Ibu: Puisi Fedli Azis

146

Sebelum katup mata sendumu, biar ku kecup keningmu. Agar aku senantiasa ada dalam tidurmu yang beku. Barangkali di mimpimu itu aku ada di sisimu. Menopang dan memapah beban yang kau pikul berabad-abad lamanya.

Aku anakmu yang gelora. Mengais ampas-ampas di setiap lekuk tubuhmu yang dicabik-cabik kemalangan. Aku tak sudah-sudah mengutip perihmu dan memeluknya hingga saat ini. Suatu masa, aku ingin menata puing-puing itu dan memajangnya di jiwaku yang membara.

Tulisan Terkait

Aku masih menyusuri lebuhraya lebammu. Memilah-milih keping sejarah yang tabayak dipucuk-pucuk bukit, lurah, lembah, rimba, semaksamun. Lalu melompat ke sungai, berenang ke muara menuju laut yang senantiasa menawar sunyi untuk kembali ke rumah kehangatan bibir pantai. Aku yang dibakar hamuk ingin menyulapnya jadi semesta baru. Mengulang gempita kuno dengan semangat zaman yang melaju tak tentu tuju.

Ibu, aku anakmu takkan sudi dikalahkan karena kau tak pernah meninabobokan ku dengan hikayat luka, koba nestapa, lalak keluh-kesah, syair ratap, erang nyanyi panjang, juga sijobang dendam.

Ibu, aku anak zaman yang kau belai dan susui penuh kasih. Maka akan kucintai hidup dan nestapa warisanmu itu dengan keriangan. Biar patah pekiklolong, biar binasa segala kemungkaran duniawi di kakimu yang lunglai …

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan