Peningkatan Minat Baca di Kalangan Pelajar: Catatan Nasya Nurkhoirunnisa

2

“Ada dua motif untuk membaca buku. Pertama, kau menikmatinya dan yang lain, kau bisa menyombongkannya.”
Bertrand Russell

Seperti yang kita ketahui minat membaca di Indonesia sangat rendah, dikutip oleh pegiat literasi, data UNESCO sempat menyebutkan bahwa indeks minat baca Indonesia hanya berada di angka 0,001%. Hal ini diperparah oleh dominasi gawai serta kualitas pendidikan yang belum merata. Dampaknya memicu maraknya penyebaran hoaks dan menghambat peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurut Umar Mansyur dalam artikelnya minat baca yang tinggi bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman dan daya nalar, karena mampu mengolah informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Namun, strategi pengembangan minat baca yang dilakukan, khususnya di sekolah dan perguruan tinggi, belum memperlihatkan hasil yang maksimal. Secara umum, beberapa fakta menunjukkan minat baca masyarakat cenderung menurun. Suatu hal yang kontradiktif jika dibandingkan laju penggunaan internet yang trennya justru menaik. Sarana yang dapat meningkatkan minat baca sebagai sumber informasi belajar adalah perpustakaan. Membiasakan literasi harus dimulai dari hal kecil dan dekat: pojok baca di sekolah, perpustakaan keliling, hingga komunitas baca daring yang memanfaatkan gawai sebagai jembatan, bukan penghalang. Ketika buku dan konten berkualitas jadi teman sehari-hari, siswa tidak hanya pintar menjawab soal, tapi juga cakap membantah informasi keliru dengan data.

Menaikkan angka 0,001% itu bukan tugas pemerintah saja, tapi kerja bersama keluarga, sekolah, komunitas, hingga media. Satu halaman sehari sudah cukup untuk memutus rantai kebodohan dan membangun bangsa yang melek informasi. Karena di akhir, negara yang kuat bukan hanya diisi oleh banyak gelar, tapi oleh rakyat yang mau membaca, mau bertanya, dan mau berpikir. Mari kita mulai dari diri sendiri, sekarang.

Nasya Nurkhoirunnisa, SMAN 15 Batam

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan