Berorganisasi, maka Seharusnya ‘Tidak Alergi Kritik’: oleh Jasmiko

3

Sudah dikatakan, bahkan oleh kitab suci sekalipun, bahwa manusia adalah makhluk sosial. Al-Qur’an menyebutkan dalam surah Al-Hujurat ayat 13: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” Pada surah Al-Ma’idah ayat 2, manusia diajak untuk bekerja sama: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” Dua ayat ini menegaskan bahwa kehidupan bersama bukan sekadar pilihan, kehidupan bersama merupakan bagian dari kodrat manusia. Dalam makna ini, manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa hadirnya orang lain. Salah satu pengejawantahan konsep ini ialah dengan membentuk dan bergabung dalam organisasi.

Namun, berorganisasi bukan sekadar berkumpul, menyusun struktur, dan membagi tugas. Di dalamnya ada proses saling bersinggungan, yaitu gagasan bertemu gagasan, kebiasaan bertemu kebiasaan, dan kepentingan bertemu kepentingan. Dari persinggungan itulah, mau tidak mau, kritik lahir.

Bangsa ini punya contoh bagaimana kritik bisa disampaikan dan diterima. KH Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, dikenal sebagai sosok yang dalam berbicara kerap menyelipkan kritik. Kritiknya sering dibungkus humor. Salah satu guyonannya yang paling terkenal berkisar pada polisi, hanya ada tiga polisi yang tidak bisa disuap, yaitu mantan Kapolri Hoegeng, polisi patung, dan polisi tidur. Menurut sosiolog Musni Umar, sindiran halus lewat guyonan membuat misi tercapai tanpa terasa menyakitkan. Gus Dur pun tidak hanya melempar kritik ke orang lain. Kajian tentang dagelan politiknya mencatat bahwa ia juga melontarkan dagelan yang berisi kritik terhadap dirinya sendiri, dan sering menanggapi serangan dengan santai. Di sana ada pelajaran bagi kita, orang yang sanggup mengkritik dan sanggup ditertawakan adalah orang yang tidak merasa harga dirinya runtuh hanya karena dikoreksi.

Sejarah juga menyimpan contoh sebaliknya. Mohammad Hatta pernah menyampaikan kritik terhadap kekuasaan Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin lewat esai “Demokrasi Kita” dan surat-surat pribadi. Soekarno merespons dengan tidak lagi melibatkan Hatta dalam pemerintahan, dan kritik Hatta tidak ditanggapi. Dengan mengabaikan kritik bukan berarti masalah telah hilang, bahkan sebaliknya ia bergerak lebih parah dan merugikannya lebih menakutkan.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

ESAI : Walau Sebatas Kata

Sering kali kita menganggap kritik sebagai gangguan, seolah-olah ia datang untuk merusak keharmonisan. Padahal sebaliknya, kritik adalah tanda bahwa organisasi itu hidup. Anggota yang peduli akan bersuara ketika melihat sesuatu yang dirasa kurang tepat. Organisasi yang sepi dari kritik justru patut dicurigai. Bisa jadi ia terlalu nyaman, atau anggotanya sudah berhenti peduli.

Dikritik, dengan demikian, adalah hal yang biasa dalam sebuah usaha berkembang menjadi lebih baik. Tidak ada seorang pun yang tumbuh hanya dengan mendengar pujian. Pujian menenangkan, tetapi kritiklah yang menunjukkan arah. Presiden yang selalu dipuji-puji oleh menterinya, mendapat laporan dari bawahan-bawahannya bahwa ia telah berkinerja baik, maka tidak akan bisa berkembang sebab dasarnya perkembangan berawal dari kritik. Ia akan cenderung mengabaikan suara-suara yang sekiranya berbalikan dengan laporan menteri, dengan dasar bahwa orang-orang yang menggaungkan berita buruk ialah pihak lawan politik misalnya.

Sebenarnya tidak susah untuk menerima kritik dari pihak lain berdasarkan substansinya. Ketika sebuah program dikritik, kita merasa pribadi kita yang diserang. Padahal, yang dinilai adalah kerja, bukan harga diri. Kemampuan membedakan keduanya adalah tanda kedewasaan berorganisasi. Di sisi lain, pemberi kritik pun memikul tanggung jawab. Kritik yang baik disampaikan dengan niat membangun, dengan alasan yang jelas, dan dengan cara yang menghormati. Kritik bukan ajang menjatuhkan, melainkan ajakan untuk melangkah lebih baik bersama.

Semua organisasi pada prinsipnya harus terbuka akan kritik, tidak memilah-milah siapa yang bisa dan boleh bersuara. Ketika sebuah organisasi terindikasi membungkam suara kader (dengan banyak bentuk) maka ia sebenarnya telah dan berjalan menuju organisasi yang tidak sehat, tidak akan ada yang bisa berkembang di dalamnya. Pimpinan organisasi jika sudah demikian, maka ia merupakan orang yang gagal dalam menjalankan amanah yang ia ikrarkan ketika dilantik.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan