

“Roh manusia harus menang atas teknologi.” – Albert Einstein
Era pandemi telah melahirkan kondisi yang spesial bagi kehidupan kaum perempuan. Di bidang ekonomi misalnya, data dari United Nations (UN) Women yang rilis pada Juli 2020 lalu menyebutkan, sebanyak 54% perempuan telah memanfaatkan ruang digital untuk pengembangan bisnis mikro. Sedangkan kaum laki-laki hanya 39% saja.
Disrupsi teknologi semakin pesat dan berkembang. Siap tidak siap perempuan harus menyambut hal tersebut. Di satu sisi ini adalah kabar baik, di mana peran perempuan di bidang teknologi akan semakin terbukan.
Namun, sejauh mana kesiapan perempuan itu sendiri untuk terlibat? Literasi digital terkadang hanya perbincangan, padalah dasar dari produktivitas positif perempuan di dunia digital adalah pemahaman literasi digital itu sendiri.
Memahami Literasi Digital untuk Perempuan
Lembaga UNESCO pada tahun 2011 telah mendefiniskan Literasi Digital sebagai kemampuan dalam penggunaan perangkat teknologi, informasi, komunikasi, dan kemampuan untuk pembelajaran bersosialisasi, bersikap dan berpikir kritis, kreatif, dan inspiratif sebagai bentuk kompetisi digital.
Definisi di atas sangat kompleks dan universal. Jadi, literasi digital bagi perempuan tidak cukup mereka punya akun dengan banyaknya follower atau subscriber, banyaknya like atau comment, banyaknya foto postingan keren, tetapi juga menekankan sejauh mana kebermanfaatan, kreativitas, nilai-nilai inspiratif yang muncul dari aktivitas berliterasi digital.
Literasi dan Kerja Nyata, Bukan Cuma Pencitraan
Definisi sebenarnya dari esensi literasi digital bagi perempuan sedikit mengalami pergeseran makna. Mungkin ini bukan hanya di kalangan perempuan, tetapi juga terjadi secara umum.
Literasi digital sering dianggap hanya sebagai simbol, bahwa sosmed adalah semata-mata media pencitraan. Berfoto, merekam video dengan aktivitas sekadarnya sudah menjadi cara eksis berkiprah di bidangnya.
Ya, yang penting kegiatan ada foto, yang penting terlihat eksis, tak perlu diperhatikan lagi bagaimana kebermanfaatan, nilai-nilai insipiratif, dan kreativitas yang sebenarnya di dunia nyata.
Padahal Tuan Arthur Clarke mengatakan setiap teknologi yang cukup canggih setara dengan magic, dan benarlah saat ini kita telah terikat dengan magic digital.
Lalu sebuah pepatah Barat yang cukup menarik mengatakan, jika Anda berpikir teknologi dapat memecahkan masalah keamanan Anda, maka Anda tidak memahami masalahnya dan Anda tidak memahami teknologinya.
Mengembalikan Kerja Nyata dalam Ruang Digital
Kisah perempuan asal Surabaya bernama Heni Prasetyorini yang sukses dengan kelas coding digitalnya hingga dimuat di media asing jadi inspirasi untuk saya mengatakan, “beginilah literasi digital sebenarnya untuk perempuan.”
Sahabat saya tersebut membuka kelas coding untuk anak-anak, mengikuti berbagai festival dan kompetisi dalam dan luar negeri, serta sukses membuka kelas online untuk orang tua yang ingin anak-anaknya berliterasi digital sejak dini.
Standarnya adalah nilai yang benar-benari dirasakan oleh orang lain, inspirasi yang akhirnya mengatakan, ‘wah Anda ini memang membuat saya lebih baik.’
Perempuan dengan segala fitrah dan psikologinya harus siap bersaing di dunia digital dengan pemahaman literasi yang baik. Sehingga perempuan bisa memanfaatkan media untuk sesuatu yang bernilai, bukan cuma untuk suka-suka.
Punya TikTok untuk jualan, punya Instagram untuk menginspirasi orang, punya Youtube untuk mengunggah konten bermanfaat. Jadi semuanya terasa nilainya, nilai yang benar-benar dilakukan bukan sebatas asal buat untuk pencitraraan.
Nilai kebermanfaatan bagi perempuan yang eksis di ruang digital akan bisa diwujudkan jika perempuan memahami esensi dan tujuannya mengapa ia ada di sana.
Apakah ia ingin memberikan inspirasi baik bagi orang lain? Memperkuat ideologinya? Menyebarkan kebaikan untuk banyak orang, atau apa?
Jika semua itu tak ada maka ruang digital hanya akan sebatas ruang magic semata. Perempuan akan terpesona dan bisa-bisa lupa.
Nafi’ah al-Ma’rab, Penulis Perempuan Riau
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com