“Keris Sultan, Jangan Lagi Bersembunyi” Mengembalikan Makna dan Filosofi Keris Melayu ke Tangan-Tangan Penulis Bengkalis: oleh Marzuli Ridwan Al-bantany

6

Di alam Melayu, keris adalah ‘jiwa yang disarungkan’. Ia adalah perpaduan antara seni tempa besi, mahakarya estetika, doktrin moral, dan benteng pertahanan marwah. Nilai luhur inilah yang kemudian dapat dimaknai sebagai pelecut bagi para penulis di Bengkalis dewasa ini—bagaimana kemudian dalam dunia sastra dan kepenulisan ia menjadi metafora yang indah, bahwa ketajaman keris harus ditransformasikan menjadi ketajaman akal budi, pena, dan suara kebenaran demi menjaga keadilan, menolak kesewenang-wenangan.

Menurut Tenas Effendy (2013) dalam karyanya Tunjuk Ajar Melayu, keris dan busana tradisional Melayu merupakan perangkat budaya yang mengatur tata krama, kesopanan dan kepribadian seseorang. Orang Melayu berpandangan bahwa kehilangan keris atau tercoreng marwahnya disetarakan dengan kehilangan kehormatan hidup. Bila seseorang kehilangan ‘keris’, maka hilanglah jati dirinya. Hilang pula-lah kemuliaan dalam dirinya.

Bagi kerajaan-kerajaan tradisional Melayu, keris sering kali difungsikan sebagai alat pusaka kerajaan (regalia) yang melambangkan kekuasaan sah seorang penguasa (Sultan atau Raja). Keris pusaka dipercayai memiliki tuah yang berfungsi untuk melindungi negeri dari malapetaka serta menyatukan rakyat di bawah daulat sultan. Untuk itu, keris dipandang sesuatu yang tinggi derajatnya, memberi petuah dan lambang kebijaksanaan pemakainya.

Dalam kajian sosiologi politik tradisional Melayu yang dijabarkan oleh Anthony Reid (1988) dalam magnum orpusnya Southeast Asia in the Age of Commerce, menggarisbawahi bahwa senjata pusaka seperti keris memiliki fungsi simbolik yang kuat untuk melegitimasi kekuasaan politik dan memperkuat ikatan kesetiaan (daulat dan derhaka) antara hamba dengan penguasanya. Keberadaan keris pusaka di pinggang atau singgasana raja bukan sekadar pelengkap estetika, melainkan simbol kosmologis yang mengabsahkan hak prerogatifnya untuk memimpin, sekaligus menjadi medium mistis yang mengikat loyalitas mutlak rakyatnya agar tidak terjerumus pada dosa besar pengkhianatan (derhaka).

Ikatan sosiopolitik antara penguasa dan hamba di dunia Melayu dikelola melalui narasi sakral yang meredam potensi konflik horizontal maupun vertikal. Ketika seorang raja menganugerahkan keris pusaka kepada hulubalang atau pembesar negeri, tindakan tersebut berfungsi sebagai kontrak sosial tak tertulis yang mengukuhkan patronase politik sekaligus menuntut penyerahan diri secara total. Hubungan timbal balik ini menciptakan struktur hierarki yang kokoh, di mana kepatuhan rakyat tidak dibangun atas dasar rasa takut semata, melainkan atas dasar kesadaran moral-religius bahwa melanggar titah raja yang disimbolkan oleh keris pusaka berimplikasi pada runtuhnya tatanan kosmik negeri itu. Dengan demikian, keris menjelma menjadi jangkar kekuasaan yang menstabilkan struktur politik tradisional di kawasan Nusantara.

Alkisah, terbentuknya sebuah wadah organisasi yang menghimpun para penulis Bengkalis belum lama ini di Bengkalis—yang kemudian organisasi besar itu diberinama dengan Perkumpulan Penulis Bengkalis (Penalis), pada dasarnya bukan dikarenakan oleh sikap latah yang ditunjukkan sekelompok penggagas dan mereka yang peduli pada keberlanjutan tradisi menulis di Bengkalis, melainkan sebuah kesadaran besar yang terhunjam di dalam dada, berangkat dari niat tulus suci untuk mengembalikan kebesaran Pulau Bengkalis, yang dalam catatan sejarahnya pernah melahirkan beberapa penulis besar di kawasan rantau Melayu ini. Sebut saja seperti almarhum Soeman Hs (lahir di Bengkalis 4 April 1904) yang dikenal sebagai salah satu tokoh pelopor penulisan cerita pendek dan fiksi detektif pertama pada masa Angkatan Balai Pustaka. Selain dikenal sebagai sastrawan angkatan Pujangga Baru, ia adalah seorang pendidik ulung yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia sekolah di Riau. Gaya bercerita beliau kerap memadukan unsur humor, ketegangan (suspens), petualangan, serta corak sastra Melayu klasik. Diantara karya terkenal beliau antara lain Kasih Tak Terlarai (Novel, 1929), Mencari Pencuri Anak Perawan (Novel), Kawan Bergelut (Kumpulan Cerpen) dan Kasih Tak Sampai (Novel).

Selain itu, tokoh lainnya seperti Sutardji Calzoum Bachri—yang di kemudian hari dinobatkan sebagai Presiden Penyair Indonesia, diketahui pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di tanah pesisir Bengkalis (selain di Rengat tempat ia dilahirkan, juga Pasirpengaraian, Pekanbaru dan Tanjung Pinang). Kehadiran beliau turut membekas dan memperkaya lanskap batin serta imajinasi kepeloporannya dalam dunia puisi, yang juga memberikan kontribusi substansial terhadap pembentukan kepekaan estetikanya. Berdasarkan catatan biografis dan kritik sastra, Sutardji menempuh pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di Bengkalis pada periode awal kemerdekaan (sekitar 1947–1953). Hidup di tengah denyut masyarakat maritim Selat Melaka membuat Sutardji akrab dengan tradisi lisan, bunyi-bunyian alam, pantun, serta mantera tradisional yang hidup di surau-surau dan kampung nelayan.

Berdasarkan catatan biografis serta kajian sastra yang mengulas akar kulturalnya (seperti yang dihimpun dalam dokumentasi sastra Riau dan kajian profil sastrawan nasional), masa-masa Sutardji tumbuh di lingkungan masyarakat maritim Selat Melaka tersebut memberikan sentuhan awal interaksinya dengan dinamika bahasa, irahat lisan, serta tradisi tutur Melayu yang kemudian ia dekonstruksi dan bebaskan melalui mantra-mantra puitiknya. Pengalaman empiris hidup di kawasan pesisir yang kaya akan nuansa kultural ini tidak hanya membentuk identitas kesadarannya sebagai anak Melayu, tetapi juga menanamkan benih-benih kesadaran bunyi yang kelak mendefinisikan revolusi stilistika dalam pementasan sajak-sajak kontemporernya di pentas nasional.

Di lain sisi, Bengkalis sebagai salah satu kawasan pesisir Riau yang kental akan nilai kulturalnya, bagi Sutardji bukan semata tempat singgah secara geografis, melainkan rahim kultural di mana intuisi bunyi dan daya magis bahasa, yang kelak mengguncang panggung sastra nasional melalui karya-karyanya seperti O, Amuk, dan Tragedi Winka & Sihka, mulai disemaikan.

Kembali ke topik pembicaraan semula kita—mengenai keris, pembuatan keris di tanah Melayu bukanlah proses metalurgi (ilmu, seni, dan teknologi yang mempelajari sifat, struktur, dan pengolahan logam serta paduannya untuk berbagai aplikasi industri dan konsumen) sembarangan, melainkan sebuah ritual sakral yang memadukan unsur seni ukir tingkat tinggi dengan nilai-nilai spiritual keislaman maupun tradisi lokal. Besi, pamor, dan bilah ditempa melalui doa, puasa, serta pantang larang tertentu.

Untuk itu, dengan terbentuknya Penalis, tentu segunung harapan untuk mengembalikan cahaya gemilang sejarah kepenulisan yang pernah tumbuh di Pulau Bengkalis ini kembali bangkit. Para penulis yang sudah dan akan bergabung dengan organisasi ini diharapkan terus menghunus keris, keris yang melahirkan karya-karya indah—baik berupa karya-karya sastra fiksi, maupun nonfiksi berupa karya tulis ilmiah dan karya-karya intelektual lainnya. Terebih lagi para ahli (anggota) Penalis Bengkalis yang hari ini bergabung di dalamnya berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, tentu harapan besar ingin mengembalikan ruh dan semangat menulis di Bengkalis kali ini kian bertambah.

Melalui wadah tempat berhimpunnya para penulis di Bengkalis, tentu diharapkan semangat menulis di daerah yang berjuluk Negeri Junjungan ini tetap tumbuh dan berkembang. Ia tidak hanya mengadopsi keberadaan para penulis lokal saja, penulis-penulis dari daerah lain, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang ingin bergabung bersamanya juga dinanti-natikan. Hanya saja mereka itu harus memenuhi sejumlah kriteria persyaratan yang ditetapkan, seperti memiliki hubungan keluarga disebabkan memiliki ibu/ayah yang menetap di Kabupaten Bengkalis, memiliki suami/istri yang merupakan warga Kabupaten Bengkalis, dan/atau lahir di luar daerah Bengkalis, namun bekerja dan bertempat tinggal di wilayah Kabupaten Bengkalis. Namun yang terpenting, selain aturan yang ada, syarat utama agar dapat diterima menjadi anggota Penalis Bengkalis adalah mereka yang aktif menulis, memiliki kepedulian terhadap dunia literasi di Bengkalis, serta memiliki ikatan kultural dengan wilayah Kabupaten Bengkalis.

Akhirnya, semoga para penulis Bengkalis yang saat ini telah tergabung dalam sebuah wadah berhimpun yang asri ini tetap berkarya, menulis dan sentiasa menulis saban hari: mencerahkan kehidupan setiap generasi yang datang sesudahnya kelak dengan tulisan-tulisan yang bernas dan menginspirasi. Semoga pula keris sultan sebagai perlambang penabalan dan pemberian amanat yang besar itu tetap terhunus di tangannya, mengembalikan makna dan filosofis sebuah keris Melayu. Ia jangan lagi hanya bersembunyi di dalam warangka hanya sebagai penghias diri. Atau hanya untuk gagah-gagahan saat berjalan memutar haluan. Namun lebih dari itu semua, mampu menegakkan serta menggelorakan semangat kependekaran para hulubalang Melayu di zaman modern ini agar sentiasa berkiprah dan berkarya untuk kemaslahan bersama di mana-pun ia berada—tegak berdiri menjunjung akal dan juga budi.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Sebelum kuakhiri tulisan yang sederhana ini, izinkan kuselipkan sebuah puisi yang telah kutulis. Semoga menjadi pelecut dan semangat yang tajam, setajam keris sultan yang telah diterima dengan tulus dan hati yang bahagia.

Keris Sultan
: Kepada Penulis Bengkalis (Penalis)

Terhunus sudah keris Sultan, menikam bungkam yang entah: lalu sejarah senyum rekah

Taman penulis adalah gelanggangnya, tempat menyusun kata dari qalam-galam yang terkalam, sebab Melayu adalah nadi, darah yang mengalir di tubuhnya

Setiap madah yang tertumpah adalah hikmah, bagi insan yang merindukan kedamaian, kesejatian akal budi dan pengabdian

Di sanalah pewaris kata bersila, bukan di atas hamparan takhta bertabur cahaya, melainkan pada mengkuang, tikar-tikar pandan yang dianyam dengan sabar dan penuh ketulusan

Mereka menghunus keris, pada kertas-kertas putih, suci lagi bersih: menikam musuh besar bersama, musuh bangsa ini: ketidakberdayaan, ketertindasan dan ketidakadilan

Keris Sultan terhunus sudah: menikam, menghunjam ke setiap dada yang kosong, oleh laku cuai dan segala tindak perangai

Laman Penalis,
Bengkalis, 29 September 2026

Semoga.
Wallahu a’lam.

Bengkalis, di tepian Selat Brouwer, 30 September 2026

Daftar Pustaka
1. Anonymous. (2012), Biografi Sutardji Calzoum Bachri. Diakses pada 30 September 2026, dari www.ilbaindo.blogspot.com/2012/06/biografi-sutardji-calzoum-bachri.html
2. Effendy, T. (2013). Tunjuk Ajar Melayu: Butir-Butir Budaya Melayu Riau. Yogyakarta: Tenas Effendy Foundation & Adicita Karya Nusa.
3. Laman Riau. (2018), Sutardji Calzoum Bachri. Diakses pada 30 September 2026, dari www.lamriau.id/sutardji-calzoum-bachri/
4. Reid, Anthony. (1988). Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680: Volume One: The Lands Below the Winds. New Haven: Yale University Press.

Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penulis, sastrawan dan budayawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Beliau selain seorang ASN dan menjadi bagian besar di Majelis Kerapatan Adat – Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Bengkalis, Ketua Komisi Komunikasi dan Informasi Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bengkalis, serta Anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kabupaten Bengkalis, juga merupakan Ketua Umum ‘Sultan’ Perkumpulan Penulis Bengkalis (Penalis). Tak hanya menulis esai/artikel sastra dan budaya, ia juga menulis sajak dan prosa berupa cerpen dan novel. Diantara buku tunggal terbaru yang diterbitkannya adalah Lembaran Pesan Sunyi, sebuah kumpulan esai/artikel yang diterbitkan Dotplus Publisher belum lama ini.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan