Mozaik : Zhang Kien Pergi Ke Barat

Ilustrasi

Zhang Kien Pergi Ke Barat

Saya pikir sudah banyak orang yang membaca kisah Perjalanan ke Barat (Journey To The West), yaitu suatu kisah tentang pengambilan kitab suci ke India. Barangkali juga sudah banyak orang melihat kisah Sun Go Kong yang melegenda itu di televise. Sun Go Kong adalah salah satu tokoh sentral yang diangkat dari Cerita Journey To The West. Kisah tentang Journey To The West yang melibatkan tokoh sental Pendeta Tong, Sun Go Kong Si Monyet Sakti, Ti Pat Kay Si Sosok Wajah Babi, dan Sam Zheng Si Tokoh Rahib yang melakukan perjalanan ke India untuk mengambil kitab suci. Disebutkan ke Barat karena India terletak disebalah barat dari Tiongkok. Kisah Journey To The West ini  sangat melegenda dan ditulis di zaman Dinasti Ming (1368-1644) bersandingkan mitologi-mitologi klasik. Kisah ini juga pernah dituliskan dalam novel Wu Chengen yang berjudul See Yu Ki sekitar pertengahan abad ke-16, artinya sekitar akhir masa kekuasaan Dinasti Ming.

Nah, saya lebih tertarik mengulas perjalanan ke barat yang dilakukan oleh Zhang Kien  beberapa abad lebih awal lagi. Dari pemahaman saya terhadap beberapa literatur, saya belum menemukan kisah Zhang Kien melakukan perjalanan ke barat ditulis dalam bentuk novel atau yang kemudian diangkat menjadi kisah sinemagrafi. Kisah Zhang Kien ke barat terjadi pada masa kebesaran Dinasti Han (202 SM-220 M). Artinya, kisah sejarah ini sudah terjadi 1700 tahun lebih awal dari kisah Journey To The West yang sangat sohor itu.

Suatu kejadian terpenting dalam Dinasti Han adalah ketika bangsa Tionghoa untuk pertama kalinya meluaskan pandangannya ke dunia luar untuk mengetahui cara hidup bangsa lain di belahan bumi lain. Awalnya, bangsa Tionghoa hanya menganggap bahwa di dunia ini hanya merekalah yang hidup yang dikaruniai gunung, laut, sungai, dan tanah yang subur dari Huang Di (Raja Kuning). Padahal, di belahan lain dunia masih ada bangsa India dan Roma yang berjaya dengan kebudayaannya, dan kebetulan keduanya terletak di benua Asia serta tidak begitu jauh dari Tiongkok. Melalui gunung, sungai, lembah dan gurun, akhirnya kedua negara ini mulai dikenal bangsa Tionghoa Dimasa Dinasti Han  (Laurence Bergreen, Marco  Polo Dari Venesia Ke Xandu, 2007).

Adalah peran bangsa Tartar, oleh bangsa Tionghoa disebut Xiung-nu (The Barbarian) yang hidupnya di atas kuda dan tinggal nomaden di tenda-tenda kecil padang rumput. Bangsa Tartar acapkali menyerang ke dalam wilayah bangsa Tionghoa karena negeri Tiongkok lebih kaya akan sumber makanan. Tembok raksasa sepanjang 10.000 li (6.000 KM) yang dibangun Kaisar Qin Shi Huang Di (nama kaisarnya, Ying Zheng), sebenarnya adalah untuk membendung serangan bangsa Tartar ini. Ketika Dinasti Han runtuh dan Liu Pang yang bergelar Gaosu menjadi Kaisar Han pertama, ia juga meneruskan tradisi menghalau bangsa Tartar (Ivan Taniputera, History of China, 2011).

Selanjutnya, Wu Di (nama aslinya, Liu Che) keturunan Liu Pang menjadi Kisar Han yang ke-6 naik tahta, ia juga memusuhi bangsa Tartar. Wu Di beranggapan lebih baik menyerang diawal ketimbang menunggu serangan dari bangsa Tartar dan hanya mempertahnakan diri. Musuh harus dipukul mundur jauh sampai di luar batas sehingga tidak punya waktu cukup untuk menyerang dan membuat kerusuhan di tapal batas. Prajurit Han juga mengejar bangsa Tartar jauh sampai ke utara gurun Gobi yang luas, dan itu menjadi pertahanan yang kokoh bagi bangsa Tartar yang sudah terbiasa hidup di gurun pasir.

Disekitar ujung barat Tembok Raksasa, hidup sekelompok suku bangsa yang bernama Yuezhi yang selalu bermusuhan dengan bangsa Tartar. Tidak lama sebelum Wu Di naik tahta, bangsa Yuezhi baru saja mengalami kekalahan perang dari bangsa Tartar. Pemimpin bangsa Yuezhi dibunuh dan tengkoraknya dijadikan mangkok minum. Bangsa Yuezhi merasa terhina sekali. Bangsa ini kemudian mengumpulkan seluruh sisa ternak dan mengungsi ke daerah yang lebih aman menelusuri Asia Tengah menuju ke barat. Kaisar Wu Di mendengar kabar itu, kemudian ia bermaksud untuk mengajak bangsa Yuezhi kerjasama mengusir bangsa Tartar. Ia mencari seorang sukarelawan yang bersedia menyusul bangsa Yuezhi yang sudah mulai meninggalkan tempat tinggal semula mereka di barat. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 138 SM.

Adalah seorang perwira muda bernama Zhang Kien yang kemudian menawarkan diri bersedia untuk menyusul bangsa Yuezhi di barat. Kaisar Wu Di memerintahkan 100 orang pendamping dan persediaan ternak yang cukup diberikan sebagai bekal Zhang Kien. Zhang Kien juga diikuti seorang budak yang berasal dari bangsa Tartar. Setalah itu, berangkatlah ia menuju tapal batas sebelah barat. Lama sekali tiada kabar dari Zhang Kien.

Ketika Zhang Kien baru saja melalui ujung tembok besar dan masuk ke daerah luas  sebelah barat-laut Provinsi Gansu, segerombolan perampok Tartar dapat menangkapnya. Zhang Kien dijadikan tawanan dan dibawa ke sebelah utara gurun Gobi. Di situ Zhang Kien ditawan dengan cara yang enak; ia diberi istri dan sebuah kemah, juga diperkenankan untuk ikut berburu, menggembala, dan berperang layaknya bangsa Tartar lainnya. Sepuluh tahun lamanya telah berlalu, bangsa Tartar telah melupakannya bahwa ia sebenarnya adalah seorang tawanan. Zhang Kien mencuri kesempatan, ia tahu kalau bangsa Tartar sudah tidak mengawasinya lagi, maka ia melarikan diri naik kuda cepat bersama seorang budaknya bernama Kan Fu yang setia itu (Ong Po Kiat, Tiongkok Sepanjang Abad, 1951; L.J. Ke., In Search of The Real China, 2002).

Bangsa tartar kemudian berpikir ia akan kembali ke Tiongkok, tetapi sangkaan itu keliru. Mereka berdua pergi menju tempat lama dimana dia dulu ditangkap dan kembali menuju barat. Zhang Kien justru melanjutkan niatnya mencari bangsa Yuezhi ke barat jauh. Ia masuk ke wilayah Asia Tengah yang asing dengan tidak melalui jalan kafilah yang biasa dilalui para musafir dan pedagang. Dia pergi ke arah utara menuju  barisan gunung tinggi Tian Shan yang suci. Ia bertemu dengan banyak penggembala dan bertanya kepada mereka tentang bangsa Yuezhi. Ia berpedoman pada bintang dan cahaya bulan dalam menuntun perjalanannya mencari bangsa Yuezhi. Ia melintasi perbukitan, batu cadas, lembah, dan terkadang celah-celah batu sempit, padang rumput luas dan liar, pegunungan es, karang, jalan-jalan setapak nan berat. Untungnya Zhang Kien didampingin Kan Fu yang ahli memanah sehingga mereka bisa berburu bila makanan habis.

Suatu ketika mereka berdua memasuki daerah antara pegunungan Pamir (Pegunungan di Tajikistan dimulai dari Himalaya, Tian Shan, Karakolam, Kunlun, dan jajaran Hindu Kush) dan Lautan Kaspia (sebenarnya adalah danau luas yang terletak di Azarbaijan, Iran, Kazakhstan, Rusia, dan Turkmenistan).  Di situ mereka berdua menjumpai hal yang tidak disangka-sangka, yaitu dihadapan mereka membentang tanah ladang yang luas dan subur, sedangkan penduduk tinggal di rumah-rumah di kota. Sungai-sungai airnya mengalir ke jurusan barat dan bermuara ke laut yang belum mereka kenal namanya. Jadi, Tiongkok bukanlah satu-satunya  negeri yang beradab pada masa itu. Kemudian Zhang Kien pergi ke Fergana (Provinsi Turkistan, Rusia) menayakan tentang bangsa Yuezhi. Mereka mempergunakan campuran bahasa Tartar dan bahasa isyarat. Mereka mendapatkan informasi bahwa bangsa Yuezhi tinggal di Bactria (Yunani) dekat sungai Oxus (dikenal juga sebagai Sungai Amu Darya yang menjadi tapal batas Iran dan Turan pada masa kuno), sedikit jauh ke sebelah barat.

Akhirnya Zhang Kien bertemu dengan bangsa Yuezhi, dan ia menyampaikan pesan Kaisar Tiongkok kepada mereka. Dengan tegas, bangsa Yuezhi menolak ajakan Zhang Kien untuk pulang ke daerah asal yang tandus yang tidak menjanjikan penghidupan hanya karena ingin menyenangkan hati Kaisaar Wu Di. Akhirnya Zhang Kien putus asa, tetapi ia kemudian berpikir bahwa ia telah mendapatkan lebih daripada tujuan semula. Ia telah bertahun-tahun mengembara, melihat, mendengar dan merasakan dunia luar yang selama ini tidak dirasakannya. Ia mengenal bangsa-bangsa dan negeri-negeri lain di belahan  bumi yang ternyata begitu luas.

Zhang Kien kemudian  kembali ke Tiongkok melalui jalan selatan melalui Khasgar dan Hothan (keduanya masuk Provinsi Xinjiang), dan akhirnya sampai di tapal batas dekat Tiongkok. Di situ mereka kembali tertangkap bangsa Tartar. Ia mulai frustrasi karena harus hidup di gurun tandus dan gersang. Setahun kemudian baru mereka dapat meloloskan diri dan mengembara selama dua belas tahun baru dapat kembali ke tapal batas Kerajaan Tengah yang subur dan makmur (126 SM). Zhang Kien diterima di istana dan diberi gelar “Pengembara Besar” oleh Kaisar Han. Di istana, orang-orang mendengarkan kisah-kisah Zhang Kien tentang negeri Fergana yang penduduknya sudah tinggal di rumah-rumah, menanam padi dan gandum, membuat anggur dan beternak kuda-kuda terbaik.

Itulah sekelumit kisah Zhang Kien si “Pengembara Besar” atau “Marco Polo dari Timur” bersama budaknya Kan Fu melakukan perjalanan ke barat  yang menjumpai banyak hal yang sesungguhnya bukanlah menjadi tujuan semulanya.*

Penulis Adalah Dosen dan Cendekiawan
Bergelar :
Dr. NYOTO, SE, SH, S.I.Kom, MH, MM, M.M.Pd, M.I.Kom, Ph.D

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

2 Komentar
  1. Wahid mengatakan

    Ya menarik juga ceritanya karena berhubungan dengan sejarah

  2. riyan putra yap mengatakan

    bukunya sangat inspiratif,slamat pak nyato