Al Azhar Menjaga Marwah di Pelantar Budi (In Memoriam Datuk Al Azhar: 17 Agustus 1961-12 Oktober 2021): oleh Musa Ismail

7

Ada yang menulis karena merasa ada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya yang harus diselamatkan. Al Azhar menulis, berpikir, mendidik, berorganisasi, dan beradat dalam satu tarikan napas: menjaga ingatan kebudayaan Melayu agar tidak putus dari generasi ke generasi. Beliau merasa ada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.

Bagi Riau, Al Azhar bukan cuma seorang penyair. Ia adalah sastrawan, budayawan, intelektual, penggerak kesenian, dan tokoh adat. Dalam dirinya, darah sastra tidak berhenti sebagai permainan kata-kata. Sastra menjadi jalan untuk membaca manusia, masyarakat, sejarah, dan perubahan zaman. Karena itu, mengenang Al Azhar adalah mengenang seorang intelektual Riau yang berusaha mempertemukan kata, ilmu, adat, dan tamadun.

Al Azhar lahir di Dalu-Dalu, Rokan Hulu, Riau, 17 Agustus 1961. Pendidikan dasar dan menengah pertama diselesaikannya di Pasirpangaraian. Pendidikan menengah ditempuh di SMAN 2 Pekanbaru. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan di Jurusan Bahasa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau dan menyelesaikannya pada 1985. Riwayat ini penting karena dunia pendidikan keguruan menjadi akar intelektual yang kemudian membentuk pandangannya tentang literasi, sastra, dan kebudayaan.

Kecintaannya kepada sastra bahkan tumbuh sebelum memasuki perguruan tinggi. Ketika SMA, tulisannya sudah menghiasi majalah dinding sekolah. Ia mengaku memiliki tradisi membaca yang kuat. Kebiasaan tersebut, menurut catatan Ensiklopedi Sastra Riau, selain diwarisi dari ayahnya, juga mendapat pengaruh besar dari Idrus Tintin, seorang guru dan seniman Riau. Al Azhar bahkan pernah tinggal di rumah Idrus Tintin ketika masih SMA. Di sinilah, pendidikan dalam pengertian yang lebih luas berlangsung. Pendidikannya bukan hanya melalui buku pelajaran, tetapi melalui pergaulan intelektual dan keteladanan seorang guru.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika dunia pendidikan kemudian selalu hadir dalam pikiran Al Azhar. Dalam tulisannya Penemuan Kembali Kepulauan Sastra Melayu, ia mengingatkan pentingnya menjadikan pendidikan formal sebagai taman keberaksaraan. Ia mendorong pembangunan perpustakaan dan taman bacaan sampai ke pelosok serta mengajak masyarakat menghidupkan budaya membaca. Gagasan ini memperlihatkan bahwa baginya pendidikan bukan sekadar proses memperoleh ijazah, melainkan proses membangun manusia yang mampu membaca dunia dan kebudayaannya.

Di kampus, Al Azhar tidak menjadi mahasiswa yang hanya duduk diam di ruang kuliah. Ia aktif dalam kegiatan kesenian dan literasi. Ia terlibat dalam tradisi Praktikum Sastra di lingkungan FKIP Universitas Riau dan turut mengembangkan kegiatan jurnalistik kampus melalui koran Bahana Mahasiswa. Dengan demikian, pendidikan, sastra, jurnalistik, dan kesenian telah menjadi satu ekosistem kreatif dalam perjalanan intelektualnya. Tentu saja akumulasi beragam aspek ini membentuk idealisme yang kuat bagi dirinya.

Sebagai penyair, Al Azhar mulai dikenal sejak muda. Kumpulan puisinya, Bilangan Esa, diterbitkan KNPI Riau pada 1981. Puisinya kemudian hadir dalam sejumlah media dan antologi. Ia juga menulis skenario dan naskah lakon. Ensiklopedi Sastra Riau mencatat kiprahnya dalam sejumlah organisasi kesenian, antara lain Sanggar Teater Wahana, Sanggar Taman Republik, Lembaga Seni Budaya KNPI Riau, Dewan Kesenian Riau, Yayasan Bandar Serai, dan Bandar Serai Orkestra. Namun, yang membuat Al Azhar penting dalam sejarah kebudayaan Riau justru terletak pada perkembangan pemikirannya setelah masa kepenyairan awal. Ia semakin melihat sastra sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan Melayu.

Dalam esainya Penemuan Kembali Kepulauan Sastra Melayu, Al Azhar melihat Riau sebagai satu ruang penting dalam sejarah sastra Melayu. Ia menghubungkan pembicaraan tentang sastra Melayu Riau dengan gagasan Riau sebagai pusat bahasa dan kebudayaan Melayu serta dengan sejarah perkembangan tradisi sastra Melayu. Yang menarik, Al Azhar tidak memahami Melayu secara sempit. Baginya, kebudayaan Melayu bukan benda beku yang harus disimpan di museum. Ia adalah kebudayaan yang terbuka, bergerak, dan terus mengalami reproduksi kreatif. Dalam pembahasannya mengenai sastra Melayu, ia menunjukkan bahwa teks-teks lama lahir melalui proses mengambil, mengolah, menyusun, dan menyesuaikan berbagai sumber dengan konteks baru.

Pandangan itu penting bagi generasi sekarang. Menjadi Melayu, dalam perspektif tersebut, bukan berarti menolak kebaruan. Justru kebaruan dapat tumbuh dari kemampuan memahami akar. Al Azhar menegaskan bahwa kebaruan tidak selalu berarti menghapus yang lama. Kebaruan dapat muncul melalui perubahan sikap, pendekatan, sudut pandang, dan cara membaca kenyataan. Di sinilah, pemikiran Al Azhar terasa relevan dengan persoalan kebudayaan kontemporer. Ketika globalisasi membuat banyak identitas menjadi cair, ia tidak memilih sepanjang jalan kenangan. Ia memilih jalan kreativitas. Tradisi harus dibaca kembali, ditamsilkan lagi, dan diwujudkan dalam bentuk inovasi, bukan sekadar dipuja.

Perhatian itu juga tampak dalam keterlibatannya pada dokumentasi sastra lisan. Al Azhar menjadi salah seorang penyunting Bujang Tan Domang: Sastra Lisan Orang Petalangan karya Tenas Effendy bersama Henri Chambert-Loir, yang diterbitkan Yayasan Bentang Budaya pada 1997. Buku tersebut mendokumentasikan tradisi Nyanyi Panjang masyarakat Petalangan dan tercatat sebagai karya penting dalam khazanah kesusastraan Riau. Bagi Al Azhar, bahasa juga merupakan wilayah perjuangan kebudayaan. Ia melihat pantun, dialek, ungkapan, dan etika berbahasa sebagai bagian dari cara orang Melayu membangun hubungan sosial. Dalam sebuah wawancara, ia menjelaskan bahwa pantun bukan hanya persoalan bentuk bersajak, tetapi juga membawa nilai kehidupan dan menjadi salah satu cara mempertahankan bahasa Melayu sebagai bahasa ibu. Ia bahkan mengingatkan bahwa dalam tradisi Melayu terdapat etika menghormati yang tua, mengasihi yang sebaya, dan menyayangi yang muda.

Berita Lainnya

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa bahasa bagi Al Azhar adalah ruang budi. Kata tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan sikap, hubungan sosial, dan martabat seseorang. Karena itu, perhatian Al Azhar terhadap pendidikan bahasa Melayu sangat kuat. Ia mendukung penguatan muatan lokal di sekolah dan penggunaan bahasa Melayu di ruang publik. Ia juga memahami bahwa Riau bukanlah satu dialek yang seragam. Setiap wilayah memiliki kekhasan bahasa dan tradisinya sendiri. Karena itu, pendidikan kebudayaan harus memperhitungkan keragaman tersebut.

Pemikiran sastra dan kebudayaan itu akhirnya bertemu dengan dunia adat. Al Azhar dipercaya menjadi Ketua Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau. Dalam posisi tersebut, ia tidak hanya mengurusi simbol dan seremoni adat, tetapi juga membawa persoalan masyarakat, kebudayaan, bahasa, dan masa depan Melayu ke ruang publik. Setelah wafatnya pada 12 Oktober 2021, pemerintah Provinsi Riau mencatat bahwa posisi Ketua MKA LAMR kemudian dilanjutkan oleh Datuk H.R. Marjohan Yusuf. Maka, jika hendak mencari satu kata untuk memahami Al Azhar, mungkin kata itu adalah marwah. Marwah bahasa. Marwah ilmu. Marwah adat. Marwah kebudayaan. Ia seakan ingin mengatakan bahwa kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena kita sering menyebut namanya. Kebudayaan bertahan karena ada orang yang membaca, menulis, mengajarkan, mendokumentasikan, mengkritik, dan menghidupkannya kembali.

Sampan telah meninggalkan tepian. Riaknya masih tinggal di sungai kebudayaan Riau.

Daftar Rujukan

Al Azhar. 2018. Penemuan Kembali Kepulauan Sastra Melayu. Lembaga Adat Melayu Riau, 12 Oktober 2018. Tulisan ini menjadi sumber primer penting untuk memahami pandangan Al Azhar tentang sejarah, kreativitas, dan identitas sastra Melayu.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa/Kementerian Pendidikan Nasional. 2011. Ensiklopedi Sastra Riau. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional. Entri “Al Azhar”, hlm. 16 dan bagian terkait. Sumber ini memuat riwayat kelahiran, pendidikan, awal kepengarangan, karya, dan aktivitas kesenian Al Azhar.

Lembaga Adat Melayu Riau. 2015. Tunjuk Ajar Melayu. Pekanbaru: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau & Tenas Effendy Foundation. Edisi ini mencantumkan “Tunjuk Ajar Melayu: Sebuah Tanggapan” oleh Al Azhar.

Syukur, M. 21 Februari 2020. Sang Penjaga Melayu Bernama Pantun. Liputan6. Wawancara mengenai pandangan Al Azhar tentang pantun, bahasa Melayu, etika berbahasa, dan pendidikan muatan lokal.

RiauOnline. 12 Oktober 2021. “Innalillahi, Datuk Al Azhar Meninggal Dunia.” Sumber pemberitaan mengenai wafatnya Al Azhar pada 12 Oktober 2021 pukul 22.04 WIB.

Griven Herrie Putera. Disertasi, UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Rujukan mengenai pemikiran Al Azhar dalam membaca Tenas Effendy dan kebudayaan Melayu.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan