kutanya hati
di hari pertama ramadhan tahun ini
betapa sedih saat sahur tiba
tak ada sesiapa
kamar dan ventilasi bersaksi
malam-malam tarawih
dan isak witir berlanjutan
manila menggapai pilu jiwa
kujalani sendiri rakaat tak henti
tak ada sesiapa
kamar dan ventilasi bersaksi
i’tikaf sunyi
dibalut ayat suci
masjid-masjid kota
di ramadhan tiba
didatangi jamaah tua
tinggal sebaris-dua
suara imam terbata-bata
membilang rakaat
nyaris tenggelam
malam menyergam
manila nyaris tak puasa
jutaan orang larut di bilik kerja
dan pusat belanja
tanpa adzan dan iqomah
di makati kini
aku istirah
membilang puasa hari pertama
meski hari-hari sunyi
ramadhan tetap di hati
makati, 27.9.06
***
kata-kata mencari makna
di tiap lidah
lidah siapa menabur kata
di malam kota
membuang ludah dusta
menggenang di jiwa
bermuara di telaga hampa
langklah tertunda
kala jiwa tak serta
di genangan luka
kata-kata mencari makna
di tiap lidah
walau tak jumpa jua
siapa mau menampung ludah
di telaga kata-kata
tanpa makna
labyrin sunyi
membalut lidah
mengunci kata
siapa peduli
kata-kata mencari diri
di telaga sunyi
hampa makna
manila, 28.9.06
***
para filsuf pun mengusung keranda di pundak kuda sejarah
jejalan mengemas airmata dan tangis terpenjara di lidah
sebat peradaban menjema mimpi-mimpi
tak sesiapa membilang helai angin di puncak menara
sehebat apakah renungan dibentangkan di jembatan luka kita
sungguh, tak kulihat sapa sesiapa di kepak rerama
para filsuf pun tak pulas bermimpi di kuda sejarah
awan kehilangan gerimis kota saat malam-malam tahajud kita
kaubilang apa pada jejalan orang-orang yang meludah nasib
di tikungan kelam
bukan, ya bukan rindu dikemaraukan jarak peradaban kita
bukan nestapa sesiapa membusuk di jiwa
para filsuf pun menebar kata di embun peradaban
bergelantungan di angin
dibawa rebah sejarah
9706