Cerpen : Jangan Panggil Aku Habib – Bambang Kariyawan Ys

Foto stok gratis antik, Arsitektur, bertekstur

Jangan Panggil Aku Habib

Senyum lelaki itu menyimpan tanya. Ada apa arti senyum penuh kharisma itu? Terasa nyaman berada di sekitarnya. Banyak kaum hawa terbakar lentik bulu matanya kala lelaki itu melintasi koridor. Termasuk aku, perempuan biasa yang berkeinginan memiliki lelaki luar biasa itu. Memang lelaki itu setiap lekuk dalam tubuhnya menebar aroma. Aroma yang selalu dirindu. Kala berjalan bumi yang dipijak menebarkan aroma kasturi. Kala berjalan, kayuhan tangannya menyibak angin beraroma melati. Kata-kata dari mulutnya menebar aroma mawar. Yang jelas semua gerak dari setiap anggota tubuhnya memiliki makna tersendiri.

Sejak kutahu ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya aku selalu berusaha mendekati dengan cara-cara yang terkadang tak masuk akal. Kubeli dan kukenakan berbagai asesoris yang sangat agamis. Kucoba memakainya walau awalnya terasa janggal. Sempat jengah dan gerah. Namun demi lelaki itu, jengah dan gerah coba kunikmati.

“Hai,” seruku memanggilnya.

“Dahlia kan namamu? Aku sering melihat postingan di IG mu. Bait-bait puisi dengan latar bunga dahlia. Bunga itu benar ada di rumahmu?”

“Iya, Habib …,” Kucoba kembali membuka percakapan.

“Jangan panggil aku Habib!”

Tersentak aku. Awal yang buruk. Terburai harapan yang kubangun. Hilang sudah mimpi-mimpi yang mulai kubangun. Namun ternyata ada kalimat lembut kudengar.

“Panggil saja aku Iqbal,” Ya, namanya memang Iqbal.  Iqbal Nurrahman. Indah sekali nama itu.

“Tapi mengapa nama Habib yang sering tersebut?”

“Akupun tak tahu, yang jelas aku tidak suka dipanggil dengan sebutan Habib. Namaku sudah jelas, Iqbal Nurrahman.”

Fokus Dangkal Dari Lumut

Penasaranku masih tak terjawab. Kucoba bertanya dan menelusuri banyak hal tentang dirinya dengan sebutan Habib tersebut. Aku mendapatkan banyak penjelasan tentang makna Habib. Habib sebagai keturunan langsung dari Rasulullah. Mereka harus dimuliakan. Untuk Habib, aku sudah banyak mengerti namun tentang sikap Iqbal yang tak mau dipanggil Habib, itu yang belum kumengerti.

“Tak penting mengapa dengan sebutan itu!” tegas Habib.

“Baiklah. Aku tak akan mencari tahu tentang sebutan itu,” jawabku dengan salah tingkah.

Kembali aku dilingkupi rasa penasaran. Dengan detil kucari cara untuk mengetahui berbagai alasan tentang sebutan Habib yang ditolaknya. Hari-hariku berikutnya kucoba menabur asa di antara bunga-bunga dahlia. Bunga yang kutanam sebagai penyibuk waktuku. Ada dahlia merah, kuning, putih yang berselang seling menjadi pagar. Kupetik tiga warna bunga dahlia di jambangan. Membayang wajah Habib di setiap kelopaknya. Hari melambat menyambut pagi. Aku menanti hari yang tak tahu kapan tiba. Di kantin kampusku, kunikmati sepiring roti canai sambil mendengar perbincangan sekelompok para perempuan di meja seberang.

“Teman kita yang dipanggil Habib itu, benar-benar lelaki kharismatik.”

“Aku dengar banyak perempuan tergila-gila padanya.”

“Bahkan ada yang rela melalukan ritual untuk mendapatkan simpatinya.”

Perbincangan berikutnya semakin menarik. Apalagi tentang berbagai ritual yang terkesan tidak masuk akal. Bunga tujuh rupalah. Air tujuh sumurlah dan tujuh-tujuh yang lain. Geli mendengarnya. Tak terbayangkan kalau itu terjadi padaku. Kubayangkan mencari beragam rupa bunga. Mengucapkan salam dari rumah ke rumah. Permisi nak minta kembang di laman rumah. Akupun tak tahu nak jawab apa, kalau ditanya untuk apa kembang-kembang tuh? Apa harus kujawab jujur? Tak terbayangkan. Sudahlah biar waktu yang mendewasakan segala sikap.

Foto Makro Tanaman

“Gila! Kalau hal seperti itu yang harus aku lakukan,” gumamku sendiri.

Aku memilih melupakan sosok lelaki itu. Lelah. Kusibukkan merawat sepetak tanah kosong di halaman samping dengan bunga-bunga dahlia. Aneka warnanya adalah gambaran warna kehidupan. Sesekali aku mendengarkan perempuan-perempuan yang membincangkan tentang Habib.

“Kasihan Habib sekarang, sakit. Sakitnya seperti diguna-guna.”

“Sekarang opname di rumah sakit. Memorinya sebagian hilang. Tak kenal kita sebagai teman-temannya.”Kucoba menata hati dengan keadaan lelaki yang pernah kuidamkan.

“Aku harus berbuat sesuatu,” janjiku.

Kubawakan tiga tangkai bunga dahlia beserta jambangan kecil berisi air. Aku melangkah ke rumah sakit. Kulihat Habib terbaring memandang luar jendela. 

“Siapa kau?!” bentak Habib.

Aku hanya meletakkan bunga dahlia dan jambangannya dan pulang. Aku mencoba menerapkan salah satu ilmu terapi jiwa yang pernah kupelajari dalam bangku kuliah psikologiku. Berulang-ulang kuupayakan ke rumah sakit menggantikan tiga tangkai bunga dahlia. Aku yakin dengan yang kulakukan. Walaupun Habib lebih sering tidur kala kudatang, tapi aku yakin sedikit banyak tiga tangkai bunga akan terpandangnya. Upayaku disetujui orang tua Habib.

Bunga Gerbera Merah Muda

“Terima kasih Dik, sekarang Iqbal dah mau bicara. Iqbal selalu bertanya tentang bunga itu. Iqbal ingat sesuatu katanya. Ingat tentang Dahlia,” jelas ibu Iqbal yang telah beberapa kali mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan bunga dahlia yang sering kubawa.

Di halaman samping, bunga-bunga dahlia bergiliran tumbuh, mekar, dan mati. Kembali tumbuh dengan bahagia. Demikian pula hatiku. Ketika sesuatu yang kita harapkan telah kita lupakan, terkadang ia akan datang pada waktu dan tempat yang tidak kita sangka. Kala kembali kunikmati secangkir teh di kantin kampus. Kudengar suara yang menyebut namaku.

“Sudah lama tidak terlihat?”

“Habib?” Aku terkejut.

“Hemmm … dah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku Habib!”

Bambang Kariyawan Ys, Guru SMA Cendana Mandau. Penerima Anugerah Bahasa dan Sastra Tahun 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Riau. Buku cerpen tunggalnya yang terakhir “Lukah yang Tergantung di Dinding”.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan