


Kemboja Merah di Pekarangan
AKU tak begitu ingat lagi, sudah berapa tahun usia pohon kemboja merah di pekarangan itu. Soalnya, aku tak berbakat menghapal-hapal sesuatu yang lewat dalam alur waktu. Sewaktu SMP dulu, nilai pelajaran sejarahku selalu merah. Rasanya aku lebih senang Aljabar dan Ilmu ukur. Ini kurasakan sejalan dengan pikiranku sendiri. Aku lebih senang berbicara soal kepastian dan kejelasan. Itu pula sebabnya, ketika aku dicela oleh adik-adikku menanam pohon keamboja merah itu dengan dalih yang beragam, aku tak pernah mempercayainya. Buktinya, pohon berbunga molek itu tetap saja mekar dan rindang.
“Tak usahlah Kak Mai tanam kamboja merah itu. Nanti lambat dapat jodoh”, begitu dalih Tia, adikku yang bungsu, sekitar 20 tahun lampau. Waktu itu aku selaku anak sulung sudah memasuki usia 17 tahun. Sedangkan Mutia, si bungsu itu, baru 13 tahun. Di antara kami memang masih ada Martuti dan Srirama yang berselang usia setahun-dua.
“Ah, itu hanya penyedap cerita orang-orang tua saja. Apalah hubungan bunga kemboja merah dengan jodoh segala macam. Pokoknya, aku tak percaya”, bantahku dengan penuh keyakinan.
“Kualat nanti Kak Mai. Kata nenek dulu, orang yang bertanam kemboja merah di pekarangan, jodohnya di suruk hantu jembalang”, sela Martuti. Kami semua tertawa mendengarkan cerita Martuti.
“Ah,terserah kalianlah. Jodoh itu di tangan Tuhan. Kalian ini macam orang tak beragama saja”, bela ku habis-habisan.
Sungguh, dalam usiaku menjelang 37 tahun kini, aku tak pernah mempercayai segala takhyul yang berkaitan dengan kamboja merah itu. Meski, di antara empat beradik-kakak, memang hanya akulah satu-satunya yang belum berkeluarga. Martuti yang paling bijak di antara kami berempat menikah dengan seorang pengusaha kayu. Dia sudah kaya raya. Srirama, adiknya, berada jauh di Kalimantan ikut suaminya yang bekerja di kilang minyak. Sedangkan si bungsu Mutia tampaknya lebih beruntung. Dia berada di Malaysia karena suaminya memang orang sana. Bahkan sang suami bekerja di Kementerian Luar Bandar (baca : Departemen Luar Negeri).
Meski sudah saling berjauhan –kecuali Martuti yang masih satu kota- kami terus saling berkirim kabar. Memang Martutilah yang selang seminggu pasti mengunjungiku di rumah tua peninggalan ayah dan emak. Selaku anak tua, tampaknya aku diberi keleluasaan untuk memelihara harta warisan mulai dari tanah kebun, sampai rumah tapak delapan yang kudiami bersama seorang anak asuh yang kini sudah di bangku SMA pula.
Dalam surat-surat yang selalu kuterima dari Mutia dan Srirama, selalu saja soal kemboja merah itu mereka sesali. Menurut mereka berdua, pohon sial itulah yang mendatangkan bala atas perjodohanku. Bagiku bukan cerita soal kemboja merah itu yang menarik melainkan betapa besarnya perhatian mereka padaku. Sampai-sampai Mutia menulis dalam suratnya begini :
“Kak Mai, rasanya kakak belum terlambat kalau mau bersiap menerima saran Tia. Bila kakak merasa belas untuk menebang pohon itu, mungkin kakak bisa menyewa rumah lain. Tia akan bantu uang sewa”.
Aku terharu sekali membaca surat Mutia itu. Tapi, aku tak bisa menerima sarannya. Bagiku, pohon tetaplah pohon juga. Dan jodoh adalah sesuatu yang gaib sekali. Sudah sejak dulu, kaum perempuan berada dalam segala penantian yang tak pasti. Kadangkala nasib perempuan itu tak ubahnya sebuah pelabuhan yang sewaktu-waktu bisa disinggahi kapal-kapal dari negeri jauh. Tapi, begitu sukatan waktu telah habis, kapal itu pun berlayar kembali.
Seperti aku, bukannya tidak ada lelaki yang pernah berlabuh di batinku. Bahkan, dua tahun lalu saat usiaku terasa semakin rawan, ada Katab, temanku sekelas waktu SMA dulu dalam usia yang terpaut beberapa bulan denganku dia sudah menyatakan keinginannya untuk mempersuntingku. Tiba-tiba dia membatalkan niatnya karena kantornya memberi peluang padanya untuk bersekolah di luar negeri. Katab memang tak pernah janji apa-apa. Karenanya, aku tak merasa kecewa begitu dia pulang beberapa bulan lalu, aku mendengar kabar tentang perkawinannya dengan perempuan lain. Sungguh, aku tak kecewa. Sebelum Katab sudah ada pula Tibrani, Maskur dan Ujang Belek. Kesemua lelaki itu sirna tanpa bekas yang berarti. Anehnya, persoalan mendasar yang memutuskan hubungan kami selalu bermula yang tak penting.
Sekali lagi, aku tak pernah merasa diperdaya oleh pohon kemboja merah itu. Aku masih ingat ketika pertama kali pohon itu kutanami, persis setelah setahun ayah meninggal. Bahkan ruas kamboja merah itu kuambil dari tanah perkuburan di mana ayah dikebumikan. Kata Wak Munir, penjaga tanah kuburan. Justru yang selalu dijadikan tanda kuburan adalah kemboja putih. Entah apa sebabnya memang banyak sekali kulihat pohon kemboja merah di pagar perkuburan itu.

Begitu pula ketika kemboja merah itu kutanam di pekarangan, emak hanya tersenyum simpul mendengar perdebatan kami adik-beradik. Hanya nenek waktu itu yang menentang habis-habisan.
“Tak baik anak gadis menanam pohon kemboja merah di pekarangan. Bisa lambat dapat jodoh”, kata nenek. Memang ucapan nenek itulah yang selalu dipergunakan Mutia, Martuti dan Srirama untuk mematahkan semangatku bertanam pohon itu.
Hari-hariku di rumah tua itu memang terasa lambat berlalu. Sejak pagi hingga petang ku habiskan duduk di belakang mesin jahit. Kesibukan menerima upah jahitan itulah yang mampu menenggelamkan lamunanku tentang jodoh, calon suami dan masa depan. Tapi kadangkala di saat jahitan tidak begitu banyak, aku sempat pula termangu di jendela. Mataku merunduk ke pohon kemboja merah itu. Bayanganku bermunculan tentang perdebatan tentang penanaman pohon itu. Anehnya, sampai pada kesimpulan akhir, aku tak pernah merasa dihukum oleh sang pohon.
Dalam lamunan yang masih kuperankan tiba-tiba Iyah, anak asuh yang kuangkat sejak usia 5 tahun itu mendekatiku.
“Tajam benar pandangan Cik Mai pada kemboja merah itu. Ada simpanan kenangan rupanya di sana?”. Suara Iyah begitu lembut. Memang dia selalu mengajakku bercanda saat kesepian melanda.
“Ah, ndak juga. Cik teringat adik-adik yang jauh”, kataku sekenanya.
“Oh ya, Cik. Mengapa Cik tak berkawin? Usia Cik sudah mendekat 40 tahun pula?”, pertanyaan itu terasa bagai badai terdampar di telingaku. Wajahku berubah. Hanya sebentar. Kemudian kukuatkan semangatku untuk menjelaskan segala sesuatunya menurut pemikiranku sendiri.
“Cik bukannya tak mau kawin. Tapi, kalau Cik kawin siapa pula yang membela Iyah? Coba kalau sejak dulu Cik kawin, pastilah perhatian dan kasih sayang buat Iyah tak sepenuh sekarang”.
Iyah terperanjat mendengar kata-kataku.
“Kalau begitu, Iyahlah menjadi penyebab kenapa Cik Mai tak kawin-kawin juga. Cik terlalu memberikan perhatian lebih pada Iyah. Sampai-sampai tak sempat lagi mengurus diri sendiri”.
“Tidak. . . tidak begitu, Iyah. Semuanya ini memang sudah kehendak Tuhan. Tak ada sesiapa yang bersalah dalam persoalan ini. Tidak Cik sendiri. Tidak pula, Iyah”. Aku berusaha menghibur Iyah yang terbiasa manja bersamaku.
Mata Iyah tiba-tiba menerawang pula ke pohon kemboja merah itu. Di ujung bunganya yang bermekaran ada sekumpulan kumbang menghisap madunya. Di dahannya yang kian membesar, beberapa burung pipit berhinggapan. Saat angin menyeruak, berterbanglah burung-burung itu.
“Apa pendapat Iyah tentang kemboja merah itu?”, tanyaku menyidik perasaan Iyah.
“Ah, molek sekali. Tampaknya pohon kemboja itu sudah tua sekali. Kalau ada masa luang, bolehlah Iyah menyemai benih baru, Cik ?”. Aku terdiam mendengarkan niat Iyah. Diantara keraguan tak secepatnya kuiyakan keinginan gadis manis itu.
“Cik Mai agak keberatan tampaknya ?”, desak Iyah membuatku agak gugup.
Perasaanku mulai berbagi. Tanda tanya besar melingkar beriringan dengan keinginan Iyah menyemai ruas-ruas kemboja merah itu.
“Betul, Cik Mai. Aku akan tanam di sekeliling pekarangan ini pohon kemboja merah itu. Pohonnya kan mudah tumbuh, ya Cik ?”.
Aku tertunduk saja.
“Begini Iyah. Cik tak keberatan dengan niatmu bertanam kemboja itu. Tapi, kata orang-orang tua, kalau anak gadis menanam pohon itu nanti bisa lambat dapat jodoh. Kau tak takut bila tak dapat jodoh?”. Hati-hati sekali aku berbicara pada Iyah. Tapi lebih baik aku mengungkapkan segalanya. Terserahlah pada Iyah sendiri.
“Itukan takhyul, Cik. Iyah tak percaya. Pokoknya, Cik lihat sendiri. Setelah setahun-dua, pekarangan kita ini akan dipenuhi bunga-bunga kemboja merah yang bermekaran”.
Aku tersenyum bangga. Ternyata aku tak sendiri.
“Betul, kau tak takut, Iyah?”, selidikiku sekali lagi atas sikap Iyah.

“Nasib manusia tak ubahnya sebagai pohon, Cik. Dia tumbuh, bertunas, berdahan, berkuntum dan berbunga. Adakalanya orang hanya sampai setakat tumbuh tapi tak pernah berbunga. Adakalanya orang mengalami semua”. Kata-kata Iyah benar-benar menggetarkan batinku. Kata-katanya bersayap.
“Hebat betul kau bermadah, Iyah ?”, tanggapku.
“Ah, Cik ini. Iyah memang pernah membaca buku tentang renungan hidup. Betul Cik. Adakalanya pohon sudah pun berbunga, tak pernah disentuh kumbang. Tapi ada pula pohon yang tak berbunga pun habis dijilati kumbang”, lanjut Iyah berfalsafah sendiri.
“Menurutmu, dimana letak daya tarik pohon pada kumbang itu ?”. Aku ingin menjenguk perasaan Iyah yang sebenarnya.
“Tak tahulah, Cik”, jawab Iyah polos.
Apa yang diucapkan Iyah benar-benar dilakukannya. Di hari ahad, saat sekolah libur, Iyah menutuh sebagian cabang kemboja merah itu. Kemudian selang dua meter, dia tanam di sepanjang pagar depan dan samping. Aku tak begitu menghitung berapa bakal pohon yang sudah ditanaminya. Tapi, kedatangan Martuti, adikku, beberapa hari kemudian benar-benar melabrak perasaan Iyah.
“Iyah, kaupun mau pula berbuat seperti Cik Mai. Kau tak dapat jodoh nanti, baru tahu! Cik Mai hanya menanam sebatang pohon saja sudah susah dapat jodoh. Kalau kau, belasan pohon. Sampai kiamat pun bisa-bisa tak ada lelaki mau denganmu”, tutur Martuti macam peluru yang dilepaskan dari moncong meriam.
Iyah terdiam tersudut. Tapi, hatinya bukannya tak menerima deraan yang begitu dasyat. Tampaknya, dia beruasaha memilih tenang.
“Besok, kau cabut semua pohon kemboja yang kau tanam itu”, perintah Martuti.
“Ah, biarlah sesuka hatinya, Mar. Manalah ada hubungan jodoh dengan kemboja merah itu”, bantahku seketika.
“Hei, Kak Mai belum jera juga. Sekarang, apa hendak dikata ?”.
“Ini bukan soal kemboja itu, Mar. ini soal takdir. Tuhan punya takdir. Manusia punya nasib”. Aku tetap menolak tudingan Martuti.
Iyah tetap tegar dengan pendiriannya. Itulah sebabnya, dia tak pernah berusaha memusnahkan pohon kemboja baru yang ditanaminya itu. Dari hari ke hari, kemboja-kemboja merah itu bertunas. Kemudian berdahan. Dan dalam bilangan setahun saja, kemboja-kemboja itu berbunga. Merah jambu semua. Bukan main girangnya hati Iyah seketika menatap bunga-bunga kemboja merah itu.
Hampir setahun pula Iyah menamatkan SMA. Bagiku masalah jodoh gadis itu tetap saja sebagai suatu pertaruhan di antara takhyul dan kepastian. Rasanya aku sedang bertaruh dengan bayaran yang amat mahal. Andaikan Iyah senasib denganku kelak, berarti takhyul itu akan kuterima sebagai kebenaran. Bila tidak ? Mau rasanya kutanam lebih rapat lagi pohon-pohon kemboja baru di pekarangan rumahku.
Segalanya mulai terjawab ketika seorang anak pengusaha kaya datang melamar Iyah. Padahal bilangan usia kemboja merah yang ditanamnya belum mencapai dua tahun. Aku menyambut kedatangan Arifin, anak pengusaha itu. Dia berterus terang untuk menikahi Iyah walaupun dalam keterbatasan pengetahuannya tetantang diri Iyah sendiri.
“Jangan terlalu cepat percaya. Berkenalan dulu. Banyak ihwal yang perlu diketahui dari calon pasanganmu”, nasehatku pada Arifin begitu dia menggebu-gebu untuk mempersunting Iyah. Tampaknya Iyah pun pasrah menerima semua suratan nasib.
“Saya percaya pada kata nenek dulu. Carilah isterimu yang suka bunga. Hatinya lembut bak kelopaknya. Baunya harum terpancar pada kepribadiannya. Wajahnya cantik bagai moleknya warna-warna bunga yang bertebaran di setiap dahan”, ucap Arifin. Aku memuji kepandaian anak muda itu bermain kata.
Selang dua bulan, tampaknya Iyah pun tertarik pada Arifin. Pertemuan dua hati itu berujung pada peminangan. Emak dan ayah Arifin mendatangiku. Mereka menyampaikan hasrat yang besar untuk mengambil Iyah selaku menantu. Aku pun menerimanya dengan suka cita. Ada pesta perkawinan yang mengiringinya kemudian. Pesta itu ditaburi kembang kemboja merah. Iyah yang berkehendak begitu.
“Bunga kemboja merah adalah semangat kehidupan. Warnanya tak pernah pudar. Selalu teduh bagai hati perempuan yang sabar menerima nasibnya”, cetus Iyah padaku saat mereguk hari bahagianya. Aku tertegun. Tapi airmataku tak bisa mengalir. Tangis batinku terasa sudah berkepanjangan setiap helaan napasku sendiri. Tak seorang pun tahu.***
Pekanbaru, 1991