

Ternyata kami sama-sama pernah punya mimpi ke Bosphorus. Perairan biru yang membelah Kota Istanbul itu, beberapa tahun lalu. Namun, semuanya menjadi air hujan yang mengalir. Melesap ke sungai-sungai, hilang. Cita-cita di kepalaku dan kepalanya sama-sama hilang. Pertemuan yang abstrak, aku tak pernah sekalipun menatap wajah aslinya. Dua puluh empat purnama kuhabiskan di layar ponsel membaca kisah-kisahnya, tertawa seperti penonton lawakan setiap malam. Entah serupa apa suaranya, ia bahkan tak pernah mengizinkan aku membuat panggilan telepon.
Dia seperti misteri, tetapi ada di kepala dan mataku setiap hari. Han, dia seperti gunung-gunung yang hendak ia taklukkan. Dingin, terjal, tinggi, dan seolah tak mungkin. Lelaki itu punya cita-cita aneh, menaklukkan gunung-gunung di Indonesia ini. Gila! Ngapain kan? Han, dia tak pernah berhenti berpikir tentang gunung. Entah apa yang hendak ia taklukkan di atas puncak. Katanya, ia sudah patah hati dengan Jakarta. Kota yang membuat ia memahami kehidupan yang sebenarnya ada pada kesunyian.
“Ngapain kamu ke puncak? Patah hati?”
Han tertawa. Bicaranya tetap rahasia, satu persatu saja. Aku tak mengenal apapun tentang dirinya kecuali gunung. Sunyi, dingin, dan kadang bicara dengan penuh badai rasa yang sulit diungkapkan. Dia menjadi hari-hariku. Pagi, siang, malam, aku melihat layar. Lagi-lagi hanya gunung yang kulihat di matanya.
“Han, kamu tampan. Tapi kamu aneh.”
Aku memberanikan diri. Dia diam, bicaranya menjadi beku. Aku takut. Kukira dia akan marah. Esok harinya ternyata dia tetap datang dengan senyum khasnya. Aku menjadi aneh dengan diriku sendiri. Han, kenapa tiba-tiba dia seperti menari-nari di jiwaku, pikiranku, hatiku. Ada yang tak wajar. Aku memaksa dia untuk bercerita tentang dirinya, tetapi seperti biasa ia menghilang dari layar chat. Ia semakin misteri di kepalaku.
“Kamu siapa, Han?”
Aku menutup mataku. Wajah itu berputar-putar begitu saja. Aku coba berpikir waras. Mungkin aku sudah jatuh cinta pada lelaki itu. Wajahnya tampan dengan bicara yang menyenangkan. Dia sopan dan ramah. Aku melihat di dalam tasnya terselip mushaf kecil dan pakaian yang selalu rapi melekat di tubuhnya. Benar-benar lelaki baik seperti yang kuimpikan. Ya, barangkali aku benar-benar telah jatuh cinta pada Han. Aku meyakinkan diriku lebih lama.
****
“Han, bagaimana kalau tiba-tiba aku jatuh cinta ke kamu?”
“Jika kau mencintaiku, cintailah hujan di pegunungan. Kau akan tahu dinginnya, bekunya, pedihnya, sampai kau menghilang.”
“Han, kamu ngomong apa sih?”
“Bagaimana caramu mencintai hujan di pegunungan itu?”
“Aku akan menuliskanmu.”
Han tersenyum. Indah sekali. Aku terpana cukup lama, hingga ia menghilang di layar kaca. Aku memenuhi janjiku untuk cintaku. Seminggu aku menghilang. Seperti yang kujanjikan, aku sedang mempersiapkan cerita untuk dirinya. Cerita tentang aku jatuh cinta pada hujan dan pegunungan. Aku mencintai Han, maka aku harus mencintai hujan dan gunung. Aku menulis setiap diksi hati-hati. Hadiah terindah untuk Han yang istimewa. Sengaja aku tak pernah menghubungi Han lagi. Aku ingin membuat kejutan di akhir pekan. Begitu inginnya aku menuliskan cerita tentang gunung dengan sangat indah dan detail. Sampai aku mencoba bertemu dengan Royana. Perempuan tangguh pendaki gunung yang juga sahabatku.
“Tumben kamu nulis tentang gunung?” Royana memandangku sambil matanya tak berkedip menatap layar laptop di depanku.
“Kamu kenal Han ya, Zie?”
“Loh, kamu kenal Han juga, Roy?”
“Kamu dapat foto Han dari mana? Ngapain nulis tentang Han?”
“Dari dia, dia kirimin aku fotonya. Kenapa?”
“Han ngirimin kamu foto?”
“Iya, dia setiap hari kok menghubungi aku.”
“Zie, dia pendaki legendaris yang udah meninggal sepuluh tahun lalu. Dia kecelakaan di gunung karena cuaca hujan yang buruk.”
Aku memegang kepalaku. Terasa sakit dan berdenyut-denyut. Aku ingin mengatakan Royana bohong dan pendusta. Sebab Han masih ada di ponselku. Ya, dia kembali menghubungiku. Kali ini dia sepertinya akan menelponku. Namun, Royna memelukku dan menarik ponsel dari tanganku. Ia mamasukkan bungkusan biru berisi obat menjijikkan itu. Royana, kamu jahat!
TAMAT