Tafsir Atas Takdir Malin Kundang: Catatan Shafwan Hadi Umry

174

Sastra seharusnya membayangkan kemcsraan dengan warna lokalnya. Warna lokal itu sesuatu yang dapat dirumuskan sebagai sebuah lentera yang mencerminkan cahaya kcluar dan bukan sebaliknya cahaya yang diberikan untuk menerangi lentera. Sastra mutakhir dalam perjalanannya dewasa ini membiaskan ungkapan yang personal dari tiap pribadi pengarangnya. Sastra mengajak pembaca berdialog, bersinergi dan mengajak berpikir meskipun sejenak untuk menafsir ulang ungkapan-ungkapan yang selalu menciptakan daya pikat dalam diri pembaca.

Mitos Malin Kundang

Mitos Malin Kundang dalam sastra lama Indonesia begitu mempesona para penyair Indonesia kontemporer. Jauh sebelum kisah turun temurun itu berkelana dalam wacana cerita sejumlah penyair pernah terlibat dengan kisah yang masgul itu. Goenawan Mohammad pernah menamai dirinya sebagai penyair Si Malin Kundang yang mendurhaka terhadap tradisi Sastra Indonesia. Dalam kata-kata bijak ia berkata lirih, “… demikianlah Malin Kundang telah menjadi batu, tiada seorang pun mempertanyakan kutukan itu dan kita tidak pernah mau memahami perasaan-perasaannya (1979).
Kini, Isbedy Stiawan ZS seorang penyair Indonesia (kelahiran Lampung) tampil lagi meneruskan tafsiran atas takdir yang turun temurun itu, bagaimanapun seorang pendurhaka tidak harus disumpah menjadi batu. Kita perlu memaafkan laku dan sikap dan pendurhakaannya di hadapan seorang ibu.
Isbedy tampil dengan tafsir lain dari legenda yang keramat itu. Kita turunkan sajaknya tentang Malin Kundang dari kumpulan puisi (Anjing Dinihari, 2010) secara utuh di bawah ini.

Malin, dari cerita lain (1)

Tulisan Terkait

Selalu saja kau mengutuk setiap jumpa matahari, dan kau berharap siang ini ada bulan yang kau rindu, seperti anak-anak yang menangis jika kelam, “bulan, bulan, terangi jalanku menuju wajah ibu agar tidak sasar jadi batu.” Tidak ingin jadi malin berabad-abad menjaga pantai; terlempar bukan sebagai karang, terdampar tak jadi perahu. Dihuni cerita-cerita pilu dan kutukan. Ahai di mana bunda yang telah menulis murka ini hingga sejarah yang dibaca anak-anakmu?
Perempuan itu mahir cara menakuti anak-anak, ia pahat batu serupa dirimu dan ia buat semirip perahu, lalu menjelma kisah-kisah dari mulut ke mulut : “Kau tahu di pantai ini kukutuk anakku, anak pelaut yang abai rumah ibu, akhirnya badai ….
Kabar itu lalu menebalkan halaman buku, mengekal di setiap ingatan membuih di sepanjang pantai, tanpa sanggah, setelah itu, kunjung demi kunjungan mencatat: ini kampoeng 1001 cerita, dan kau akan tenggelam pula sebagai kisah jika singgah, ke ranah ini, kaba-kaba dimadahkan dan diulang bagi pendatang. Cerita terus rancak lalu membius pelancong agar menetap lama menyusuri pantai, balikkan ingatan malin, sudah berapa abad kau lelap? Tak henti kau menunggu hujan agar mengirim banjir, atau badai maupun gempa yang menjadikan laut hanyutkan segala. Tapi perahu itu tetap membatu: Malin tak pernah mencair sebagai tangis:
“Ibu, aku izin tak pulang ke rahimmu meski di sini.
Aku begitu gigil dan lapar menelan kutuk!
Penyair menyindir dan mengungkapkan “dongeng sebelum tidur” yaitu berabad-abad merisaukan anak-anak disebabkan sikap ‘provokatif sang pencerita. Penyair menulis,” perempuan itu mahir cara menakuti anak-anak, ia pahat batu serupa dirimu dan ia buat semirip perahu.”
Isbedy menyindir bahwa cerita menjadi semacam bius buat pelancong dan semakin banyak pelancong yang menyinggahi pantai maka cerita pun semakin rancak dan pitih (uang) pun semakin membengkak.
Dalam rancak cerita yang penuh pembelaan sekaligus pengukuhan atas mitos lama para pengunjung kembali tak pernah mendengar rintih dan ratap panjang berulang-ulang. Si Malin Kundang yang ingin pulang kembali ke rahim ibunya. Dia merindukan hujan dan badai yang bakal mengirim banjir untuk menghanyutkan mitos cerita. Namun, Malin tak pernah mencair ibarat sang cerita tak juga pernah cair dinarasi dongeng yang abadi.

Pada episode sajak kedua penyair menulis: (2)

Jika kau singgahi tempat ini, lalu mengukir luas pantai tentu Jejakmu akan terhenti juga di depan sebongkah batu, kau akan terpesona setelah itu mengutuk bibir ibu, karena dia telah membuatku berdiam di tempat ini, Tanpa bisa menghitung setahun atau berabad kalender menenggelamkan air mataku apakah aku tak boleh mencerca ibu yang telah mengutukku jadi batu? Bersama perahu yang juga telah jadi sebongkah karang, di terpa gelombang yang singgah dan pulang ke lautan ?
Ibu cuma terhenti di ujung kanal dan melambai; Malin, Ibu mu ini sudah lama menunggu, sudah ibu kabarkan kepada orang-orang kampong tentang kepulanganmu, maka berlabuhlah dalam pelukan ibu. Waktu itu aku tersasar di dalam cinta seorang perempuan; si jelita dari Negeri Seberang laut, telah menemaniku selama pelayaran membuatku malu menyebutmu, ibu berkebaya layar.
Pada klimaks puisi panjang Isbedy ini ia menegaskan kepada pembaca bahwa justru ia mengharapkan badai itu datang atas permintaannnya bukan dari sang ibu.namun, ia tetap eminta restu sang ibu yang melahirkannya sebagai anak pendosa. Secara tersirat ada pergolakan batin kecemburuan antara mertua kepada menantu tentang kasih beralih kepada orang lain.
Ibu, kasih kesempatanku mendatangkan badai.
Menenggelamkan dirimu ke dalam karang “mengutukmu sebagai batu, Ibu Malin yang menanggung sesal karena terlanjur mengutuk anak sulung yang sebenarnya tak pernah durhaka.
“tapi karena iri Malin telah beristri dan belum balas budi, Sedangkan ibu tak pernah bisa mengganti selapis pakaian ini, maka ibu kutuk Malin …” jerit ibu, dan setetes air selalu mengalir dari batu itu untuk menghapus dahaga pendatang.

Penyair Isbedy Stiawan ZS dalam ekologi sajak Malin dan Cerita lain telah memberi tafsiran majemuk atas kisah Malin Kundang yang diceritakan melupakan ibunya, akan tetapi sebenarnya mencari ibunya. Hanya karena itu telah tua maka Malin lupa mengenalinya kembali (Yunus, 2002). Kisah ini mirip dengan orang-orang moderen yang memelihara memorinya tentang masa lalu, masa kecil, masa silam tanah kelahiran tanpa pernah menyadari bahwa memori itu sebenarnya telah bertukar dan berganti.
Isbedy tampil dalam tafsir lain yang menyampaikan pembelaan kepada tokoh antagonis Si Malin Kundang yang dikutuk sang ibu, karena sang ibu cemburu kepada istri Malin Kundang yang belum meminta restu atas persetujuannya sebagai ibu yang berhak memutuskan apa yang harus dilakukan sang anak sibiran tulang. Kemudian keadaan ini diperparah lagi karena Malin belum membalas budi atas perjuangan ibu yang membesarkannya. Isbedy secara jitu telah menyampaikan ‘pemberontakan Malin Kundang’ dengan cara yang berbeda. *

Oman, Oktober 2023

 

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan