Hamri Manoppo: 18 Jam dalam Perjalanan Demi Memburu Sastra Gunung Bintan

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Puisi Riami

Pekanbaru-Tirastimes:

Di atas laut nan biru
kata-kata kusemai dalam bunyi yang gemuruh
ia mengembara ke mana saja
berburu makna

….

Penggalan puisi berjudul ‘Laut dan Kembara Kata-kata’ yang ditulis penyair Hamri Manoppo benar-benar menggambarkan watak petualangannya. Bayangkan, demi memburu hasrat bersastra yang sejak dulu tertanam dalam dirinya, Hamri rela bersusah payah melakukan perjalanan jauh dari kampung halamannya, Kotamobagu (Sulut) lewat Jakarta hingga mencapai Pulau Bintan(Kepri).

Sekitar 18 jam ditempuhnya mulai naik mobil, naik pesawat, menunggu transit barulah tiba di Tanjungpinang, tempat helat sastra Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) Tahun 2022 yang berlangsung sejak 24-27 September. Tentu perjalanan pulang ke kampung halamannya bakal menghabiskan waktu selama itu pula. Belum lagi, untuk membiayai perjalanan jauhnya itu, Hamri harus merogoh kantong mencapai sepuluh juta rupiah lebih.

“Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada sekitar 400 sastrawan dari seluruh Indonesia yang menghadiri FSIGB Tahun 2022 ini. Salah satu peserta yang datang paling jauh adalah Pak Hamri Manoppo yang menghabiskan waktu perjalanan sekitar 18 jam” ucap Datuk Seri Rida K. Liamsi, penanggungjawab acara FSIGB saat menyampaikan alu-aluan selamat datang pada peserta di Kafe Sekanak, 24 September malam. Gubernur Kepri, H. Anshar Ahmad juga hadir di acara tersebut bersama sejumlah pejabat di antaranya Kadisbud Kepri, Kajari Tanjungpinang dan lain-lain. Hadir juga Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri dan penyair ternama Indonesia lainnya.

Hamri Manoppo saat didaulat tampil membacakan puisi menyatakan rasa bahagianya dapat menghadiri langsung FSIGB kali ini.

“Sejak FSIGB pertama hingga sekarang yang kelima, puisi-puisi saya lolos kurasi. Tapi waktu itu ada saja halangannya untuk hadir. Tahun ini saya sengaja mempersiapkan diri untuk hadir. Kedatangan saya ke Bintan ini seolah-olah saya berada di Tanah Melayu seolah-oleh jadi kampung nenek moyang saya. Banyak persamaan nilai budaya Kotamobagu dengan Melayu di sini,” kata lelaki yang berusia 64 tahun ini.

Hamri Manoppo sudah bersastra sejak lama. Awalnya jadi guru kemudian dipercaya menduduki kursi birokrasi di Kabupaten Kotamobagu. Dia pernah menjadi Kadis Kebudayaan, Kadis Sosial dan Kadis Pendidikan. Setelah memasuki masa pensiun, Hamri merasa menemukan kebebasan baru dalam berkarya termasuk bepergian.

“Bila ada iven sastra di negara serumpun Melayu, Malaysia atau Singapura, undanglah saya. Saya insyaallah akan hadir,” ucapnya bersemangat disambut tepuk tangan peserta FSIGB.

Kini, Hamri yang menamatkan S2 Bahasa Indonesia menjadi dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di sejumlah perguruan tinggi dan sekolah. Hamri bertekad akan lebih aktif lagi menulis sastra karena waktu luangnya semakin terbentang.

Sebelumnya, Hamri sudah menerbitkan sejumlah buku puisi yakni ‘Seratys Puisi hingga ke Tanah Suci’ (2010), ‘Percakapan dengan Ombak’ (2009), dan Elegi Kampus Bata Merah (2003).

Hamri memili tiga anak yang sudah dewasa. Namun, tak seorang pun di antara anak-anaknya yang mewarisi bakat bersastra. “Mereka memilih jalan hidupnya masing-masing sesuai bidang yang diminati diantaranya pertanian dan teknik,” tutur lelaki berpembawaan tenang ini. (nas).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan