Cerpen : Lukisan Angsa – Fakhrunnas MA Jabbar

Lukisan Angsa

RUANG temaram. Suara bisu. Awan  mengibas rinai. Sepasang angsa bergumul di permukaan danau. Saling mendekapkan paruh. Saling menggosokan bulu yang mengkilap keputihan. Saling birahi dan memungut remah kasih.  Embun merah jambu berlompatan dari helai-helai pelangi. Pergumulan itu menumpahkan riak kecil-kecil bagai alunan simfoni Mozart.

Angin mengalir sayu.

Begitulah lukisan angsa di ruang tamu itu terdedah sepanjang waktu. Lukisan itu tiba-tiba bergerak-gerak. Hidup. Bagaikan sebuah layar perak yang mempertemukan banyak peran. Ya, mungkin semirip Tonil atau Bangsawan Melayu  yang dulu banyak dimainkan di pulau-pulau kecil sepanjang pesisir Selat Melaka.

Ia menatap lukisan itu hingga berjam-jam bila bersendirian di situ. Tapi, malam   ini, ia memang tak  sedang sendiri. Ia berbaring menelungkup. Jemarinya yang lembut menyibakkan rambut lelaki yang terlentang dengan mata terpejam. Mesra nian pemandang itu sejak beberapa hari lalu. Ia sedang menghitung helai-helai uban lelaki yang tiba-tiba datang dari masa silamnya.

“Biarkan sajalah uban-uban itu bertumbuh,” ucap lelaki itu agak serak.

“Ah tidak. Aku ingin usiamu tetap begini. Makanya kusembunyikan uban-uban ini..” sahut si perempuan yang terpaut usianya lima tahun lebih muda.

“Uban  adalah pertanda kearifan..”

“Bukan hanya itu. Juga kematangan”

“Biarkan rambutku memutih bagai salju di puncak-puncak abadi…”

“Tak akan kubiarkan. Kuakan  terus mencabutinya.”

“Ah, kerja sia-sia..”

“Demi kau, aku ingin mengempang gerak bendul  waktu yang melaju meninggalkan kita.”

“Untuk apa?” tiba-tiba lelaki itu terduduk. Menatap si perempuan penuh takjub.

“Aku ingin selalu abadi bersamamu,” sahut si perempuan dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.

“Apa mungkin?”

“Tak ada yang mustahil. Aku merasa telah kehilangan sepenggal masa silam kita. Dan kini aku tak ingin melepas remah-remah  masa depan yang melesat cepat.”

“Sudahlah…tidurlah sekarang. Hari sudah larut.”

“Tak apa. Aku sudah sholat Isya. Bila tetap terjaga nanti, aku juga ingin mendirikan malam tahajjud-ku.”

Lelaki itu pun  diam.

“Tidurlah kau lebih dulu. Aku ingin berjaga saja. Aku tak ingin masih ada uban baru yang tumbuh malam ini,” bisik perempuan itu.

Perempuan itu masih  duduk berselunjur kaki di sisi lelaki yang kini kembali terbaring.  Ia masih menahan kantuknya.  Ia melihat kelopak mata lelaki itu kadangkala bergerak-gerak pelan. Memang lelaki itu sedang berupaya  memejamkan mata. Tapi tak bisa. Bayangan perempuan itu kian menari-nari di pelupuk matanya. Si perempuan  masih membolak-balik helai-helai rambut si lelaki.

Malam pun mengubur lelap keduanya.

***

Ia membaca surat merah jambu itu di bawah johar di depan rumahnya. Surat itu diterimanya dari seseorang yang jatuh hati padanya di usia masih dini. Lelaki, si pengirim surat itu mengaku, ia menjadi tumpuan cinta pertamanya di usia belia. Semestinya tak ada yang berkesan luar biasa ketika seorang anak SMA melabuhkan cintanya pada gadis kecil yang duduk di bangku SMP. Sebuah peristiwa alamiah. Naluriah belaka.

Ia nyaris tak hirau dengan kata-kata manis di surat itu. Sebab, ia memang belum punya perhatian apa-apa pada lawan jenis meskipun banyak anak-anak belia mengungkapkan isi hatinya. Ia bersikap selambe.

Ia tak peduli pada puisi atau syair atau pula pantun yang sudah jadi permainan anak-anak belia di tanah Melayu itu. Padahal ia terlahir sebagai anak dara Melayu yang sehari-hari dihembus angin sakal Selat Melaka yang  sekali-sekala tiba-tiba berubah jadi garang di musim utara. Terasa ada darah laut mengalir lamat-lamat di nadinya. Boleh jadi, denyut laut itulah yang membuat dirinya terbiasa tegar. Tak mudah percaya pada siapa pun. Tak mudah membalas cinta siapa pun yang datang walau memelas. Walau menghamba sekalipun.

perahu kecil ini ingin berlabuh

membuang sauh di dermagamu

ulurkan  temali kuingin merapat kini

tambat aku di  hati beningmu

Puisi kecil yang menjadi bagian penting surat  cinta lelaki itu tak sedikit pun membuat hatinya bergetar. Andai huruf-hurufnya berantakan, sudah lama kertas surat itu diremuk-remuknya. Tapi tidak. Ia masih menyimpannya dalam jangka waktu yang tak pasti. Bukan karena mempertimbangkan ketulusan cinta si lelaki. Semata, ia mencoba menghargai sebuah luahan perasaan yang ditulis dengan kata-kata bersayap.

“Aku memahami seluruh perasaanmu. Tapi aku tak bisa menjawab. Usiaku masih terlalu belia…” hanya itulah kalimat pendek yang ditulisnya membalas surat merah jambu itu. Maknanya bagi si lelaki, dermaga yang dituju memang belum saatnya menerima tambatan perahu yang dinakhodainya. Si lelaki harus membuang kembali sauhnya jauh-jauh di kedalaman  lautan. Terombang-ambing dalam ketidak pastian hingga ada pelabuhan lain yang siap disinggahi.

Perjalanan waktu yang tak terkendali memisahkan si lelaki dan si perempuan molek berkulit putih ranum itu hampir seperempat abad. Sangat lama. Ia tak mungkin berkabar pada lelaki itu karena tak ada yang patut ia kenang. Saat ia tumbuh jadi dara jelita yang lincah dan bekerja sebagai pramugari di maskapai penerbangan, itulah saatnya ia mengepak bebas. Ia menembus awan di balahan kota-kota dunia. Ia menyebut terkesan pada Paris, Tokyo atau Seoul  sembari menambah jam terbang, namun tanah leluhurnya di pantai Selat Melaka tak luput dari bayangannya. Ia mengingat jelas bagaimana kisah Sir Joon dan Si Nona yang memadu kasih dalam roman Mencari Pencuri Anak Perawan yang ditulis pujangga besar Soeman Hs, yang punya hubungan pertemanan dengan neneknya. Sayang, ia tak pernah  memadu kasih dengan siapa pun di kampung halamannya dulu. Ia punya perhitungan pasti. Tak ingin terjerembab ke dalam liang nestapa yang digali sendiri sebagaimana dilakukan  anak dara seusianya dulu.

Penerbangan melintasi gumpalan-gumpalan awan mancanegara memang telah mempertemukannya dengan banyak lelaki yang tiba-tiba merasa jatuh hati. Tak terkecuali para pilot yang gagah dengan tubuh tegap.            Tapi, ia tak mudah jatuh cinta. Ia merasa tegar bersultan di mata, beraja di hati. Tetap pada suara hati sendiri. Ia teguh pada pendirian. Ia jadi sangat hati-hati menerima lambaian kasih setiap lelaki. Ia percaya Allah memilihkan jodoh yang tepat bagi dirinya. Boleh jadi, si lelaki masa lalu yang kini hilang tak berbekas setelah dilecut halimun waktu.

***

“Aku sekarang sendiri lagi,” ucap perempuan itu sayup. Ia telah kehilangan suami yang amat disayanginya  sepuluh tahun silam. Sudah lama. Ia hidup bersama sepasang anaknya di bawah usia sepuluh tahun. Ia tegar menjalani hidup di pengasingan batinnya. Berada jauh dari sanak-keluarga. Sengaja ia lakukan itu semua agar pendirian hatinya selalu terpelihara. Tak ada intervensi dari siapa pun. Hanya saja, ia merasa perlu dekat dengan makam suaminya. Setidak-tidaknya bagi sepasang anaknya yang masih kecil. Meski ia tahu pasti bahwa lamat-lamat bisa saja orang melupakannya ketika ada sesuatu yang lebih menghunjamkan kenangan.

“Aku betah di sini bersama anak-anak. Pulang ke kampung halaman membuat kenangan-kenangan lama mengapung kembali. Aku telah menguburnya sejak lama. Tak ada yang patut dikenang. Sebab,  tak semua peristiwa mesti menjadi jalinan sejarah. Ada yang perlu cepat-cepat dibuang,” ucapnya amat bijak dan kaya makna.

“Termasuk surat merah jambu yang pernah kukirim dulu?” desak lelaki itu sambil menatapnya dalam-dalam.

Ia terdiam. Tertunduk lama. Parasnya bersemu merah. Pikirannya menerawang memasuki setiap labyrin kenangan yang telah tertinggal jauh di masa lalu. Terlalu banyak lorong yang harus dimasuki kembali hingga mendengarkan  dentang kenangan itu.

“Untuk apa dentang kenangan itu diperdengarkan lagi? Kamu sudah jadi orang asing bagi diriku. Orang yang tak patut didekati karena sudah punya tambatan hati lain  seperti diriku sebelum  sepuluh tahun lalu…” kata-kata perempuan berhidung mancung dengan tatapan bola mata yang teduh itu mengalir bagai Sungai Bantan kecoklatan di kampung halamannya.

“Kamu makin bijak saja. Tak seperti kuduga semasa belia dulu. Kamu amat pendiam dan berkata tanpa irama.”

“Perjalanan hidup yang  membuatku begini. Aku selalu mengutip kata bijak dari jalanan yang kulalui. Aku tak ingin jadi keledai yang terantuk di batu yang sama berulang-ulang seperti sering dinasihatkan almarhum ayah.  Tidak akan! Almarhum ayah mengajari kami, kakak-beradik dulu, menangislah tanpa deraian airmata. Itu lebih baik untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Kesedihan bukan untuk dipersembahkan pada banyak orang.”

“Aku memahami duka-citamu..”

“Buat apa? Kamu bukan siapa-siapa bagiku. Kamu milik orang lain yang sah…”

Ia tiba-tiba menatap tajam lelaki yang berada dekat dengan dirinya. . Napasnya turun naik. Tapi bolamatanya yang bening tiba-tiba berubah jadi keruh. Ketegaran sikapnya ternyata tak mampu membendung deraian airmatanya.

“Sudah lama aku tidak menangis..” ucapnya terbata-bata dengan kepala tertunduk.

Lelaki itu berusaha merangkulnya sambil mengusap pipinya.  Perempuan itu menolak dengan lembut.

“Jangan  digali lagi telaga duka di hatiku. Aku tak ingin terhempas di bencah kecewa yang tak bertepi.”

Lelaki itu terdiam. Mematung. Kenapa selalu ada permulaan bila sesuatu tak hendak diakhiri? bisik lelaki itu membatin. Ya, lelaki itu bukan hendak menyesali pertemuan dengan perempuan masa silamnya. Andaikan tak ada pesta pernikahan teman semasa sekolah mereka dulu di kampung halaman yang sama-sama  ditinggalkan dalam jangka waktu lama. Andaikan tak ada kerabat-kerabat lain yang menggali terus terowongan kenangan yang mendedahkan romantisme sejarah yang indah untuk dikenang. Andaikan tak ada lagi kerinduan yang telah tercecer jauh di selokan-selokan masa lalu.

Tapi segalanya terjadi kini. Pertemuan  yang padamulanya terasa hampa tiba-tiba memintal kenangan menjadi sesuatu yang bermakna. Pita kosong yang tak lagi merekam penggal perjalanan hidup di antara keduanya tiba-tiba menyemburkan lahar kata-kata yang tak terkendali. Kenapa masih ada irama suara batin yang diam-diam mengalun di dalam pita kosong itu? Kenapa masih ada rekaman suara rindu atau apa pun namanya.

“Tak ada yang perlu disesali…” ucap lelaki itu larut dalam keharuan bersama si perempuan.

Ia tiba-tiba merebah diri di pundak lelaki itu.

Lukisan angsa di ruang itu benar-benar berdenyar. Bergerak-gerak. Sepasang angsa berbulu putih yang terus diguyuri embun merah jambu. Gemercik air danau yang bening melentik-lentik bagai larut dalam irama simfoni. Mungkin Beethoven atau Chopin. Atau pula suara  biola yang menyayat-nyayat mengalirkan lagu Lancang Kuning atau Bunga Seroja yang sudah lama tak terdengar saat berada jauh di perantauan.

Ia tenggelam dalam bayangan yang terpantul dari lukisan angsa itu. Lukisan sepasang angsa yang bergerak bagaikan sebuah layar kaca  yang penuh adegan. Ia juga heran kenapa sebuah lukisan yang mati tiba-tiba  bisa jadi hidup. Tapi, memang sejak dulu, ia memiliki ketajaman six sense (indera keenam). Membaca yang tersirat dan meraba yang tak berwujud. Ketajaman indera keenam itu pula yang tiba-tiba mengubah pendiriannya. Ia mulai berpaling. Mulai mempertimbangkan  kehadiran lelaki masa lalunya itu.

“Mengapa lukisan angsa itu kautatap lama?” tanya si lelaki pelan.

“Sepasang angsa yang bahagia. Saling bergumul dan mengadu paruh. Menggosok-gosokkan bulu yang berkilauan. Mereka saling kejar hingga melukiskan riak di permukaan danau itu…”

Lelaki itu terheran-heran. Sebab setiap matanya tertumpu pada lukisan itu, tak ada ritma gerak yang berhasil ditangkapnya. Lukisan  itu tak lebih dari pajangan yang meramu banyak warna. Di tengah-tengahnya ada sepasang angsa yang memadu kasih.

“Kuingin kita seperti sepasang angsa itu…” ucap perempuan itu antara sadar dan tiada.

“Tapi..tak mungkin!” lanjutnya tanpa aba-aba.

Sekelabat, ia menyaksikan di lukisan yang sama, angsa betina melepas telur-telurnya yang terdampar di atas dedaunan mengapung di permukaan danau itu. Seketika juga, telur-telur itu menetas dan memunculkan anak-anak angsa yang lincah berkeliaran. Dua ekor angsa yang molek itu tiba-tiba menjadi pusat konfigurasi puluhan anak angsa berwarna keputihan. Sementara embun merah jambu tak henti terjun dari helai-helai pelangi.

“Oh..indahnya..!” bisik perempuan itu.

Lelaki itu begitu terperanjat ketika menyaksikan bola mata si perempuan bergerak-gerak mengikuti perpindahan obyek pada lukisan yang tersangkut di dinding ruangan itu. Seketika lelaki itu membuang pandang ke lukisan, ia hanya menemukan lukisan sepasang angsa yang diam.

***

“Aku hanya mengharap ketulusan dan kejujuranmu..!” bisik perempuan itu. Senyumnya merekah. Parasnya masih menyisakan kemolekan masa lalu. Bolamatanya yang bening tetap saja mempesona lelaki yang beradu pandang dengannya.

“Tak selamanya cinta harus memiliki. Tapi cinta juga bukan sebuah persinggahan. Harus ada kepastian,” lanjut perempuan itu.

Si lelaki masih diam seribu bahasa. Rasa gugup saat berhadapan dengan perempuan itu memang sulit ditaklukkannya. Padahal, ia sudah mempersiapkan diri ketika pertemuan itu dirancang lama. Ia sudah lama hidup bersendirian setelah kematian istrinya sepuluh  tahun lalu. Dua  orang putrinya  sudah dewasa. Putri sulungnya sudah menikah dan sedang hamil anak pertama. Putri bungsunya sedang berada jauh di Amerika menyelesaikan studi bidang adminitrasi bisnis.

“Aku tak ingin hidup menyendiri di usia tua. Tapi, aku juga tak ingin melukai perasaan almarhumah istriku. Aku berjanji, tak akan menikah lagi kecuali dengan perempuan pilihan anak-anakku,” ucapnya berhati-hati sekali.

Perempuan itu menghampirinya.

“Aku juga amat mencintai almarhum suamiku. Tapi, kehidupannya sudah berlalu. Tak perlu diratapi terlalu lama. Masa depan hanya ada di tanganku, bukan sesiapa.”

“Aku tahu. Sayang dulu aku tak pernah bercerita tentang kamu. Bahwa aku punya seorang perempuan masa lalu yang sulit kulupa. Sementara, perempuan calon pengganti istriku tak kunjung wujud juga. Kedua anakku bagai alpa memikirkan betapa aku butuh seorang pendamping yang dapat memahami keberadaanku.”

“Terus, mau kita jadikan apa hubungan ini?” sentak perempuan itu membuat si lelaki kian gugup.

“Aku tak ingin kehilangan kamu…!” ucapnya lirih setengah berbisik.

“Terus…?”

“Ya, saatnya aku harus  berterus terang pada kedua putriku. Sudah terlalu lama aku bersabar. Menunggu sesuatu yang tak pasti…!”

“Tapi kenapa tidak sejak dulu kamu lakukan itu?”

“Aku tak percaya bila kamu masih menyisakan remah cintamu untukku. Dan, kenapa kita harus bertemu setelah cukup lama hidup bersendirian..”

“Jangan pernah sesali. Ini sudah takdir kita..”

“Aku suka kearifanmu. Kata-katamu selalu memberi makna mengisi kekosongan jiwaku.”

“Ah, kamu terlalu memuji..”

Sepasang anak manusia itu berangkulan bagaikan sepasang angsa putih yang terpampang di lukisan itu. Embun merah jambu jatuh berhamburan di ruang itu. Angin diam. Cahaya lampu merona. ****(: t.a)

Pekanbaru, Agustus 2007.

Catatan:

. Tonil dan Bangsawan Melayu = sejenis teater tradisoonal Melayu

. Tahajjud = sholat tengah malam untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan