Sudarno Mahyudin: Dari Ruang Sejarah: oleh Musa Ismail

11

Bismillah,

Dalam peta kesusastraan Indonesia, sastra daerah memiliki peran penting sebagai ruang penyimpan ingatan kolektif. Melalui karya sastra, pengalaman masyarakat, sejarah lokal, adat, tradisi, dan pandangan hidup dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam konteks sastra Riau, Sudarno Mahyudin merupakan seorang pengarang yang memperlihatkan hubungan erat antara sastra, sejarah, dan kebudayaan. Ia tidak hanya produktif menulis novel dan cerita rakyat, tetapi juga menghasilkan naskah teater, skenario film, buku kebudayaan, serta tulisan sejarah lokal. Karena itu, membaca karya Sudarno berarti memasuki dunia yang mempertemukan sastra dengan ingatan masyarakat Riau.

Sudarno Mahyudin lahir di Bagansiapiapi pada 26 September 1940. Ia memulai pendidikan di Sekolah Rakyat Bagansiapiapi pada 1947 dan menamatkannya pada 1953. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di Surakarta, Jawa Tengah. Ketika duduk di bangku SMA, bakat kepengarangannya mulai tumbuh. Ia aktif mengisi majalah dinding sekolah dan kemudian mulai mengirimkan karya ke berbagai media. Pada 1965, karya-karya berupa cerita pendek dan cerita bersambung mulai dipublikasikan di sejumlah media di Medan dan Pulau Jawa. Setelah menyelesaikan SMA, Sudarno melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namun, pendidikannya tidak sampai selesai dan ia hanya menempuh hingga tingkat dua. Pada akhirnya ia kembali ke Bagansiapiapi dan menjalani berbagai pekerjaan. Ia pernah menjadi guru di sekolah swasta dan kemudian dipercaya sebagai kepala sekolah Perguruan Wahidin. Pada 1970-an ia menjadi pegawai negeri dan bertugas di lingkungan Kantor Imigrasi Bagansiapiapi. Setelah pensiun, aktivitasnya dalam bidang kebudayaan tetap berlanjut antara lain melalui Yayasan Wahidin dan Lembaga Adat Melayu Kabupaten Rokan Hilir.

Perjalanan hidup tersebut memperlihatkan bahwa kepengarangan Sudarno tidak lahir dari ruang akademik sastra semata. Lingkungan sosial dan kebudayaan tempat ia tumbuh menjadi sumber penting bagi kreativitasnya. Cerita orang-orang tua, kehidupan masyarakat, sejarah kerajaan di Riau, serta tradisi lisan koba masyarakat Rokan Hilir menjadi bagian dari sumber inspirasinya. Dalam penelitian Junianto, Ahmal, dan Fikri, koba disebut sebagai tradisi lisan yang memuat unsur pendidikan, adat, dan sejarah. Bahan-bahan kebudayaan tersebut kemudian diolah Sudarno menjadi cerita, novel, naskah teater, dan bentuk tulisan lainnya.

Di sinilah suatu ciri penting kepengarangan Sudarno Mahyudin: sastra digunakan sebagai sarana merawat kebudayaan. Ia tidak memandang budaya lokal sebagai sesuatu yang hanya menjadi milik masa lalu. Tradisi, sejarah, dan cerita masyarakat justru dapat diberi kehidupan baru melalui bahasa sastra. Karya seperti Hikayat Muda Cik Leman, Menentang Matahari, Puteri Hijau dari Pekaitan, Insiden Kapal Nautilus, dan Pahlawan Perang Dalu-Dalu memperlihatkan ketertarikannya terhadap cerita sejarah dan kebudayaan Riau. Ia juga ikut menyusun Tata Krama Melayu (Suatu Warisan Budaya) yang diterbitkan Gurindam Press pada 2006.

Perhatian Sudarno terhadap sejarah lokal bahkan tampak sangat kuat dalam sejumlah karyanya. Salah satu contoh penting adalah Pergolakan Pereban: Cerita Perjuangan Rakyat Akit Bengkalis dalam Menentang Penjajahan Belanda. Buku tersebut mengisahkan perjuangan seorang pemuda masyarakat Akit bernama Koyan dalam menghadapi kekuasaan kolonial di Pereban. Katalog Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau mencatat edisi ketiga buku ini diterbitkan di Pekanbaru oleh Yayasan Pusaka Riau pada 2006 dan berjumlah 107 halaman. Karya tersebut menarik karena mengangkat pengalaman sejarah masyarakat yang selama ini tidak selalu berada di pusat narasi sejarah nasional. Masyarakat Akit ditempatkan sebagai subjek cerita, dengan pengalaman, perjuangan, dan persoalan mereka sendiri. Sastra Sudarno dapat dibaca sebagai usaha mendekatkan sejarah kepada manusia dan masyarakat yang mengalaminya. Sejarah tidak lagi sekadar deretan tanggal dan nama tokoh, tetapi menjadi kisah tentang keberanian, penderitaan, perlawanan, dan kehidupan masyarakat.

Perhatian terhadap sejarah juga terlihat dalam karya Gema Proklamasi Kemerdekaan RI dalam Peristiwa Bagansiapiapi yang diterbitkan pada 2006 dan Prolog, Kronologi, dan Epilog: Peristiwa Bagansiapiapi 1946 yang diterbitkan pada 2008. Kedua karya tersebut memperlihatkan perhatian Sudarno terhadap sejarah daerah kelahirannya. Produktivitasnya terbilang luas. Ensiklopedi Sastra Riau mencatat bahwa Sudarno telah menghasilkan sekitar 35 judul buku dalam berbagai genre, mulai dari cerpen, roman atau novel, naskah teater, skenario film, hingga buku ajar. Beberapa karyanya juga memperoleh penghargaan dalam sayembara penulisan tingkat daerah dan nasional. Insiden Santau Hulu, misalnya, memenangkan Sayembara Penulisan Roman Daerah Riau. Sementara itu, skenario Kudeta meraih juara kedua dalam sayembara penulisan skenario film yang diselenggarakan Departemen Penerangan RI pada 1985.

Tulisan Terkait

Dunia kreatif Sudarno tidak berhenti pada buku. Ia juga terlibat dalam kehidupan pers dan teater. Di Bagansiapiapi ia ikut membangun media Suara Rokan. Ia juga mendirikan Sanggar Teater Roh dan menghasilkan sejumlah naskah teater. Beberapa naskah yang tercatat antara lain Puteri Seri Daun, Pinangan Liuk, Laksmana Mengamuk, Pilih-pilih Menantu, dan Ratu Sik Sima. Selain itu, ia menghasilkan sejumlah skenario film, beberapa di antaranya kemudian difilmkan. Sosok Sudarno Mahyudin dapat dilihat sebagai sastrawan yang bergerak melampaui batas genre. Ia menulis novel, cerita rakyat, sejarah, naskah teater, skenario, dan buku kebudayaan. Produktivitas tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sastra baginya bukan sekadar kegiatan individual, melainkan bagian dari gerakan kebudayaan.

Yang menarik dari kepengarangan Sudarno adalah kedekatannya dengan dunia Melayu-Riau dan masyarakat pesisir. Bagansiapiapi sebagai kota yang tumbuh dalam lingkungan perdagangan, sungai, laut, dan pertemuan berbagai kelompok masyarakat memberikan ruang pengalaman yang kaya. Dari lingkungan semacam itu, lahir cerita-cerita yang berhubungan dengan manusia, tempat, sejarah, adat, dan perubahan sosial.

Pada akhirnya, Sudarno Mahyudin dapat ditempatkan sebagai salah seorang sastrawan Riau yang berperan dalam menjaga ingatan melalui sastra. Ia menulis bukan hanya tentang tokoh dan peristiwa, tetapi juga tentang identitas masyarakat yang melahirkan cerita tersebut. Karya-karyanya memperlihatkan bahwa sastra daerah memiliki kemampuan untuk menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Warisannya itu tidak hanya terletak pada banyaknya judul yang telah ditulis. Warisan terpentingnya adalah keberanian mengangkat cerita masyarakat Riau ke dalam karya sastra dan menjadikannya bagian dari khazanah kebudayaan Indonesia. Melalui novel, sejarah, teater, dan tulisan kebudayaan, ia ikut menunjukkan bahwa setiap kampung mempunyai cerita, setiap masyarakat memiliki ingatan, dan setiap daerah mempunyai suara yang layak didengar. Dalam konteks itulah, Sudarno Mahyudin layak dikenang sebagai sastrawan yang menjadikan kata sebagai perahu untuk membawa ingatan Riau menyeberangi zaman.

Alhamdulillah.

Bengkalis, Jumat, 13 Rabiul Akhir 1448 H / 25 September 2026.

Daftar Pustaka

Danardana, Agus Sri. (2011). Ensiklopedi Sastra Riau. Pekanbaru: Palagan Press.
Junianto, Wendi, Ahmal, & Asyrul Fikri. (2024). “Biografi Sudarno Mahyudin Sebagai Sastrawan dari Riau (1960–2010).” QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia, 3(1), 234–249. DOI: 10.57235/qistina.v3i1.2122.
Mahyudin, Sudarno. (2006). Pergolakan Pereban: Cerita Perjuangan Rakyat Akit Bengkalis dalam Menentang Penjajahan Belanda. Cetakan III. Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau.
Riau Bernas. Melihat Sejarawan yang Membangun Bagansiapiapi, Rokan Hilir. Artikel profil tentang kiprah dan daftar karya Sudarno Mahyudin.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan