Cerpen Muhammad Yusuf Azka

TAPAK MIMPI


Namaku Ahmad, aku terlahir dari keluarga sederhana. Bapak seorang petani dan ibu seorang penjahit keliling. Keseharianku pada saat masih kecil adalah membantu bapak di sawah setelah pulang sekolah. Di sawah aku biasanya membantu memisahkan beras dengan kulitnya, kadang aku juga bermain di tepian sawah besama teman-teman. Hobiku adalah belajar dan aku sangat  tertarik dengan permasalahan politik di negara tercinta ini. Aku menguasai beberapa bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Masa kecilku sangat bahagia di pagi hari ibu selalu menyuapkan nasi. Bapak di pagi hari langsung pergi ke sawah. Ibu  mengantar aku sekolah dengan sepeda ontelnya. pada saat aku pulang beliau menjemputku dengan kesusahan. Sampainya di rumah beliau membuka baju ku dan meyiapkan makan siang buat aku dan bapak. Bapak istirahat di rumah pada saat siang untuk makan terlebih dahulu. Setelah makan siang bapak kembali ke sawah untuk bekerja. Sore harinya aku bermain dengan kawan ku kami bermain permainan tradisional seperti takraw, petak umpet dan guli.

Aku adalah anak yang berprestasi di sekolah, aku sering menjuarai pelombaan-perlombaan yang ada mulai dari tingkat daerah, nasional, bahkan internasional. Pada saat aku tamat SMA aku memilih untuk mendaftar beasiswa yang diadakan oleh prusahan air bersih terbesar di Indonesia. Dalam tes beasiswa ini terdapat 3 tahap utama yaitu yang pertama tes tertulis ada sekitar 900 an peserta dari seluruh negeri. Aku lolos pada tes pertama hanya 10 orang yang diambil dari 900 an peserta tersebut. Test selanjutnya adalah tes psikologi dan aku lulus. dari 10 orang tersebut tersisa 5 yang akan melewati test wawancarara. Aku lulus dari 5 orang tersebut diambil 2 orang yang akan mendapatkan beasiswa ke Belanda.

Aku lolos bersama temanku yang bernama Mona. Setelah lolos dari rentetan test tersebut kami akan mendapat bimbingan untuk bisa Bahasa Belanda. Bimbingan tersebut akan berlangsung selama sepuluh bulan. Di bulan pertama sampai ketiga aku merasa sangat kesulitan, bulan keempat sampai bulan ketujuh aku mulai bisa, akhirnya aku bisa fasih berbicara bahasa Belanda pada bulan ke sembilan. Pada bulan kesepuluh kami akan melewati tes bahasa Belanda. Nilai  tidak terlalu tinggi, tapi memenuhi sarat untuk ikut seleksi.

Setelah mengikuti tes Bahasa Belanda tersebut kami siap untuk pergi ke Belanda. Pengurusan visa dan kelengkapan dokumen sudah di siapkan oleh penyedia beasiswa sehingga kami hanya tingal membawa pakaian dan perlengkapan pribadi untuk tinggal di Belanda. Akhirnya kami berangkat di Belanda. Sesampainya di Belanda kami haru mengikuti beberapa test lagi untuk menentukan kampus mana yang akan kami pilih.

Setelah mengikuti beberapa kali tes, alhamdulillah aku lolos kuliah S1 jurusan kedokteran. Kampus ku berada di kota Den Hagg. Nama kampusku adalah The Hague University of Appiled Science. Aku berkuliah di sini tiga setengah tahun. Akhirnya aku dan Mona berpisah karena Mona diterima di salah satu kampus di Amsterdam sementara aku berada di Den Hagg.

Aku bertemu keluarga angkatku Paman Abdullah, pada saat mengikuti salat Jumat di masjid Den hagg, mereka adalah keturunan Arab-Belanda. Aku sangat beruntung  bertemu keluarga ini karena mereka sangat perhatian kepadaku. Mereka sering mengajak makan malam  di rumahnya memang sederhana tetapi dapat mengobati rasa rindu dari hangatnya sebuah keluarga. Di Belanda aku mendapat banyak teman dan pengalaman. Tahun pertama bagiku sedikit sulit karena aku belum terbiasa dengan kultur yang ada di sini. Tidak ada masakan Indonesia jadi aku terpaksa makan makanan Eropa yang menurutku kurang rempah-rempah. Lidahku agak kurang cocok dengan makanan yang ada di Belanda. Untung saja aku memebawa mie instan dari Indonesia. Pada tahun kedua dan ketiga aku sudah terbiasa dengan kultur di sini. Aku sudah terbiasa dengan cuaca, makanan, dan tata karma disini. Dan akhirnya aku lulus kuliah S1 dengan predikat with Highest Praise.

Sekarang aku melanjutkan S2  berkuliah di Belanda, dan merupakan kampus terbaik di Eropa. Selain itu, aku juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai barista di sebuah café di timur Den Hagg. Dari pekerjaan ini aku dapat memenuhi kebutuhan selama hidup di Belanda. Aku sudah bekerja di café ini selama lima bulan, dan aku nyaman bekerja di sini. Saat itu aku melamar dan di terima bekerja disini dari 1200 lamaran yang ingin bekerja sebagai barista.

Pagi ini aku sedang berjalan menuju kampus. Aku membuka tas ku dan belajar, aku mengerjakan beberapa tugas yang diberi oleh dosen. Ada beberapa tugas statitiska dan lainnya. Sore pun tiba aku pergi ke tempatku bekerja, aku mendapat shift malam. Malam itu tidak sedikit tamu yang datang, aku melayani banyak sekali pesanan. Hampir tengah malam dan  hujan sangat deras saat itu, aku melihat seorang kakek tua memesan satu kopi dan aku pun melayaninya. Aku langsung mengantarkan kopi langung ke kakek itu.

“Hallo kek, Kakek kok sendirian datang ke sini malam-malam,” tanyaku dalam Bahasa Belanda.

“Aku sedang menunggu anak ku pulang dari luar kota akan tetapi dia masih belum sampai, padahal aku sudah menunggunya di terminal dari sore,”  jawab kakek dalam Bahasa Belanda.

“Ohhhh … begitu kek,” dalam Bahasa Belanda.

“Betapa besar kasih sayang kakek  ini kepada anak nya, di sisni aku belajar bahwa aku harus lebih menghargai bapak dan ibuku,” ucapku dalam hati.

Setelah mengobrol cukup panjang dengan si kakek aku segera pulang karena jam kerjaku sudah habis. Aku langsung menelfon orang tua ku di kampung dan menanyakan bagaimana kabar nya. Besok nya ku pergi ke ATM dan mentransfer uang hasil kerja sampingan ku untuk bapak dan  ibuku di kampung. Setelah dari ATM aku pergi ke kampus untuk mengikuti beberapa acara yang di adakan oleh kampus . Ada beberapa lomba seperti lomba basket antar jurusan, pertandingan sepakbola antar jurusan, pertandingan hockey antar jurusan, dan pertandingan tenis antar jurusan.

Aku masuk kedalam tim sepak bola di jurusan ku. Tim kami berhasil menjuarai fase grup dan sampai di final. Final ini sangat ketat dan akan dimulai besok. Pada akhirnya tim kami menjuarai pertandingan ini dengan skor akhir 2-1 kami sangat senang dan gembira. Di pertandingan basket dan tenis kami tidak mendapat juara sedangkan hockey kami mendapatkan juara 3.

Pada saat aku sedang berjalan pulang menuju rumah ku yang tidak jauh dari kampus ku aku mendapat kabar bahwa bapak ku sedang sakit. Sehingga aku segera kembali ke Indonesia sebelum kembali ke Indonesia aku meminta izin terlebih dulu ke dosen pembimbingku.  

“Pak apakah saya bisa izin kembali pulang ke Indonesia dalam beberapa hari dan mengundur  test untuk memperpanjang beasiswa saya?” tanyaku dalam Bahasa Belanda.

”Maaf kamu tidak bisa karena kamu harus menyelesaikan administrasi  kamu apa bila tidak diselesaikan maka beasiswamu akan kami cabut,” jawabnya dalam Bahasa Belanda.

“Lalu bagaimana cara saya untuk mempertahankan beasiswa ini pak,” tanyaku lagi dalam Bahasa Belanda.

“Kami minta maaf, tidak bisa membantumu,”jawabnya dalam Bahasa Belanda

Aku kecewa dan  berfikir keras bagaimana cara untuk mempertahankan beasiswa ini. Aku  pulang ke rumah dengan perasaan bingung mau kembali ke Indonesia dan merawat bapak ku yang sakit atau tetap di Belanda untuk mengurus beasiswaku. Karena beasiswa tersebut merupakan kunci buat aku kuliah di Belanda, jika tidak ada beasiswa aku tidak akan sanggup membayar kuliah ini. Aku pergi ke kantor PPI setempat di dekat kota Amsterdam untuk  mengurus beasiswa ini dan tidak ada hasil. Aku mencoba untuk mendapatkan beasiswa lain, mengikuti sejumlah tes  ada sekitar 25 tes aku lalui dan semuanya gagal.

Aku meminta bantuan kepada keluarga angkatku akan tetapi mereka tidak bisa membantu karena Paman Abdullah sedang menabung untuk lahiran anak ketiganya. Aku menelfon  Mona untuk meminta saran bagaimana cara mendapat beasiswa. Mona bilang aku bisa mencari ke beberapa kota yang ada di Belanda. Aku berpindah kota untuk mencari beasiswa dari Den hagg ke Amsterdam. Mencari beberapa agen yang bersedia untuk memberikanku beasiswa. Di Amsterdam aku gagal aku lanjut ke kota kota lainnya dengan menggunakan kereta yang ada. Aku pergi ke kota Rotterdam d Tilburg dan Breda tetapi tidak ada hasil sama sekali.

Aku kembali ke kota Den Hagg untuk beristirahat. Aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia akupun berhenti dari pekerjaanku. Aku memesan tiket pesawat dengan jadwal penerbangan besok pagi. Harga tiket nya lumayan mahal. Aku terpaksa menggunakan tabungan ku untuk berangkat pulang ke Indonesia

Malamnya aku memesan tiket pesawat. Pada malam itu juga aku menyiapkan barang- barang ku, aku seperti akan pindahan karena aku sudah pasrah akan meninggalkan Belanda selamanya. Aku tidur cukup larut karena harus mempacking barang-barangku. Di pagi harinya aku bangun kesiangan, aku langsung pergi ke bandara akan tetapi aku ketinggalan pesawat. Di saat itu aku merasa hancur, putus asa dan tidak tau mau melakukan apa-apa. Aku ingin sekali merawat bapak yang tengah sakit dan aku pun mencari cara bagaimana bisa pulang ke Indonesia.  Aku berjalan mengelilingi kota melihat apa yang bisa aku lakukan untuk kembali ke  Indonesia. Aku pun bertemu dengan kawanku yang sudah  bekerja lama di Belanda, kami bertemu di sebuah café, nama kawanku itu Habil.

Setelah kami berbincang cukup lama akhirnya aku menceritakan yang kualami kepada Habil.

“Bil, aku ingin izin untuk kembali ke Indonesia,” kataku.

“Kenapa kamu tiba tiba ingin kembali ke Indonesia?” Tanya Habil yang kebingungan.

“Karena kebetulan Bapak ku sedang sakit di rumah dan aku harus kembali dan merawat nya,”jawabku.

“Lalu bagaimana dengan beasiswa S2 mu Mad?” tanya Habil lagi.

“Aku terpaksa merelakan S2 ini,” jawabku dengan perasaan sedih.

“Terus kamu kapan mau kembali ke Indonesia?” tanya Habil.

“Rencananya pagi tadi akan tetapi aku ketinggalan pesawat,”jawabku dengan sedih.

“Wah yang benar Mad, kamu kok bisa seceroboh itu?”tanya Habil lagi.

“Iya Bil aku sangat menyesal dan aku tidak tau  mau melakukan apa lagi,”jawabku.

“Tabungan ku sudah habis dan aku hanya mempunyai sedikit uang”

“Apakah kamu ada solusi buat aku kembali ke Indonesia Bil?”tanyaku dengan penuh harapan.

“Sepertinya ada nih, tadi aku sebelum ke sini sudah memesan tiket ke Indonesia buat adekku, kamu pakai saja tiketnya,” jawab Habil dengan semangat.

“Apakah ini tidak apa-apa Bil? Aku tidak mau merepotkan mu?”tanya Habil.

“Tidak apa-apa Mad yang penting kamu bisa merawat bapak mu yang sedang sakit,” jawabku.

“Baiklah Bil, kalau boleh tau kapan jadwal ke berangkatannya?”tanyaku lagi.

“Menurut tiket yang kupesan jadwal keberangkatannya tiga hari lagi,”jawab Habil.

“Baik Bil,Terimakasih Bil, aku akan mengingat jasamu.” Aku mengatakannya dengan bahagia.

“Sama sama Mad.”

“Aku pulang dulu ya Mad karena mau siap siap untuk kerja,”Habil pun pamit.

“Oke Bil sekali lagi aku mengucapkan terimakasih.”

“Santai aja Mad, sama.”

Setelah dari café  aku pulang ke dorm ku lalu aku menelfon ibuku yang ada di kampong. Aku berkabar tentang rencana kepulanganku.

                Setelah aku menelfon ibu, aku tidur karena sudah malam. Satu hari sebelum keberangkatan dengan uang seadanya, aku membeli beberapa oleh-oleh khas Belanda. Aku membelikan ibu  beberapa cemilan, karena itu yang bisa kubeli dengan uang yang ada. Aku tidak lupa berpamitan dengan teman-teman, keluarga angkatku selama di Belanda dan aku berpamitan ke dosenku.

Aku pulang ke dorm ku untuk bersiap siap kembali ke Indonesia. Aku menyiapkan koper dan beberapa barang yang akan kubawa ke Indonesia. Malamnya aku bertemu lagi dengan Habil dan berterimakasih dan aku mengatakan kepada Habil jika akau punya uang nanti aku akan mengganti semua uangmu dan mengirimmu beberapa makanan khas daerahku sebagai wujud terimkasihku kepadamu.

Hari keberangkatan pun tiba. Aku berangkat  ke Bandara Rotterdam-Den hagg yang lumayan jauh dari area dorm. Aku menggunakan jasa taksi pada saat menuju bandara. Di bandara pesawat delay karena cuaca buruk yang melanda Eropa. Badai mengakibatkan seluruh penerbangan yang ada di Belanda tutup. Aku terpaksa menginap di bandara, aku berkeliling bandara ada beberapa permainan di bandara untuk menghibur para penumpang yang tidak dapat menuju tujuannya karena tidak ada penerbangan yang berjalan. Aku mendapat kabar bahwa tidak aka nada penerbangan selama tiga hari penuh. Banyak orang yang mimilih membatalkan tiket pesawat dan mengambil uangnya kembali. Akan tetapi aku tetap menunggu. Sudah tiga hari berlalu dan belum ada penerbangan yang berjalan. Aku sudah menginap dua malam di bandara, aku bertanya ke pusat informasi.

“Permisi bu, kapan penerbangan akan berjalan seperti biasanya?” Tanya ku dalam Bahasa Belanda.

“Maaf pak waktu pastinya kami belum bisa memastikan karena cuaca masih buruk dan akan datang badai susulan pak,”jawab seseorang dari pusat informasi.

“Baik buksaya akan menunggu,”kataku dengan letih.

Sudah satu minggu aku di bandara dan akhirnya penerbangan kambali seperti normal. Akhirnya aku terbang menuju Indonesia. Sebelum sampai di Indonesia aku transit terlebih dahulu di Doha Qatar. Sampai di bandara Doha aku dicegat oleh beberapa sekuriti karena di curigai sebagai penyusup pada penerbangan Belanda – Qatar. Aku diinterogasi oleh beberapa polisi Qatar. Aku di interogasi sekitar tujuh jam tanpa dikasih makan dan minum. Ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan kepadaku seperti asal mu, ngapain dari Belanda pergi ke Qatar, dan apakah aku adalah penyelundup barang antik dari Belanda, karena ada diberitakan bahwa di Belanda terjadi pencurian vas antik dari tahun 1878. Pencurinya berada di pesawat kami sehingga seluruh penumpang dan awak kabin diinterogasi. Setelah tujuh jam aku harus menunggu sekitar empat jam lagi baru bisa terbang ke Indonesia.

Akhirnya aku bisa berangkat menuju Indonesia setelah melewati masalah yang cukup banyak dan  panjang. Perjalanan dari Bandar Udara International Qatar menuju Bandar Udara internasional Soekarno Hatta sekitar delapan jam. Sesampainya di Jakarta aku naik bus menuju pelabuhan di Lampung. Aku naik kapal sekitar tiga jam dan melanjutkan perjalanan menuju Sumatera Barat pejalanan ini memakan waktu semalaman. Perjalanan yang sangat melelahkan dan panjang. Pada akhirnya aku sampai di kampung. Aku beristirahat selama sehari dan membawa bapak ke rumah sakit.

Aku membawa bapak ke Puskesmas menggunakan motor butut yang ada di rumah. Sesampainya di Puskesmas aku langsung mendaftarkan bapak. Kondisi bapak semakin memburuk, akhirnya bapak dirujuk ke rumah sakit yang memiliki peralatan yang lebih lengkap. Di rumah sakit bapak tidak mendapatkan kamar karera kondisi rumah sakit yang penuh.  Bapakku di rawat di IGD karena kamar yang penuh. Sekitar dua malam, bapak di IGD dan belum mendapat kamar. Kondisi bapak ku semakin memburuk pasokan oksigennya menurun sehingga membutuhkan alat bantu pernafasan. Bapak terserang stroke dan TBC karena sering merokok. Sudah 7 hari beliau di rawat tetapi belum ada kemajuan dari kondisi nya. selama bapak dirawat kami harus meminjam duit untuk membayar berobat Bapak ku. Pengobatan bapak tidak ditanggung oleh BPJS karena nama orang tuaku belum terdaftar di BPJS. Selama bapak dirawat kami mengeluarkan uang yang tidak sedikit sudah banyak sawah yang dijual. Kami mendapat bantuan dari keluarga yang lain karena simpati dari keluarga. Tidak hanya keluarga kami mendapat bantuan dari tetangga sekitar.

Kondisi bapak masih belum membaik. Beliau koma dan tidak bisa berkomunikasi dengan ku. Ibu sangat sedih mendengar kabar bapak koma. Beliau bekerja mati-matian untuk membiayai pengobatan bapak.

Pada akhirnya bapak tidak dapat melawan penyakitnya, beliau meninggal.hal ini di sebabkan oleh kondisi paru paru nya yang semakin parah. Aku  menagis sejadi-jadinya, aku menyesal karena tidak bisa pulang secepatnya dari Belanda dulu. Aku merasa tidak berguna karena tidak bisa merawat bapak. Aku belum siap untuk ditinggal oleh bapak. Ibu menangis dan sangat sedih, keluargaku berdatangan. Aku memandikan jenazah bapak dan  menjadi imam pada saat salat jenazah. Air mata ku selalu mengalir bagai anak menjadi anak sungai. Momen yang paling menyedihkan bagi ku adlaah mengazan kan jenazah bapakku pada saat akan dimakamkan. Setelah prosesi pemakaman selesai, aku pergi ke masjid dan berdoa agar seluruh amal ibadah nya di terima oleh Allah SWT. Aku berdoa sambil menangis, lalu aku di datangi oleh seorang ustadz yang akan melaksanakan salat sunah.

“Dek kenapa kamu bersedih?”tanya ustadz tersebut

“Bapakku baru saja meninggal pak, dan saya belum bisa mengiklaskannya,” jawabku.

“Itu wajar dek, kita harus bisa mengiklaskannya karena seluruh mahkluk di muka bumi ini akan kembali kesisi yang maha kuasa.”

“Kalau boleh tau bapaknya meinggal kenapa ya?”tanya pak ustadz lagi.

“Bapak saya meninggal karena beberapa penyakit yang telah dideritanya nya pak seperti kerusakan paru paru dan stroke pak,”jawabku.

“Yang sabar ya dek setiap kejadian pasti ada hikmahnya.”

            Setelah mendengar nasihat dari ustadz tadi aku pulang dan membersihkan rumah untuk acara yasinan malam ini. Setelah acara yasinan aku membersihkan rumah dan beristirahat. Malam itu terasa sepi tidak ada lagi suara bapak yang biasa memanggilku untuk memijit kaki nya. Sudah satu minggu berlalu hari-hariku sudah seperti biasanya. Aku membantu ibuku berjualan sarapan pagi.

Setahun berlalu aku mendapat info beasiswa S2 di Belanda lagi dan aku mengikutinya. Tesnya seperti dulu lagi terbagi menjadi 3 tahap yaitu test 1 adalah tes tertulis dan aku lolos, tes 2 yaitu tes psikologi dan aku lolos, tes 3 adalah tes wawancara dan aku lolos. Dari 1000 an peserta aku lolos. Aku berangkat ke Belanda bertemu Habil dan temanku yang ada di Belanda. Aku lulus di kampus yang sama dan di jurusan yang sama. Aku tinggal di dorm yang sama dan kembali bekerja di café yang sama. Aku bertemu Mona dan bercerita tentang yang ku alami. Aku kembali menjalin hubungan silaturahmi dengan Paman Abdullah. Aku masih bisa mengikuti pelajaran yang ada di kampus.

Akhirnya aku bisa lulus S2 dan aku mengajak ibu datang ke wisudaku. Ibuku sangat senang dan bangga, aku juga ikut senang semoga bapak juga ikut senang di alam sana.


Muhammad Yusuf Azka, siswa SMPS  Cendana Mandau.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan