Cerpen : Ketika Badai Tiba – Fakhrunnas MA Jabbar

Ketika Badai Tiba

“Aku hamil, Mama !”.

Pengakuan Upita itu hampir menghentikan helaan napasku. Sebagai mama, rasanya malapetaka tersebut telalu berat untuk dipikul sendiri. Di rumah kami, memang hanya ada aku, Upita dan Yogi. Nama terakhir ini adalah suamiku yang kedua. Sejak perceraianku dengan Hartono, papa Upita, jodoh telah mempertemukanku dangan Yogi, lelaki ganteng yang pandai menggoda perempuan.

Kutatap Upita, gadis manis yang kini memasuki usia 17-an tahun itu. Dia menangis tersedu. Aku terpaksa urung meluapkan kemarahan. Kucoba untuk menanyainya lemah-lembut agar dia tak begitu tertekan. Barangkali, Upita tidak bersalah. Bisa jadi, tumpuan kesalahan itu ditimpakan padaku. Sebab, selama ini aku terlalu sibuk dengan tugas-tugas mencari nafkah di sebuah diskotek. Kehadiran Yogi ditengah rumah tangga kami, kurasakan hanya sebagai sosok lelaki yang menghindarkanku dari sebutan janda kembang. Hidup menjanda dalam pertimbanganku- sewaktu hampir setahun perceraianku dengan Hartono- lebih menghantui dibanding menikah dengan lelaki pengangguran seperti Yogi. Oleh karenanya aku memilih Yogi untuk mengisi kekosongan hidupku.

Kudekati Upita yang sedang berdiri mematung dekat jendela ruang tengah. Kuelus rambutnya. Aku ingin menumbuhkan rasa simpatinya terhadapku. Sebab, sejak dulu sebenarnya Upita berontak padaku karena pekerjaanku sebagai wanita penghibur di diskotek itu.

“Cobalah berterus terang pada Mama. Siapa yang berbuat hal itu padamu?” aku bicara hati-hati sekali.

Upita menggeleng beberapa kali.

“Bila kamu tidak berterus terang, persoalannya kan semakin rumit. Bicaralah, Pit “, bujukku kembali.

Beberapa saat suasana hening. Seekor cecak berdecak. Begitu nyaring kedengarannya di saat malam berangkat makin jauh.

“Pit, katakan pada Mama, siapa lelakinya ?”. Aku terus mendesak Upita.

“Ma. . . Beri aku waktu untuk berpikir. Apakah aku harus berterus terang atau . . . .”. Suara Upita tergagap-gagap karena sedu-sedannya belum berhenti.

“Pit, mengapa kamu harus menyembunyikan identitas lelaki itu? Mama tidak akan marah, bila lelaki itu mau bertanggung jawab”.

“Tapi, Ma. Aku butuh waktu. Aku harus mempertimbangkannya agar tidak menimbulkan penyesalan.”

Aku benar-benar bingung untuk memahami kata-kata Upita. Aneh kedengarannya bila seorang gadis cantik seperti Upita masih ingin melindungi lelaki yang telah menodainya. Sunggung aneh.

Kucoba bersabar. Sehari…dua hari… hingga  hari yang ketiga, Upita mendatangiku di kamar. Wajahnya tetap saja keruh. Bedanya, kali ini tak ada sebutir airmata pun bertengger di pipinya yang ranum.

“Apa tanggapan Om Yogi atas kejadian ini ?”, tanya Upita. Kedengarannya janggal bila anakku masih memanggil ‘Om’ terhadap ayah tirinya. Ini semua kusadari. Sebab, sebelum menikah dengan Yogi, Upita sudah terbiasa memanggilnya begitu. Tampaknya, Yogi sendiri pun tak keberatan.

“Mama belum mengatakan apa-apa padanya. Mama berusaha untuk menyembunyikan dulu. Takut. . . Om Yogi kalap dan menghajar lelaki yang menghamilimu”.

“Kamu mau mengatakan yang sebenarnya pada Mama, kan ?”.

Wajah Upita terlihat gugup sekali. Aku tak mau memaksakan keinginanku. Kubiarkan Upita menghadapi persoalannya sendiri. Tentu kedewasaannya akan mengungkapkan segala sesuatu secara lebih jujur dan terbuka.

Sementara itu, aku terus menyidik diam-diam. Kepada teman-teman Upita, ku coba menanyakan siapa pacar yang paling dekat dengan dirinya. Sebab, selama ini, Upita tak pernah mengatakan bahwa dia sudah punya pacar. Meskipun, teman lelakinya bisa datang silih berganti ke rumah. Sekadar ngobrol dan minum teh. Berdasarkan informasi dari Ruli, teman akrab Upita sekelas di SMA dulu kudapat sebuah nama : Dion. Tampaknya, Dion inilah yang dianggap agak istimewa bagi Upita.

Atas bantuan Ruli pula, kudatangai lelaki yang bekerja sebagai salesman pada sebuah perusahaan dealer mobil. Dion tak begitu terperanjat ketika menerima kedatanganku bersama Ruli sore itu di kediamannya.

“Ada apa. Kok buru-buru datang ke mari, Ma ?”, sambut Dion ramah sekali.

“Ah, nggak cuma ada keperluan denganmu”.

“Soal Upita?”.

“Ya. . .ya.”.

Kulihat wajah Dion biasa-biasa saja. Tak sedikit pun terlihat ada persoalan di dalam pikirannya. Termasuk masalah Upita yang bagiku cukup berat ini. Jangan-jangan, bukan Dion yang melakukannya! pikirku.

“Kenapa Upita, Ma. Dia sakit? Atau, minggat dari rumah ?” desak Dion semakin memperlihatkan sikap ketidaktahuannya.

Aku merenung sejenak. Mempertimbangkan apakah kehamilan Upita perlu kusampaikan atau kupendam dulu menjelang ada kepastian lagi.

“Begini, Dion. Apa Upita pernah mengatakan padamu tentang dirinya?”  tanyaku pelan-pelan.

“Ah, nggak. Masalah apa kira-kira, Ma?” Wajah Dion semakin menunjukkan rasa ingin tahu.

“Dia. . . dia . . . hamil”.

“Hamil? Aaku memang sudah lama tak ketemu dia”.

“Dion jangan tersinggung ya? Mama hanya ingin mencari informasi”.

“Ah, biasa, Ma. Aku juga akan membantu Ma.”

Tampaknya sulit juga untuk menemukan lelaki yang paling pantas untuk dicurigai. Apalagi Ruli telah memberikan belasan nama lelaki yang pernah mencari Upita. Aku tak menyalahkan Upita karena justru akulah yang kurang mengawasinya. Aku tak punya cukup waktu untuk itu. Tugasku di diskotek kadang-kadang membuka peluang bagi Upita untuk berbuat nekad. Kadang kala muncul juga sedikit penyesalan dalam hatiku ketika melepaskan Hartono. Sebab, semuanya bermula dari kesalahanku. Aku terlalu Binal sebagai isteri. Sampai suatu ketika Hartono memergokiku bersama seorang lelaki di rumah kami. Lelaki itu Om Yogi.

Ku coba terus mendekati Upita agar dia mau berterus terang. Tapi, Upita selalu saja menangis bila kudesak agar berterus terang. Merasa tak mempu lagi aku menahan perasaan, lantas persoalan ini kuceritakan juga pada Yogi.

Yogi marah besar. Dia tetap menyalahkanku sebagai mama yang semestinya lebih memperhatikan anak gadis sendiri.

“Kamu memang tak layak menjadi seorang mama bagi anak gadis sendiri. Kamu terlalu acuh, sibuk dengan urusan sendiri dan. . .”.   kata-kata Yogi sangat memedihkan perasaanku. Namun, di balik kata-kata itu justru aku menemukan sebuah keterus-terangan bahwa dirinya tidak terlibat di dalam kasus kehamilan Upita. Pertengkaran memang semakin sering terjadi bila persoalan Upita kami perbincangkan. Satu hal, Yogi selalu memperlihatkan tanggung jawabnya sebagai papa tiri yang memberi perlindungan terhadap anak  gadis.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Ini artinya, usia kandungan Upita semakin bertambah. Dua bulan sudah. Untung para tetangga belum begitu mengetahui aib yang sedang bertahta di rumah kami. Sementara Yogi semakin tak perduli dengan persoalan Upita.

Suatu sore, Dion datang menjumpaiku. Anak muda itu bertanya banyak sekali tentang Upita. Ini semakin melenyapkan kecurigaanku padanya. Apalagi Upita juga tak pernah mengarahkam pembicaraannya pada Dion. Selain Dion sendiri masih banyak nama-nama lain yang patut dicurigai. Mulai dari Leo, Alvin, Akim atau Tio sampai Kasman.

“Apakah Mama tak mencoba menyidik Om Yogi?”, tiba-tiba ucapan Dion mengagetkanku. Suatu hal yang tak pernah kuibayangkan sebelumnya.

“Om Yogi?”, sambutku terkejut sekali.

“Auk tak  menuduh. Tapi sebaiknya perlu juga bersikap hati-hati. Menurut pikiranku, Om Yogi tak lebih dari papa tiri saja. Tak ada hubungan darah. Sementara Upita seorang gadis cantik yang mempesona,” ujar Dion.

Masih banyak cerita Dion yang lain. Tapi aku tak bbegitu menyimaknya lagi. Pikiranku tertuju pada Om Yogi, ya, suamiku sendiri. Kenapa tidak mungkin terjadi?

Sulit sekali kulupakan kata-kata Dion. Hari-hari berikutnya kucoba untuk memperhatikan tingkah laku Yogi. Mana tahu ada yang mencurigakan. Tapi dasar lelaki yang pintar membawa diri. Sikapnya biasa-biasa saja. Sulit bagiku untuk membuktikan kata-kata Dion.

Sepulang dari bepergian, di rumah ku dapatkan suasana sepi sekali. Kupanggil Upita beberapa kali. Tapi gadis itu tak menyahut juga. Ku periksa seluruh kamar. Juga tak ada. Sewaktu aku menuju kamar mandi, kudengar suara erangan kesakitan. Cepat kudobrak pintu kamar mandi. Masya Allah, kujumpai Upita sedang terkapar. Darah berlumur di bagian bawah tubuhnya. Tampaknya dia baru saja berbuat nekad. Dia berusaha menggugurkan kandungannya. Tapi, kondisi Upita sudah sekarat. Dia tak sadarkan diri.

Kupanggil taksi lewat telpon. Kuurus sendiri semua persoalan Upita agar para tetangga tak mengetahui aib keluarga kami. Di rumah sakit, Upita diinfus karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Menurut dokter  yang merawatnya, Upita berada dalam kondisi tubuh yang lemah sekali. Perlu penanganan hati-hati dan pengawasan ketat. Dalam hati, aku hanya berdoa.

Sudah tiga hari Upita terbaring sendiri di rumah sakit itu. Aku berusaha menunggui sebisaku. Kalau tidak aku, biasanya Dion masih dapat kuharapkan untuk gantian menjaga Upita.

Saat aku dan Upita saja di kamar putih, tiba-tiba Upita membukakan matanya. Suaranya begitu pelan bagai bisikan yang sayup terdengar.

“Mama nggak usah sibuk kian kemari mencari lelaki yang menanam benih diriku. Ini perbuatan Om Yogi”, ucapan Upita terbata-bata. Aku menatap sekeliling bagakan sedang berada di tengah pusaran badai yang dahsyat. Ya, kini badai itu telah tiba. Aku terhuyung-huyung kemudian terjatuh. Upita menjerit. Tapi, kemudian aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

Hanya saja ketika aku sadar, aku sudah berada di sebuah kamar putih. Kupastikan saja, di rumah sakit yang sama dengan tempat perawatan Upita. Kutatap Yogi yang datang membezukku. Begitu pula Dion yang setia pada Upita selama anakku dirawat.

“Bagaimana perkembangan Upita ?”, tanyaku pada Yogi.

Yogi tertunduk.

“Dia sudah pergi . . . dokter tak bisa lagi menyelamatkannya”, jelas Yogi. Sungguh, aku tak kuasa lagi menatapnya lama-lama. Sementara airmataku bergulir deras. Terasa badai ini akan terus mengguncangku. Badai ini akan terus memburuku. Tapi, aku tak kuasa lari dari badai raksasa ini. Aku terperangkap di tengah-tengah badai yang kuciptakan sendiri.

“Selamat jalan, Pit, anakku”, bisiku perlahan, setelah itu akupun menutup mata.

Pekanbaru, 9197

Biodata : Fakhrunnas MA Jabbar
SPN. Ir Fakhrunnas MA Jabbar. M.I.Kom lahir 18 Januari 1959. Menulis pada lebih seratus media sejak tahun 1975 sampai dengan sekarang berupa cerita anak, esai, kritik, cerpen dan puisi. Buku-buku yang sudah terbit sebanyak 15 buah : 4 Kumpulan puisi tunggal ( Airmata Barjanji, 2005 dan Tanah Airku Melayu, 2007. Airmata Musim Gugur, 2016 dan Airmata Batu, 2017) 4 Kumpulan Cerpen (Jazirah Layeela, 2004 Sebatang Ceri di Serambi, 2006 dan Ongkak, 2010) Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian, 2017, 3 Biografi (zaini kunin, Sebutir Mutiara dari Lubuk Bendahara, 1993 dan Soeman Hs, Bukan Pencuri Anak Perawan, 1998 dan RZ, Apa Adanya bersama Yusril Ardanis, 2010) serta 5 buku cerita Anak, Menghadiri iven sastra di 15 negara antara lain : Korsel, Perancis, Belanda, Swiss, Azerbaijan, negara-negara Asia, dan sering memenangkan lomba sayembara karya sastra.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan