Cerpen Muhammad Rizal Ical: Dalam Dekapan Senja

130

DALAM DEKAPAN SENJA

Ketika ajal menjemput, berpindah dunia lalu barzakh menyambut. Tanpa kata sebarang patut melainkan tangis mengiringi duka berkabut. Naina sebak, menahan tangis menderas dan mata yang tertutup sembab berselaput. Jejak bertemu kemudian berpisah adalah ketentuan takdir Allah. Naina harus rela melepaskan kepergian Azzam seraya membisikkan syahadat menuntun kembara ruh melangkah menuju pemberhentian sementara.

Tinggallah jasad Azzam membangkai dan sekejap lagi keranda diusung khalayak ramai, bergema talqin zikir berderai mencium semerbak kamboja terbujur kaku bertanah lantai. Kini, aku sendiri dan kau juga sendiri bang Azzam, Naina membatin. Tiada harta dan  kaum kerabat menjadi sahabat. Hanya amal kebaikan menguntai kebat menunggu datang tanya malaikat teramat nyata dalam dinding bersekat. Aku tak lagi menemanimu.

Dalam dekapan temaram senja, Naina melepas Azzam pergi. Seketika kenangan memuja. Masa-masa indah pertama kali sah menjadi istri, berkurun lama. Tiga puluh tahun sudah. Meneroka makna, mengeja hikmah memberi arti: kematian adalah ketetapan sengaja.

“ Bang Azzam! Kemana burung elang keluit itu terbang? Sudah hampir sebulan ini setiap senja saya melihatnya menuju arah yang sama!” Naina bertanya sambil memandang sedikit menongak ke arah langit. Serombongan burung elang keluit menghitam di langit. Banyak sekali. Naina mengabadikannya dengan menekan tombol potret pada gawainya.

“Sekarang sedang musim kayu-kayu di hutan berbuah, biasanya elang keluit akan keluar pagi hari menuju hutan dan kembali ke sarang ketika waktu senja” Azzam memberikan penjelasan kepada Naina dengan senyum mengembang.

“Mengapa abang tersenyum?” Naina menjeling manja.

“Abang seperti melihat kehidupan seorang insan di balik cerita elang keluit pulang senja,”

“Cerita tentang apa, bang? Penasaran pula jadinya!” Naina memandang wajah teduh milik Azzam, suaminya.

“Elang keluit mengajarkan satu keadaan bahwa seberapa pun jauhnya sebuah kembara maka ketika sampai waktunya akan berlabuh kembali menuju sarang. Kehidupan insan juga seperti itu, setelah menempuh sedemikian jauh kelak apabila Allah memanggil akan kembali juga kepangkuan-Nya.” Wajah Azzam menyiratkan sesuatu.

Naina ingat kata-kata itu. Terngiang jelas suara lembut Azzam sambil membelai lembut kerudung Naina jelang azan magrib berkumandang.

“Begitu ya!, abang sayang?” Naina kini sadar, tangis menderas suara pun parau. Terjawab sudah keganjilan dari sikap Azzam selama beberapa bulan terakhir. Dia semakin bijak dan dewasa sekali. Seakan-akan hendak mengajarkan kepada Naina bahwa hidup adalah suratan takdir yang tak bisa dibantah dengan sepatah kata apapun. Hidup dan mati merupakan padanan kata yang tak bisa dielak selangkah pun.

Nyawa bukan milik badan: Sebatas pinjam, pergi perlahan ketika tiba waktu perpisahan tiada kuasa  mengelak ketentuan. Benar, Naina menerima takdir berlapang dada, tetapi sisi manusiawi membawa pada  kemaruk tangis, ketidakrelaan melepas kekasih hati permata jiwa. Selama mengarungi bahtera, berbingkai ibadah pahala cinta direnda, Azzam sangat pandai sebagai nakhoda mendayung bahtera dan membawa terdampar pada surga dunia.

“Apakah ada salahku kepadamu selama kita berumah tangga, Naina?” Azzam bertanya setelah tersadai mengarungi gelora asmara.

“Tidak ada sama sekali, bang! Naina bersyukur abang begitu bijak dalam bertindak. Paham menghargai seorang istri bahkan abang tak malu membantu pekerjaan rumah semisal mencuci piring sekalipun,” Naina memuja tulus.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

“Terima kasih, Naina! Jika ada kesalahanku padamu sekecil apapun itu, aku harapkan kau sudi memberi maaf supaya antara kita tidak ada sakit hati dalam berumah tangga.” Azzam mengecup kening Naina. Naina hanya diam menikmati keganjilan yang ditunjukkan oleh suaminya. Firasatnya berkata lain. Tetapi ditepiskannya agar tidak mengacau suasana.

Mereka memang tak lagi muda, kulit, wajah dan ringkih tubuh dalam dekapan senja kemilau, putih uban sinaran silau pertanda umur mendekat jangkau. Tetapi cinta mampu mematahkan usia.

“Naina mohon maaf juga kepada abang, 30 tahun menikah, Naina belum mampu memberikan zuriat kepada abang?” Naina menunduk muram. Rasa sedih muncul tiba-tiba.

“Jangan habiskan senja yang indah ini hanya untuk menyesali ketentuan takdir, Naina! Allah sudah mengatur segalanya. Tak semua keinginan harus wujud, mungkin Allah sedang menyiapkan kejutan untuk kita suatu hari kelak. Bukankah bunda Siti Sarah, istri nabi Ibrahim hamil ketika usia sudah menua senja?” lembut suara Azzam laksana memompa kembali semangat yang sempat kendur. Kalau sudah begitu Naina kembali rebah dibahu sang suami.

“Tunggu aku di barzakh, bang!” Naina menggumam lirih. Dia sadar sekejap lagi akan mengikuti perjalanan Azzam sebab usia senja rahasia terungkap. Hanya saja sebelum ajal berpantang mati. Membuat Naina berulang kali istighfar, memohon ampun kepada Tuhan.

Sulit membayangkan, Azzam tertimbun bertanah dalam, mendekap terperangkap  dalam sepi malam, cahaya redup menjelma kelam. Apakah di sana ada purnama meski temaram berpaut harapan menepis padam? Pikiran Naina menerawang sepi. Benar-benar sepi. Ada setitik rasa hilang cemburu melihat jangkrik datang mengusik dinding peraduan bertambah asik. Sejurus kemudian batinnya sakit terpekik.

Lamunan melayang, Akankah hadir pesona gemintang bersama pungguk merayu berdendang, gelegak bimbang takut menentang ketentuan yang Allah rancang.

Dalam galau yang berselirau, bisikan gaib datang menghimbau: Hindari diri perbuatan merugi, semasa hidup banyakkan berbagi derajat takwa tempat tertinggi berbuat kebaikan semua segi.

Naina bangkit menuju sumur belakang rumah. Menyapu seluruh muka dengan air, menunduk menyambut sentuhan wudhuk. Saat ini, Iman kokoh menjadi penyangga baik dan Naina teramat ingin memperbaiki amal, sebaik benar tabungan bekal dan selalu berbuat sesuai akal supaya salah tidak lagi mengganjal.

Naina tertunduk,  senja akan segera berakhir menutup siang selimut tabir. Dia benar-benar pasrah terhadap ketuan Allah yang mengajak Azzam menuju barzakh. Gelap menyelimuti alam dan selubung pikir tertuang dalam bingkai takdir. Perutnya mendadak mulas, kepala mendadak pening dan tanpa dipandu dia menuju jendela. Keluarlah muntah. Terasa mual sekali.

Dalam dekapan senja, Naina beranjak hampiri jendela melambai tangan kepada mentari dan makam Azzam yang setentang. Bersama senyum mengembang, Naina bertanya dalam hati, apakah zuriat itu kini bersemayam di rahimku? Dengan senyum teduh, Naina teringat Azzam yang sudah terkubur.

Bagaimana kabar bang Azzam di sana? Apakah Tahajud dan zikir panjang setiap malam mampu membuat barzah benderang dan menghalau sunyi”? Naina menutup jendela. Senja melenggang pergi bersama muntah yang kembali keluar dari mulutnya.

Kelapapati, 11 Safar 1443 H


  • Muhammad Rizal Ical, lahir di Desa Lukit-Kepulauan Meranti, 10 Juni 1980, Bekerja sebagai PNS di MAN 1 Plus Keterampilan Bengkalis dan Dosen Budaya Melayu di STAIN Bengkalis. Sudah setahun menulis syair di Tiras Times. Penggemar sastra Melayu klasik ini tinggal di Jl Kelapapati Laut Bengkalis

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:

redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan