Wajah lusuh itu ada di depanku
Setangkai anggrek bulan tidak di tangannya lagi
Rusuh gelisah menumbuk numbuk dadanya
Matanya hilang cahaya di sela bulir air bening
Semakin lama ku pandang pundaknya yang legam
Ada beban yang hilang dibawa lolong igaunya
Sebetulnya dia tidak lagi risau dan lusuh
Karena kekasihnya hinggap di cahaya rembulan
Pelukkan tangannya pada lutut kurusnya
Ungkapkan rindu pada ciuman pertama anaknya
Bongkar hati yang sedih pada cahaya lampu pijar
; bahwa ia masih ingin dengar tawa cekikikan kekasihnya dulu.
Itulah ucapan rahasia yang iya berikan di telinga kiriku.
Balam, pada suatu waktu.