Jika puisiku harus merenungi masa,
itu bukan kehendak bait-baitku
Berulang kali bait-bait itu memohon
bahkan kejenuhannya sudah terjatuh
di persimpangan mimpi serupa doa
(ia) bahkan telah menyiksa pikiranku
Di balik penat yang datang menderu membasahi tidur
tak ada lagi kumpulan aksara yang membungkus,
menjadi selimut angan
sementara masa makin beranjak senja membaca pikiranku
Entah, apakah ada bedanya antara membaca puisi
dengan membaca zaman
semua seperti samar dan penuh gelisah
dan langkahku, hanya memapas angin
Malang – 2021
kita kehilangan mata
mendecak kagum di tarian morfem
mengucap:
revolusi
retorika
reinkarnasi
redenominasi
revitalisasi
dan sederet abjad, begitu naïf
serupa asmaradhana do-re-mi-fa-sol-la-si-do
terlahir dari rahim:
rerumputan
rerimbunan
serta –re- yang lain, di peradaban samar
yang menjelma serupa bebatuan
membasuh diri dari lingkar cemas dan gelisah
berlari mengejar ringkih waktu
di recehan rindu, mengudap –reruntuhan-
tanggalkan tembok-tembok kokoh
sisa jejak penggalan tradisi
berbaris rapi, mencoba memaknai kembali
apa itu reformasi,
apakah lolongan itu telah lelap tertidur
menderu didera angin
di geligi masa (yang redup) dan tumbuh subur
memayungi hujan di tengah padang tandus
hingga ilalang menjadi serumpun morfem
yang berselimut diksi
dan berseteru di pertemuan murka
malam lewat, dendangkan kesumat friksi
mungkin langit tertawa
biarkan kita simpan
di tubuh puisi feminin
agar kelak terbaca penggalan tradisi
yang nantinya mengisah nostalgia
tersulam di antara busana aksara
meski nyaris telanjang di mata kita yang sesat
ini mungkin skeptis, skenario epilog drama
jadi sepenggal nukil dalam babak hidup
membenarkan filsuf Yunani
“nostos” dan “algos”, serupa
frasa retak nostalgia
sebab itu berarti “kembali pada penderitaan”
yang menggoda tarian rindu
tak terpuaskan untuk kembali
di bawah tangis mendung berkabut
rembulan merah menyala
suatu saat, regenerasi peradaban baru
datang menziarahinya
berpayung cemas dan gelisah
kenangan –re- menjadi tubuh paling nyeri
ketika peradaban tak mampu lagi membaca zaman
Malang, 2021
aku mencoba membaca mendung
kotaku mulai basah kuyup
pelupuk tanah pun menggigil digenangi gundah
dengan apa yang tak pernah kita sepakati
untuk menyebutnya air
bertahun-tahun pikiranku mengembara
tak pernah membantah
tentang kenapa sampah telah menyekutukan
kemurkaan kumuh dan kusam
mengotori wajah yang bersih
saat masih menggantung di kaki langit
menuntaskan birahinya
untuk mencumbu tanah-tanah kering
dan serumpun ilalang menyanyikan kegembiraan
menyambut linangan hujan
seperti pinangan yang tak tertolak
sudut-sudut kota telah bermandikan sajak sampah
bait-baitku terkadang ingin merepih mimpi
bersama retaknya bingkai langit
dan berbincang bersama malaikat
meski segala doaku telah letih
mengembara bersama pikiranku
sudut-sudut kota jadi tempat penantian
jadi sampul baru, bagi pengamen jalanan
yang senandungkan hidup
di antara barisan gedung-gedung
dan tak pernah bisa memaknai
kenapa langit hanya menatapnya!?
Malang – 2021
entah hidup ini serupa amsal
menggulung, timbul tenggelam
serupa riuh ombak yang memainkan biduk
berlari kesana-kemari
berenang bagai ikan
adalah engkau, sajak kebebasan
di ingatanmu, ribuan aksara mendekam
saling tambal-sulam
kadang menjelma langit, tak pernah ingkar
tetap membiru
meski awan dan malam mengaburkan wajahnya
engkau penawar gelisah dan rindu
dikala diksi mengingkari adagium
Malang, 2021
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com