Kategori Pencarian
Puisi
Sumberku: Puisi Zainul Dzakwan Arabi
Kau sumberku
Gagalnya etik manusiawi
Lilitan kabel ke sebuah pelacak kebenaran
Tanpa…
Bulan Lampau: Puisi Wahyu Mualli Bone
Tinggallah purnama lalu menyiram tadah lima ratus pakis sakat bersama guyur girang genangi…
Badai Petir 24 Celsius: Puisi Wahyu Mualli Bone
Remang bercak canon pijar di sana. Petir hanya memandangi dentuman di persemayaman.…
Hujrina Gramesa: Puisi Wahyu Mualli Bone
Panjang tangisan, entah kapan keringnya yang lebih berat dari kebendaan lainnya. Pertalian…
Mencangkok Pekan: Puisi Wahyu Mualli Bone
Pekan sudah berbunga jantan, melepas kaidah membuah biji, berbelah dua ataupun tunggal,…
Tahun-Tahunan: Puisi Wahyu Mualli Bone
Dihitung dari tahun awal sangat memungkinkan menjadi judul yang cukup panjang ditulis…
Selamat Tahun Baru: Puisi Zainul Dzakwan Arabi
Selamat dari tidak selamatnya bulan-bulan genap yang hanya bersemat nominal kertas yang…
Rina Sukamaki Naroto: Puisi Wahyu Mualli Bone
Dari desa berangkat cerita menggerus cita pada kemurahan caya melepuk kasih ke kubah…
Dingkis: Puisi Wahyu Mualli Bone
Dingkis dingkis
Memandang meja terkenang dingkis dingkis
Rasanya kurang kalau tak…
Sekrup Seni: Puisi Wahyu Mualli Bone
Seni, sekarangmu tidak bisa dibiarkan sampai beralasan dahulumu.
Simpul simpai yang…
Pakai Part: Puisi Wahyu Mualli Bone
Sekarang mau naik daun belum sampai-sampai. Banyak yang perlu dipelajari, bentuk pohon,…
Mak-Mak Sumur Bor: Puisi Wahyu Mualli Bone
Begitulah, bangunan diksi ramuan bumbu, bulat segi-segi.
Bauran hambur guyur ratu…
Partai Emas: Puisi Zainul Dzakwan Arabi
Visi kami
Bangsa-bangsa emas jadi utama
Jadikan sejarah pertama
Kemudian agungkan…
Parti Parsial: Puisi Wahyu Mualli Bone
Bagi bagi rezeki.
Silakan dihirup wewangian merah ini.
Cicipi bangkit empuk kuning ini.…
Rindu: Puisi Bunda Swanti
Apa kabar puisi
Masihkah ada diksidiksi
Tertata apik direrentuhan rindu
Lalu menetap…