

Masyarakat dalam tradisi pertanian memiliki kesenian yang didukung oleh adat dan upacara. Pola kehidupan bertanam, dalam kehidupan petani telah berjalan dalam pola menyemai, menanam dan memanen.
Kehidupan seniman tradisi telah berjalan dalam keadaan yang mapan, ekonomi yang mantap dan situasi yang stabil. Berkesenian di era pertanian termasuk dalam masyarakat agraris, sang pekerja seni bermain bukan untuk dirinya, melainkan ada kepuasan kosmik (nilai-nilai alamiah).
Seni zaman pertanian disanggap atau didukung oleh pemangku adat termasuk para pamong adat. Subsidi biasanya diberikan dalam bentuk natura (beras, gula, minyak). Misalnya tukang besi, tukang mencari enau selalu diberikan subsidi karena tugasnya lebih berat dan tidak sempat bertani.
Berbeda halnya dalam masyarakat industri. Masyarakat industri, kesenian didukung oleh wiraswasta. Dalam zaman industri, banyak gaya berkesenian yang pada mulanya terpola dalam struktur kegiatan yang tetap menjadi porak-poranda.
Akibat industrialisasi, pola waktu menjadi hilang. Di masa lalu waktu pertunjukan semisal wayang bisa sampai subuh. Masa kini waktu sudah diperpendek dalam durasi pertunjukan karena para penontonnya besok hari akan bekerja dan terikat absensi.
Seniman dalam situasi berkesenian sekarang harus mampu menyesuaikan dirinya dengan dinamika dan perkembangan masyarakat. Seniman dapat mengalami “kematian sosial” pada daerah yang terindustrialisasi.
Kesenian rakyat menjadi hilang. Seniman tidak bisa lagi melakukan kegiatan tanpa dibayar. Mereka butuh uang beca, rokok dan sedikit kebutuhan rumah yang harus dipenuhi. Tidak mengherankan dalam masa sekarang yang mengutamakan fisik dan pendidikan, kaum seniman tercecer dalam skala pembantuan (asistensi) maupun dalam sarana untuk berkreasi. Banyak seniman jadi transmigran, jadi tukang dan karyawan pabrik.
Menyadari gelagat budaya pascapertanian itu para seniman tradisi perlu survival. Hal ini berarti kesenian yang diharapkan mampu melindungi kaum seniman untuk berkreasi. Penyesuaian dengan perkembangan zaman mutlak diperlukan. Kedudukan dan cara berkesenian harus disesuaikan kalau kaum seniman ingin tetap eksis dalam percaturan zaman.
Menjadi eksis dalam zaman yang dikuasai industrialisasi dan digatalisasi ini juga memerlukan daya selektif. Banyak para pemikir kontemporer yang melihat era industrialisasi telah gagal menawarkan janji-janji besar. Eric Fromm, misalnya telah memaparkan tentang hedonisme radikal dalam industrialisme tidak dapat memberikan ilusi kebahagiaan.
Eric Fromm dalam bukunya (To have or to be, 1987) menulis,”Cara kerja merakit di pabrik dan rutin birokrasi di satu pihak, dan televisi, mobil serta seks di lain pihak, memungkinkan kombinasi yang kontradiktif itu. Kerja mati-matian melulu akan membuat orang menjadi setengah gila, begitu pula halnya dengan bermalas-malasan melulu”. Hedonisme radikal tidak dapat membawa manusia ke suatu kebahagiaan. Eric Fromm dengan lirih berkata, “cara kita mencari kebahagiaan tidak menghasilkan kesejahteraan”.
Seni pada awal pertumbuhan di masa tradisional adalah kepuasan spritual, moral dan obsesional. Kini, seni pada era industri kalau ada yang membeli maka ia harus dijual. Pendukung seni industrialisasi itu adalah pihak swasta, pemerintah dan penonton/masyarakat.
Dalam penyajian seni era industri ini adalah bagaimana melemparkan nilai-nilai dan penyampaian terhadap kaum generasi muda bisa dipahami, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dalam membaca sejarah. Pandangan sejarah ialah persatuan dan kesatuan dan kembali kepada kebanggaan diri sebagai bangsa yang bermartabat, bermoral dan beretika sebagaimana yang diwariskan dan dipelihara beratus-ratus tahun yang lalu.
Seni dalam era industri mau atau tidak mau mengisyaratkan bahwa pendukungnya ikut mengindustrialkan dirinya dalam kancah kehidupan yang serba terbuka dan serba informatif dalam sistem global ini.
Dalam sikap pasipatif itu para pendukung seni selalu melakukan seleksi dan mencari cara-cara yang bijak untuk membangun dialogis dengan instansi lintas sektoral. Bagaimana membangun suatu cara pandang dan visi yang memiliki persepsi yang sama dalam lingkup persatuan dan kesatuan bangsa. Hal yang penting ialah mempertahankan suatu warna “jenius lokal” yang tahan menghadapi gelombang serangan dari unsur luar yang merusak dan negatif ditinjau dari wawasan kebudayaan nasional.
Penulis sastrawan tinggal di Medan