Sesingkat Langkahku | Puisi-Puisi Vito Prasetyo

100

Sesingkat Langkahku

Jika puisiku harus merenungi masa,

itu bukan kehendak bait-baitku

Berulang kali bait-bait itu memohon

bahkan kejenuhannya sudah terjatuh

di persimpangan mimpi serupa doa

(ia) bahkan telah menyiksa pikiranku

Di balik penat yang datang menderu membasahi tidur

tak ada lagi kumpulan aksara yang membungkus,

menjadi selimut angan

sementara masa makin beranjak senja membaca pikiranku

Entah, apakah ada bedanya antara membaca puisi

dengan membaca zaman

semua seperti samar dan penuh gelisah

dan langkahku, hanya memapas angin

Malang – 2021


Nostalgia  –re-

kita kehilangan mata

mendecak kagum di tarian morfem

mengucap:

revolusi

retorika

reinkarnasi

redenominasi

revitalisasi

dan sederet abjad, begitu naïf

serupa asmaradhana do-re-mi-fa-sol-la-si-do

terlahir dari rahim:

rerumputan

rerimbunan

serta –re- yang lain, di peradaban samar

yang menjelma serupa bebatuan

membasuh diri dari lingkar cemas dan gelisah

berlari mengejar ringkih waktu

di recehan rindu, mengudap –reruntuhan-

tanggalkan tembok-tembok kokoh

sisa jejak penggalan tradisi

berbaris rapi, mencoba memaknai kembali

apa itu reformasi,

apakah lolongan itu telah lelap tertidur

menderu didera angin

di geligi masa (yang redup) dan tumbuh subur

memayungi hujan di tengah padang tandus

hingga ilalang menjadi serumpun morfem

yang berselimut diksi

dan berseteru di pertemuan murka

malam lewat, dendangkan kesumat friksi

mungkin langit tertawa

biarkan kita simpan

di tubuh puisi feminin

agar kelak terbaca penggalan tradisi

yang nantinya mengisah nostalgia

tersulam di antara busana aksara

meski nyaris telanjang di mata kita yang sesat

ini mungkin skeptis, skenario epilog drama

jadi sepenggal nukil dalam babak hidup

membenarkan filsuf Yunani

“nostos” dan “algos”, serupa

Tulisan Terkait

Rempang: Husnu Abadi

frasa retak nostalgia

sebab itu berarti “kembali pada penderitaan”

yang menggoda tarian rindu

tak terpuaskan untuk kembali

di bawah tangis mendung berkabut

rembulan merah menyala

suatu saat, regenerasi peradaban baru

datang menziarahinya

berpayung cemas dan gelisah

kenangan –re- menjadi tubuh paling nyeri

ketika peradaban tak mampu lagi membaca zaman

Malang, 2021


Sudut Kota

aku mencoba membaca mendung

kotaku mulai basah kuyup

pelupuk tanah pun menggigil digenangi gundah

dengan apa yang tak pernah kita sepakati

untuk menyebutnya air

bertahun-tahun pikiranku mengembara

tak pernah membantah

tentang kenapa sampah telah menyekutukan

kemurkaan kumuh dan kusam

mengotori wajah yang bersih

saat masih menggantung di kaki langit

menuntaskan birahinya

untuk mencumbu tanah-tanah kering

dan serumpun ilalang menyanyikan kegembiraan

menyambut linangan hujan

seperti pinangan yang tak tertolak

sudut-sudut kota telah bermandikan sajak sampah

bait-baitku terkadang ingin merepih mimpi

bersama retaknya bingkai langit

dan berbincang bersama malaikat

meski segala doaku telah letih

mengembara bersama pikiranku

sudut-sudut kota jadi tempat penantian

jadi sampul baru, bagi pengamen jalanan

yang senandungkan hidup

di antara barisan gedung-gedung

dan tak pernah bisa memaknai

kenapa langit hanya menatapnya!?

Malang – 2021


Adagium

entah hidup ini serupa amsal

menggulung, timbul tenggelam

serupa riuh ombak yang memainkan biduk

berlari kesana-kemari

berenang bagai ikan

adalah engkau, sajak kebebasan

di ingatanmu, ribuan aksara mendekam

saling tambal-sulam

kadang menjelma langit, tak pernah ingkar

tetap membiru

meski awan dan malam mengaburkan wajahnya

engkau penawar gelisah dan rindu

dikala diksi mengingkari adagium

Malang, 2021


  • Vito Prasetyo, dilahirkan di Makassar, 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Kab. Malang Indonesia – Pernah kuliah di IKIP Makassar. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat budaya. Naskah Opini dan Sastra (Cerpen, Puisi, Esai, Resensi), Artikel Pendidikan & Bahasa  telah dimuat media cetak lokal, nasional, dan Malaysia.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan