
Foto: Koleksi Julina
Sudah sebulan berpisaha dari sehari kita marangkai janji
dengan ucapan kita yang paling puisi, kekasih.
Di kala itu tangan kita bak udara untuk paru-paru yang terus berdetak di dalam tubuh, dan bahu kita yang saling menopang bak semang di perahu ayah yang saling mengimbangi menjemput tujuan.
Bukan saja itu, kita pernah menjadi lampu-lampu kota
yang saling berbagi cahaya, sebelum satu di antara kita hilang rasa percaya.
Setelah kita terpisah, kini aku hanya bisa menceritakan indahnya senyumanmu
pada cahaya rembulan yang jatuh di muara.
Dan kini kita adalah cerita yang hanya bisa terbaca oleh mata yang basah,
selanjutnya menjadi kenangan yang setia memeluk ingatan.
Tahoku, 22 Mei 2022
Firman Wally pria kelahiran Tahoku 03 April 1995. Lulusan Universitas Pattimura Ambon jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia. Puisi-puisinya sudah termuat di berbagai antologi bersama. Sebagai pemenang kedua dalam lomba menulis puisi yang diselenggarakan oleh PAPARISA SASTRA NUSA INA. Masuk nominasi 11 terbaik dari 1000 guru menulis puisi. Antologi tunggalnya "Lelaki Leihitu" Terbit 2021. Puisi-puisinya pernah dimuat oleh redaksi APAJAKE, Salmapublishing, Poros Timur dll.
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com