

HIDUP DI BAWAH GARIS
Melalui lorong gelap, ia berjalan sendiri
Beban hidupnya, seperti awan hitam
yang tak pernah pergi
Hujan kelaparan tercurah
Tanpa akhir
Mencari sepiring nasi
Di tengah lautan kekecewaan
Ia memilih pintu besi
Sebagai tempat berlindung
Hanya untuk mengisi
perutnya yang kosong
Tapi bintang takdir
menggaris nasib lain
Membuka sebuah pintu
Menuju dunia yang tak pasti
Ia muncul, seperti daun kering
yang jatuh
Tak tahu hendak ke mana,
tak tahu apa yang menanti
Hidupnya, seperti ombak
di atas laut yang gelisah
Terombang-ambing, tanpa arah
Tapi perutnya kosong,
tak ada yang bisa dimakan
Perihnya lapar yang tajam
menggerogoti jiwanya
Ia tumbang di jalan yang sunyi
Dan akhirnya, mati kelaparan
Sendirian
Ia memilih pintu besi
sebagai tempat berlindung
Hanya untuk mengisi perutnya
yang kosong
Padang, Agustus 2026
Puisi Sastri Bakri “Living Below the Line” (Hidup di Bawah Garis) mengangkat kehidupan rakyat kecil yang hidup di bawah (below) garis kemiskinan.
Sebelum berbicara jauh tentang puisi ini, kita perlu melacak apa sebenarnya makna ‘ rakyat’ dalam puisi ini.
Dalam setiap komunikasi bahasa memiliki tiga komponen utama (who speak, to whom, and what language). Siapa yang berbicara, kepada siapa dia berbicara dan bahasa apakah yang digunakannya.
Sastri Bakri selaku penulis puisi berbicara pada pembaca ( dalam hal ini: orang Indonesia dan non Indonesia, dengan menggunakan pilihan bahasa Inggris): “Living Below the Line”.
Dengan latar belakang pendidikannya selaku sarjana sastra Inggris , ia pun berhak mengungkapkan puisinya dalam bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.
Puisi Sastri Bakri mengingatkan saya yang pernah tinggal di Sydney (1992) menulis puisi berjudul “Under Line” (Garis Bawah) tentang anak-anak diaspora Asia dan Afrika yang hidup susah dan bertahan terus di Negara Kanguru itu.
Puisi “Hidup di Garis Bawah” bukan sekadar puisi tentang kelaparan.Namun puisi Ini adalah puisi tentang pengkhianatan bahasa.
1. Puisi yang menolak gaya ‘pelemasan bahasa’ (eufemisme). Pemakaian eufemistik seperti pidato pejabat yang menyebut “kekurangan gizi” untuk kelaparan, “penyesuaian harga” untuk kenaikan.
2. Sastri Bakry melakukan sebaliknya. Ia menolak menghaluskan. Ia tulis dengan telanjang dan terus terang.
“But his stomach is empty, there is nothing to eat … and finally, dies of hunger, alone.”
Gaya bahasa yang dipakai Sastri tidak ada topeng. Tidak ada jargon. Inilah yang disebut sebagai bahasa yang menjadi termometer yang jujur. Puisi ini adalah termometer itu. Suhunya dingin, menunjukkan kematian.
3. Metafora yang Tidak Romantis
Banyak penyair menulis kemiskinan dengan romantis. Sastri tidak melakukan itu. Through dark alleys, he walks alone — bukan jalan setapak yang puitis, tapi lorong gelap. Like a fallen dry leaf — bukan daun yang gugur indah, tapi daun kering yang jatuh dan terinjak.Like waves upon a restless sea, Tossed back and forth, directionless — hidupnya bukan berlayar, tapi terombang-ambing tanpa tujuan.
Penggunaan Iron Door (pintu besi) yang diulang dua kali adalah simbol yang kuat. Ia mencari tempat berlindung, tapi yang ia temukan justru penjara. Ia ingin mengisi perut, tapi yang ia dapat adalah ketidakpastian. Ini sesuatu yang tragis.
Keheningan yang Paling Keras
Baris puisinya yang paling ironik adalah: He falls on a silent street Sebuah jalan yang sunyi. Tidak ada yang melihat, tidak ada yang menolong, tidak ada yang berteriak.
Kematiannya pun sunyi. Di era digital yang bising dengan TikTok, Instagram, dan debat politik ternyata masih ada orang yang mati dalam kesunyian total.
Inilah “rakyat” yang didefinisikan dari KBBI itu — bukan rakyat besar, tapi rakyat kecil, rakyat jelata, yang bahkan kematiannya tidak masuk berita.
Relevansi dengan Sumpah Pemuda ke-98 puisi ini ditulis di Padang, Agustus 2026, menjelang 98 tahun Sumpah Pemuda.
Puisi yang sangat relevan dengan Sumpah Pemuda yang berbicara tentang bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu.
Puisi ini bertanya: bagaimana kita berbangsa satu jika masih ada yang living below the line — hidup di bawah garis kemanusiaan, di bawah garis perhatian kita?
Kesimpulan
Hasil menikmati dan memahami puisi ini bukanlah sesuatu bingkisan puisi yang manis untuk dinikmati dengan kopi. Puisi ini Ini membuat kita tidak nyaman.
Saya kira puisi yang baik memang harus begitu. Sastri Bakry telah berhasil melakukan apa yang diserukan para cendekiawan bahasa: membersihkan kerancuan dan manipulasi kata-kata dari perairan bahasa Indonesia secara jernih, jujur dan santun.
Puisi ini jernih, jujur, dan justru karena kejujurannya, ia menjadi sangat santun kepada kemanusiaan.***
Penulis Ketua Satupena Sumatra Utara