Puisi-puisi Ardhi Ridwansyah – Bualan Perindu

Pengasuh : Bambang Kariyawan Ys

TANDUS HARAPAN

Terik ganas mentari,
Mendekap tubuh yang risau,
Mengais kasih di lahan tandus,
Tanpa kisah yang rimbun,
Sepi meringkuk pada dada nan rapuh.

Memupuk air mata, menyemai cinta,
Dan merapal doa-doa agar cuaca,
Lekas manuai secercah harap dari seorang perindu,
Yang terkapar lemah dengan mata lunglai,
Berharap hujan bercumbu tanah dan tarian jiwa,
Melengkapi deritanya.
Jakarta, 2021.

TERSIKSA

Rasakan neraka,
Hadir dalam tawa membawa luka.
Para kerangka tergeletak dengan mulut menganga,
Entah dosa atau cinta penuh dusta tak sempat terungkap,
Atau hanya kata tanpa makna yang ditebar,
Dalam setiap diri seorang penindas!

Gejolak api membakar tubuh,
Hingga memanggang,
Tulang dan otot yang layu.
Membasuh luka dengan nanah,
Yang mengucur bersama amis darah,
Derita yang paling parah, hati telah sekarat!
Jakarta, 2021

SENJA MEMBUSUK

Senja akan membusuk,
Saat ragamu pergi tepat
Kala mentari pamit sinari bumi.

Sudah kita bunuh secangkir kopi,
Yang berisi kisah dan kasih,
Dan juga cinta yang selama ini,
Tertata dengan rapi.

Tatap kursi yang kau tempati,
Seolah berkata tetap tegar meski hati,
Kini telah patah dan terserak di dasar jiwa,

Namun kutengok senja juga mati,
Tiada indah yang kuharap,
Gundah datang menikam rasa,
Menanti senja esok mati kembali.
Jakarta, 2021

SEBUAH CATATAN MALAM

Sudah tertulis semua tawa,
Dalam catatan lusuh dan kering,
Dari segala senyum yang merindu,
Pada secangkir kopi penebar candu.

Lihat malam ini, ia berbaur,
Segenap mimpi tak terkendali,
Memecah sunyi dengan janji,
Yang sembunyi di setiap belai jemari,
Kala lembut ia menyapa rambut.

Telah tercatat tiap air mata,
Yang tetes di secarik kertas gersang,
Tanpa diksi yang menawan hati,
Hanya raga yang mati.

Matanya adalah mentari pagi,
Siap menerkam gigil yang galak,
Di tengah gulita ia meneror,
Tubuhnya layu dan ringkih,
Apa ia akan mati?

Sedang kertas itu telah kusut,
Tawa dan tangis meranggas,
Kata-kata jatuh ke lantai,
Terserak benci dan iri,
Menikam makna diri,
Hidup tak berarti.
Jakarta, 2021

BUALAN PERINDU

Ke mana damai yang kau cari?
Ke sini dan tatap mataku,
Ada surga yang menawarkan,
Sejuta kisah tentang hati yang tertata,
Tentang jiwa yang geloranya,
Getarkan rasa.

Di dalam dadaku ada rindu,
Yang menebal kala parasmu,
Melintas dalam ingatan,
Bagai angina ia begitu saja angkat kaki,
Tak mengucap salam namun berkesan.

Tapi dalam rongga mulutku,
Ada neraka, sayang.
Tempat jerit dan rintih,
Terkapar dan tersiksa,
Ada darah dan nanah,
Tiada tawa yang ada lara.

Di situlah aku terjatuh!
Memeluk segala nestapa sebagai kekasih,
Meringis, menangis, dan menikmati derita,
Sampai sakit jadi bagian dari canduku selamanya.
Jakarta, 2021

BIODATA
Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com, nusantaranews.co, pucukmera.id, ibtimes.id., dan cerano.id. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga dimuat di media seperti kawaca.com, catatanpringadi.com, apajake.id, mbludus.com, kamianakpantai.com, literasikalbar, ruangtelisik, sudutkantin.com, cakradunia.co, marewai, metafor.id, scientia.id, LPM Pendapa, metamorfosa.co, morfobiru.com, Majalah Kuntum, Radar Cirebon, Radar Malang, koran Minggu Pagi, Harian Bhirawa, Dinamika News, Harian SIB dan Harian BMR FOX. Penulis buku antologi puisi tunggal Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam. Salah satu penyair terpilih dalam “Sayembara Manuskrip Puisi: Siapakah Jakarta”. E-Mail: ardhir81@gmail.com, Instagram: @ardhigidaw, FB: Ardhi Ridwansyah

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan