PURWOKERTO–TIRASTIMES Usai menghadiri iven Dari Negeri Poci pada 23–25 Oktober 2026 di Tegal, dua sastrawan Riau, masing-masing Dr. M. Husnu Abadi, M.Hum. dan Dr. (Can) Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom., sengaja berkunjung ke Desa Tinggarjaya, Jatilawang, sekitar setengah jam perjalanan dari pusat Kota Purwokerto, Jawa Tengah. Kunjungan tersebut bertujuan untuk bersilaturahim dan berbincang lepas dengan sastrawan terkenal Ahmad Tohari, pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruk.
Kedua sastrawan Riau itu diterima langsung oleh Ahmad Tohari di Perpustakaan Ahmad Tohari, sebuah bangunan yang merupakan sumbangan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud RI) senilai Rp700 juta.
“Bangunan ini sumbangan Kemenbud yang dipimpin Menbud, Dr. Fadli Zon. Arsitekturnya ponakan saya yang ahli teknik sipil sekitar setahun lalu,” ujar Ahmad Tohari dengan santai.
Tohari tampak sangat bergembira menerima kunjungan tamu yang datang dari Tanah Melayu Riau tersebut. Suasana akrab segera terbangun, menghadirkan perbincangan yang mengalir lepas tentang sastra, kehidupan keluarga, pengalaman kepengarangan, hingga perjalanan panjang novel Ronggeng Dukuh Paruk.
Selama lebih dari dua jam, perbincangan berlangsung dalam suasana santai di perpustakaan tersebut. Pada kesempatan itu, kedua tamu juga mengambil sejumlah buku karya Ahmad Tohari, termasuk cetakan terbaru novel Ronggeng Dukuh Paruk edisi hard cover yang tampil mewah dan masih diterbitkan oleh Penerbit Gramedia.
“Ini sumbangsih terakhir saya untuk sastra Indonesia,” ucap Tohari sambil memperlihatkan buku novel yang masih rapi terbungkus plastik.
Tohari kemudian bercerita tentang manfaat ekonomi yang diperolehnya dari karya-karya yang telah ditulis dan diterbitkan selama puluhan tahun.
“Alhamdulillah, royalti untuk enam bulan cetak buku ini, uangnya bisa dideposito. Dulu, alhamdulillah, saya masih menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi. Bahkan salah seorang di antaranya kuliah di kedokteran. Dari mana uangnya? Ya, dari buku-buku ini,” tambah Tohari.
Ia mengungkapkan, sejak dahulu dirinya telah memiliki komitmen bersama sang istri, Siti Syamsiah, yang berprofesi sebagai guru. Penghasilan dari gaji sang istri digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum keluarga, sedangkan biaya kuliah anak-anak menjadi tanggung jawab Tohari.
Hal yang membanggakan, berdasarkan informasi yang beredar di dunia digital, kelima anaknya berhasil meraih gelar doktor dengan bidang keilmuan yang berbeda-beda.
Ronggeng Dukuh Paruk, Cermin Kehidupan Masyarakat Pedesaan
Ahmad Tohari merupakan salah seorang sastrawan terkemuka Indonesia yang dikenal melalui karya-karyanya tentang kehidupan masyarakat pedesaan, kebudayaan Jawa, kemanusiaan, ketimpangan sosial, dan nilai-nilai keagamaan. Namanya dikenal luas, terutama berkat novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.
Ahmad Tohari dilahirkan di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada 13 Juni 1948. Ia berasal dari keluarga santri. Ayahnya dikenal sebagai seorang kiai yang bekerja di Kantor Urusan Agama (KUA), sedangkan ibunya berdagang kain.
Pada 1970, Tohari mempersunting Siti Syamsiah, yang dalam sejumlah sumber juga ditulis Syamsiah saja.
Sepanjang perjalanan hidupnya, Tohari dikenal sebagai sastrawan, novelis, cerpenis, esais, sekaligus wartawan. Ia tumbuh di tengah lingkungan masyarakat pedesaan Banyumas yang kemudian menjadi sumber inspirasi penting bagi karya-karya sastranya.
Dalam perbincangan bersama kedua sastrawan Riau tersebut, Tohari menjelaskan bahwa gambaran tradisi dan budaya dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk tidak terlepas dari pengamatan serta pengalaman hidupnya sehari-hari di desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
“Aspek tradisi dan budaya dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk itu merupakan pengamatan dan pengalaman yang saya saksikan sehari-hari di desa ini. Tradisi Ronggeng itu memang ada, mereka waktu itu mudah dijumpai di kawasan pinggiran kaki Gunung Slamet,” cerita Tohari mengenang peristiwa tersebut.
Namun, ia menegaskan bahwa novel itu tetap merupakan karya fiksi, meskipun banyak pembaca menganggap kisah di dalamnya sangat dekat dengan kenyataan.
“Tapi novel itu 166% lebih hanyalah fiksi, meskipun kabarnya banyak pembaca merasakan seolah-olah sepenuhnya fakta,” tambah Tohari lagi.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman hidup dan pengamatan terhadap lingkungan sosial dapat menjadi sumber inspirasi bagi seorang pengarang. Melalui Ronggeng Dukuh Paruk, Tohari menghadirkan kehidupan masyarakat desa beserta tradisi, pergulatan kemanusiaan, dan persoalan sosial yang menyertainya.
Pernah Mengalami Peristiwa Getir
Dalam perbincangan itu, Tohari juga mengenang peristiwa getir yang dialaminya pada masa awal melejitnya novel Ronggeng Dukuh Paruk.
Ia mengingat suatu kejadian ketika, pada malam hari, sejumlah petugas datang ke rumahnya dan langsung membawanya ke Jakarta. Selama berada di sana, Tohari dimintai keterangan sehubungan dengan bagian novelnya yang mengisahkan perlakuan terhadap orang-orang yang terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI).
Penggambaran tersebut rupanya menimbulkan persoalan. Ia dipandang seolah-olah memiliki keterkaitan dengan PKI, padahal menurut Tohari, dirinya hanya berusaha mengangkat persoalan kemanusiaan melalui karya sastra.
“Hal itu dipandang seolah-olah saya termasuk anggota PKI. Padahal Ayah saya seorang ustadz dan petugas KUA. Saya semata-mata mengangkat sisi kemanusiaannya. Saya sempat mereka tahan. Tapi alhamdulillah, Gus Dur yang menjamin saya sehingga saya dilepas,” tutur Tohari.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan kepengarangan Tohari.
Di tengah situasi sosial dan politik yang sensitif, ia berupaya menempatkan sastra sebagai ruang untuk mengungkapkan persoalan kemanusiaan, termasuk pengalaman dan penderitaan masyarakat yang kerap luput dari perhatian.
Menjalani Hari Tua dengan Kebiasaan Sederhana
Kini, pada usia sekitar 76 tahun, Ahmad Tohari menjalani hari-harinya dengan kebiasaan sederhana di rumahnya yang berdiri di atas lahan sekitar satu hektare di Desa Tinggarjaya.
Di kawasan rumah tersebut telah dibangun sebuah musala, rumah untuk beberapa anaknya, serta Perpustakaan Ahmad Tohari yang menjadi salah satu ruang penting untuk menyimpan dan memperkenalkan karya-karyanya kepada masyarakat.
Dalam kesehariannya, Tohari tetap menjaga rutinitas beribadah dengan menunaikan salat lima waktu di musala yang berada di lingkungan rumahnya.
Usai salat Subuh, ia memiliki kebiasaan membaca seluruh surat kabar yang dilanggannya, yakni Kompas dan Suara Merdeka, surat kabar yang terbit di Jawa Tengah. Setelah membaca koran, Tohari mengitari halaman rumahnya sambil menghirup udara pagi.
Sekitar pukul 09.00, ia biasanya beristirahat dan tidur sejenak karena kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas hariannya.
Pada siang hari, hampir selalu ada tamu yang datang untuk bersilaturahim atau sekadar berbincang dengannya.
Di sela-sela aktivitas tersebut, Tohari menikmati secangkir kopi buatan istrinya.
Sejak dahulu, Tohari mengaku tidak menonton televisi karena menurutnya tidak banyak informasi dari tayangan televisi yang menarik perhatiannya.
Pada malam hari, setelah menunaikan salat Magrib dan Isya, ia bersantai bersama keluarga sebelum akhirnya beristirahat.
Kehidupan yang bersahaja itu memperlihatkan sisi lain seorang pengarang besar Indonesia. Di tengah pengakuan luas atas karya-karyanya, Tohari tetap menjalani kehidupan sehari-hari dengan kedekatan pada keluarga, lingkungan tempat tinggal, ibadah, serta kebiasaan membaca.
Deretan Karya yang Memperkaya Sastra Indonesia
Sepanjang perjalanan kepengarangannya, Ahmad Tohari telah menghasilkan sejumlah novel yang mendapat perhatian luas dari pembaca sastra Indonesia.
Karya-karya novelnya meliputi Kubah (1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jantera Bianglala (1986), Bekisar Merah (1993), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Belantik (2001), dan Orang-Orang Proyek (2002).
Selain novel, Tohari juga menulis sejumlah kumpulan cerita pendek. Di antaranya adalah Senyum Karyamin (1989), Nyanyian Malam (2000), dan Rusmi Ingin Pulang (2004).
Karya-karya tersebut memperlihatkan perhatian Tohari terhadap kehidupan masyarakat kecil, persoalan sosial, pergulatan batin manusia, serta hubungan antara tradisi, agama, dan perubahan zaman.
Melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, ia menghadirkan tokoh-tokoh dan lingkungan sosial yang terasa hidup. Kekuatan pengamatan terhadap masyarakat pedesaan menjadi salah satu ciri penting dalam karya-karyanya.
Ketika novel Ronggeng Dukuh Paruk diangkat jadi film Mahkota Ronggeng, Tohari merasakan kurang pas terkait jalan ceritanya.
“Trilogi novel itu bika dibaca butuh waktu 18 jam. Ketika fifilmkan jadi hanya dua jam, rasanya banyak bagian-bagian cerita yang hilang,” cerita Tohati. Film Mahkota Ronggeng dibintangi oleh aktris Enny Beatrice. Untuk mengabadikan wajah aktris tersebut, Tohari meminta penerbit bukunya saat cetak ulang agar menampilkan sketsa wajahnya pada cover buku.
Penghargaan dan Pengakuan
Atas perjalanan panjangnya di dunia sastra, Ahmad Tohari telah menerima sejumlah penghargaan dan pengakuan. Beberapa di antaranya adalah:
Berbagai penghargaan tersebut menjadi penanda penting atas kontribusi Ahmad Tohari terhadap perkembangan sastra Indonesia. Karya-karyanya tidak hanya memperkaya khazanah kesusastraan nasional, tetapi juga memperkenalkan kehidupan masyarakat pedesaan Banyumas beserta nilai-nilai budaya dan persoalan kemanusiaannya kepada pembaca yang lebih luas.
Silaturahim dua sastrawan Riau dengan Ahmad Tohari di Perpustakaan Ahmad Tohari itu pun menjadi kesempatan berharga untuk menyimak langsung pengalaman seorang pengarang besar dalam merawat tradisi, mengembangkan kreativitas, serta mempertahankan komitmen terhadap sastra dan kemanusiaan.
Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahim antarsastrawan dari daerah yang berbeda, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan pemikiran mengenai perjalanan kepengarangan serta sumbangsih sastra bagi kehidupan masyarakat.(Ns/BK)