Setelah TKA, Lantas Mengapa?: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

14

Pemerintah melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mengeluarkan Keputusan Nomor 017/F/AN/2026 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Asesmen Nasional (AN). Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah untuk mengukur capaian kemampuan akademik murid pada mata pelajaran tertentu melalui instrumen yang terstandar.

Murid-murid yang mengikuti TKA kelak akan memperoleh Sertifikat Hasil Tes Kemampuan Akademik (SHTKA) dan Daftar Kolektif Hasil TKA (DKHTKA) yang memuat kategori nilai dan capaian mereka. Bahkan, instansi atau perguruan tinggi dapat memverifikasi keaslian dokumen SHTKA ini secara real-time melalui portal resmi.

Namun, di tengah kesibukan sekolah menyiapkan komputer proktor, jaringan teknis, hingga simulasi moda daring dan semi-daring, muncul sebuah pertanyaan mendasar di benak kita: “Setelah TKA dilaksanakan dan selembar sertifikat berada di tangan murid, lantas mengapa?”

Realita Lapangan dan Potret Anak SMA/SMK Hari Ini

Jika kita memotret kondisi riil gen-Z di jenjang SMA dan SMK saat ini, ada jurang (gap) yang nyata antara skor akademis di atas kertas dengan kesiapan mereka mengarungi dunia nyata:

Sindrom “Belajar demi Nilai Tes”

Sebagian besar lulusan SMA/SMK masih terjebak dalam pola pikir exam-oriented. Kehadiran TKA berisiko hanya dipandang sebagai “hambatan kelulusan/seleksi” berikutnya yang harus dilewati dengan menghafal rumus cepat, bukan dipahami sebagai alat ukur pemikiran kritis.

Tantangan Ketimpangan Infrastruktur

Juknis TKA memuat aturan detail mengenai spesifikasi komputer proktor, bandwidth internet, hingga topologi jaringan. Di daerah perkotaan, hal ini mungkin mudah dipenuhi. Namun bagi sekolah-sekolah di pelosok daerah, pemenuhan prasarana ini kerap memakan energi dan fokus utama sekolah, sehingga substansi peningkatan kualitas belajar justru terpinggirkan.

Fenomena Mis-match Lulusan SMK

Untuk anak-anak SMK, persoalan utama sering kali bukan sekadar kemampuan menjawab soal teoretis TKA, melainkan penyelarasan (link and match) keterampilan industri. Banyak lulusan SMK yang mengantongi nilai akademik cukup baik, tetapi masih canggung saat dihadapkan pada peralatan industri modern atau dinamika kerja profesional.

Kesiapan Menghadapi Persaingan Global

Dunia tidak lagi hanya bertanya “Berapa skor TKA-mu?”, melainkan “Masalah apa yang bisa kamu selesaikan?”.
Di era kecerdasan buatan (AI) dan pasar kerja global yang terintegrasi, lulusan SMA/SMK Indonesia harus bersaing tidak hanya dengan sesama anak bangsa, tetapi juga dengan tenaga kerja asing dan otomatisasi sistem. Jika evaluasi nasional berhenti pada selembar SHTKA, kita akan tertinggal jauh dalam persaingan global.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Di Luar TKA: Apa yang Seharusnya Ditumbuhkan?

TKA dan AKM memang mengukur literasi, numerasi, serta kemampuan akademik dasar. Namun, agar anak-anak kita siap bertahan dan berkembang di masa depan, ada beberapa hal penting di luar TKA yang wajib diperkuat:

Keterampilan Abad ke-21 (Soft Skills)

Penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi adalah fondasi utama yang dituntut dalam dunia kerja global dan kehidupan bermasyarakat.

Kecerdasan Emosional dan Resiliensi (Daya Tahan Mentalkan)

Banyak anak muda cerdas secara akademik namun rentan menghadapi kegagalan atau tekanan dunia kerja. Membangun kesehatan mental dan daya tahan (resilience) menjadi sama pentingnya dengan mengejar skor akademik.

Literasi Digital dan Etika Teknologi

Bukan sekadar mampu mengoperasikan komputer saat tes, melainkan bagaimana memanfaatkan AI dan internet secara bijak, produktif, dan etis.

Karakter dan Kebinekaan

Sebagaimana diukur dalam Survei Karakter, nilai-nilai keimanan, kemandirian, gotong royong, dan kesadaran sebagai warga dunia (global citizen) harus benar-benar dihidupkan dalam keseharian sekolah, bukan sekadar diisi pada lembar survei.

Mengembalikan TKA pada Fungsi Sebenarnya

TKA dan Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) adalah alat pengukur yang berharga untuk perbaikan pembelajaran dan objektivitas seleksi. Namun, TKA bukanlah garis akhir.

Setelah TKA selesai dilaksanakan, tugas terbesar justru baru dimulai: bagaimana sekolah, orang tua, dan pemerintah memanfaatkan data hasil asesmen tersebut untuk merefleksikan proses belajar, membenahi kesenjangan kualitas, serta mendampingi anak-anak SMA/SMK menjadi pribadi yang utuh, adaptif, dan siap menaklukkan dunia.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan