kita. Ia menyebut secara beruntun deretan ruang dan nama tempat—Anjung Seni, Dewan Kesenian Riau, Cenayang Hasan Junus, Laman Bujang Mat Syam, Bandar Serai Orchestra, Akademi Kesenian Melayu Riau, Majalah Sagang, dan lain-lain—yang disandingkan dengan deretan tokoh legendaris seperti Tenas Effendi, Rida K Liamsi, dan Al-Azhar. Tempat-tempat tersebut tak lagi sekadar beton atau lembaga formal, melainkan situs kebudayaan yang kini berubah menjadi ruang hampa. Repetisi nama tempat dan tokoh ini menciptakan gema kerinduan yang memilukan: membandingkan betapa riuhnya dinamika intelektual masa lalu dengan kesunyian mencekam yang melingkupi Riau hari ini.
Coba salami dan hayati larik berikutnya dari sajak ini:
cahaya lampu yang maram dan muram
membalut kesunyian seniman bandarserai
merebak di ruang-ruang ajung seni idrus tintin, di ruang-ruang dewan kesenian riau, di ruang cenayang yang agung hasan junus, di laman bujang mat syam, di ruang bandar serai orchestra, di kelas akademi kesenian melayu riau, di ruang majalah sagang, di ruang tennas effendi, di ruang rida k liamsi, di ruang al-azhar,
tak terdengar derai tawa
gelak merahai
seperti dulu
ketika ediruslan, idrus tintin, hasan junus, bujang mat syam
sepi menikam bunyi
Aduhai, kerinduan yang tak terperi bagi seorang penyair seperti digambarkan Zuarman Ahmad dalam sajaknya ini. Perhatikan bagaimana ia membenturkan dua atmosfer zaman. Vitalitas era keemasan (golden era) yang dulu dipenuhi “gelak merahai“—simbol kehangatan diskusi dan gairah berkarya—kini dihantam oleh personifikasi yang sangat dingin: “sepi menikam bunyi“. Sepi di sini bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan senjata tajam yang membunuh denyut kreativitas. Keheningan pasca-kematian para pilar budaya itu terasa begitu pekat hingga tahap menyakitkan (menikam).
Pada sajak berlini masa 9 Oktober 2019 ini, penyair dengan tegas menyuarakan bahwa bulan Oktober adalah bulan kesedihan, bulan kehilangan sejumlah penyair Riau. Mereka yang wafat dan kembali ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa pada bulan Oktober itu antara lain almarhum Edi Ruslan Pe Amanriza (3 Oktober 2001), almarhum Al-Azhar (12 Oktober 2021), almarhum Yose Rizal Zein (4 Oktober 2024), dan almarhum Edi Ahmad RM (12 Oktober 2026). Keempat penyair, seniman dan budayawan ini adalah diantara deretan nama, tokoh besar, figur yang selama ini berjasa dalam seni dan kebudayaan di tanah Riau. Kehilangan mereka sesungguhnya duka. Namun duka yang lebih besar adalah ketika aktivitas seni dan budaya menjadi sunyi setelah ketiadaan mereka.
Kendati pada sajak Zuarman Ahmad mengisahkan duka dan air mata atas kepergian sejumlah penyair di bulan Oktober ini, namun di tengah kesunyiannya itu ia masih sempat bertanya tentang nasib sejumlah seniman lain, seperti di mana Rusli, ke mana perginya Herlela Ningsih. Bahkan dengan jujur ia menyuarakan jika beberapa seniman yang tersisa kini, masih tetap bergerak meski hari terasa sunyi. Namun gambaran yang ia hadirkan sungguh tragis. Ia melukiskan para seniman hidup, yang terus bergerak dalam keterasingan dan keputusasaan:
dimana rusli
kemana herlela ningsih, sementara
junaidi alwi mencari teater yang hilang di sepanjang jalan pekanbaru, dan…
konon, dantje s moeis, armawi kahar, minikam-nikam lukisan di ruang hampa tak berwarna, sementara
john kobet mencari malayu yang hilang di hutan-hutan gua sikapir
kampus uu hamidi hilang di rimba kepungan sialang
Pencarian teater di jalanan Pekanbaru oleh Junaidi Alwi adalah cermin dari gerak seniman yang kehilangan panggung di tengah gempuran modernisasi kota. Lukisan yang “ditikam-tikam” di ruang hampa adalah puncak frustrasi atas ekspresi seni yang kehilangan apresiator. Sementara pencarian “Melayu yang hilang di hutan-hutan” serta kampus UU Hamidi yang dikepung sialang menjadi metafora kelam atas tergerusnya akar tradisi dan kearifan lokal Melayu oleh alih fungsi lahan dan perubahan zaman yang rakus.
Sajak Zuarman Ahmad ini kemudian ditutup dengan sesuatu yang menyentak dan begitu tegas—sajak yang ditutup bukan dengan harapan, tapi dengan pengakuan paling telanjang untuk seorang seniman Melayu:
duhai, sahabatku ahmad david di sorolangun jambi
kini kita hanya menunggu maut
Perhatikanlah! Dalam larik penutup ini, tak ada metafor lagi. Tak ada Anjung lagi. Hanya dua orang sahabat yang saling menyapa dari dua provinsi yang berbeda, Riau dan Jambi. Keduanya sepakat bahwa yang tersisa hanya menunggu maut, kematian yang suatu saat akan datang menjemput. Kalimat penutup itu terasa sangat jernih karena ia menyerah. Dan justru karena menyerah itulah, ia menjadi tajam. Ia seakan menampar wajah kita yang muda, dan seolah berkata: “Jika kalian tak datang mengambil pelita itu sekarang, maka tunggulah, sebentar lagi tak akan ada lagi yang perlu ditangisi. Karena semua yang menangis pun sudah mati.”
Sajak “airmata ediruslan” pada akhirnya berhasil keluar dari jebakan sentimentalitas pribadi. Ia mengubah duka individual menjadi cermin keprihatinan massal atas nasib kebudayaan Melayu. Kekuatannya bukan lagi pada rima, tapi pada keberanian merekam daftar ruang yang kosong, daftar nama yang hilang, dan daftar cahaya yang kian maram. Kelemahannya? Mungkin ia terlalu jujur. Terlalu menyebut nama secara terang-terangan sehingga bagi pembaca di luar Riau, ia terasa seperti kabar lokal. Tapi bagi kita yang tinggal di Bengkalis, di Siak, Dumai, di Pekanbaru dan daerah-daerah lainnya di tanah Riau ini—yang pernah bertaut dengan ruang-ruang seni di Riau, membaca sajak ini ibarat menatap cermin yang jernih—dan seperti biasa, cermin yang terlalu jernih kerap kali menyajikan kenyataan yang menyakitkan.
Secara keseluruhan, sajak ini adalah puncaknya kemasygulan (kesedihan, kekesalan). Penyair merasa generasi seniman penjelajah/penjaga benteng budaya Melayu masa itu sudah berada di penghujung zaman, satu persatu menghadap Tuhan.
Kendati demikian, sebagai generasi muda kita tak boleh berdiam diri dan berpangku tangan, membiarkan seni dan budaya ini mati dan terkubur begitu saja. Dalam kondisi zaman yang penuh tantangan ini, sekecil apapun peran kita, berbuat dan teruslah berbuat: menjadi pilar yang kuat dalam merawat khazanah kebudayaan agar selamanya tetap tumbuh dan berkembang.
Akhirnya, tak siapa pun dari kita yang mampu mencegah datangnya kematian. Takdir hidup yang telah dijanjikan.
Alfatihah buat para seniman dan budayawan Riau yang telah mendahului kita. Semoga Allah SWT sentiasa mencucuri rahmatnya ke atas diri mereka. Amin ya rabbal ‘alamin.
Wallahu a’lam.
Bengkalis, 17 Oktober 2026
Marzuli Ridwan Al-bantany adalah sastrawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Ia menulis puisi, cerpen, novel dan esai/artikel budaya. Selain tercatat sebagai salah seorang ASN di Bengkalis, beliau juga berkiprah di TP2GD Kabupaten Bengkalis, LAM Riau Kabupaten Bengkalis, MUI Kabupaten Bengkalis dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Kabupaten Bengkalis, Saat ini beliau juga dipercaya menakhodai organisasi Perkumpulan Penulis Bengkalis (Penalis).